Rabu, 04 Oktober 2017

Philips Lighting & UNICEF Berbagi untuk Anak Negeri




Generasi penerus bangsa ini sudah semestinya memperoleh  pendidikan yang layak. Tak hanya dimonopoli sekelompok orang. Ke mana arah dan tujuan pendidikan nasional yang sudah dicanang bertahun-tahun lalu?  Apakah hanya sebatas simbolisasi agar terlihat “ada” saja?

Lihatlah semangat mereka [Foto: Dok http://www.fuelrunning.com]
Seperti laporan Education Public Expenditure Review, dalam rilis Bank Dunia di 2013 mengatakan, bahwa anggaran fungsi pendidikan Indonesia sebesar 20% dari APBN belum efektif meningkatakan kualitas pendidikan tanah air. 

Akan tetapi, ada hal baik terjadi peningkatan belanja publik untuk bidang pendidikan yang sudah memperluas akses pendidikan dan meningkatkan angka partisipasi sekolah di kalangan siswa miskin, meski hal itu hanya berlansung di pendidikan dasar, seperti SD dan SMP.

Pada amandemen Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 , ada muncul amandemen ke-4, yaitu:
(4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Bagaimana anggaran pendidikan dapat mengkover semua anak-anak di Indonesia? Sementara, banyak dari mereka putus sekolah dan keberlanjutan mereka untuk mengenyam pendidikan mesti berjalan.

Ya, benturan ekonomi menjadi salah satu pemicu banyaknya anak-anak Indonesia yang putus sekolah. Orang tua yang tak mampu menyekolahkan  anak-anaknya minimal batas sekolah menengah atas. Ekonomi keluarga yang tak menentu itu tadi menjadi “penghambat” jalannya anak-anak Indonesia yang ingin maju.

Tingkat pendapatan rendah sebagai momok orang tua yang akhirnya mengharuskan anak-anak mereka putus sekolah. Lantas bekerja membantu orang tuanya, baik di sawah, kebun, menjadi buruh pabrik, bahkan semir  sepatu, dan ngamen di jalan.

Miris memang, anak-anak di usianya yang mestinya sekolah, mengenyam pendidikan, bermain, dan bersenda gurau. Justru terpaksa bekerja sedari muda, membanting tulang, demi keluarga, hingga harus putus sekolah.
Upaya-upaya yang dilakukan beragam pihak pun telah dilakukan untuk mengurangi beban biaya pendidikan yang makin membludak. Tetapi, memang sedikit yang masih berhasil untuk dientaskan.

Anak-anak yang putus sekolah masih banyak di beberapa daerah, sebut saja Brebes, Mamuju, dan Bondowoso. Peran pemerintah daerah mungkin juga tak bisa diabaikan begitu saja. Bisa jadi, telah berusaha semaksimal mungkin membantu biaya anak-anak yang putus sekolah, tetapi belum tercapai kata maksimal.

Melalui Philips LightingLighting, Philip mengajak seluruh konsumennya mendukung program UNICEF “Kembali ke Sekolah” Melalui Kampanye Terangi Masa Depan. Bertempat di Avec Moi, Jalan Teluk Betung, pada Selasa (2/10/2017) Philips Lightingdan Unicef berbagi untuk anak-anak negeri putus sekolah untuk kembali ke sekolah.

Penandatanganan Kerjasama Philips Lighting & UNICEF [Foto: DokPri]
Ini menjadi satu terobosan lagi untuk Philips Lightingdalam mendukung program yang dibuat UNICEF untuk anak-anak bangsa di daerah yang putus sekolah. Sudah selayaknya, anak-anak Indonesia yang putus sekolah kembali dapat bersekolah.

Pendidikan itu menjadi investasi masa depan yang tak akan pernah habis dan lekang di makan zaman. Kecuali jika kita sudah meninggalkan dunia. Selesai tugas kita sampai di sini. Pendidikan menjadi motor penggerak kemajuan bangsa. 
Terbangunnya jalinan kerjasama Philips Lighting & UNICEF [Foto: DokPri]
Saya meyakini, bahwa anak-anak Indonesia sebagai anak-anak yang cerdas dan bertalenta. Hanya saja, kendala keuangan keluarga menjadi penghalang mereka mengenyam pendidikan lebih tinggi dan jauh ke depan menggapai harapan.

Tak bisa dipungkiri, dana-dana pendidikan di Indonesia terkadang tak tersalurkan  secara merata hingga pelosok nusantara. Di satu sisi, pemerintah menganggarkan 20% dibilang cukup, mesti dicukup-cukupkan. Jadi, terkadang timbul dalam pikiran saya, apakah hanya orang-orang kaya yang bisa bersekolah tinggi?

Bagaimana dengan nasib anak-anak yang orang tua mereka masuk dalam kelas bawah? Jangankan untuk sekolah, untuk kebutuhan sehari-hari masih harus banting tulang dari pagi hingga petang. Di sinilah dapat terlihat. Mereka yang putus sekolah sebenarnya anak-anak cerdas dan pintar. Karena kebutuhan primer keluarga yang tak mencukupi, maka salah satu ada  yang dikorbankan.

Menilik hal inilah, Philips LightingLighting  dan UNICEF maju untuk menghalau anak-anak negeri yang putus sekolah untuk dapat kembali ke sekolah. Philips LightingLighting berusaha mengumpulkan dana dari hasil penjualan paket Philips LightingLED khusus dengan logo UNICEF mulai Oktober 2017 hingga Maret 2018.

Beli 3 gratis 1 membantu untuk membantu anak negeri [Foto: DokPri]
Target yang ingin dicapai sekitar dua miliar rupiah dana dapat dikumpulkan. Uang tersebut nantinya akan digunakan untuk meneruskan pendanaan program UNICEF “Kembali ke Sekolah” yang berada di Kabupaten Brebes (Jawa Tengah), Mamuju (Sulawesi Barat), dan diperluas ke Bone dan Takalar (Sulawesi Selatan). Hal ini untuk membantu lebih kurang lima ribu anak usia sekolah mendaftar ulang atau mendaftar pertama kalinya untuk tetap dapat bersekolah.

Dipilihnya kabupaten Brebes dan Mamuju bukan tanpa alasan. Di Brebes, angka anak putus sekolah sangat tinggi. Rata-rata, anak-anak yang putus sekolah tersebut membantu orang tuanya bekerja. Dari mereka ada yang menjadi petani, berkebun, penarik becak, bahkan nelayan. Pun di Mamuju. 

Lauren Rumble, Deputy Representative UNICEF Indonesia [Foto: DokPri]
“Ternyata, ada sekitar 4,6 juta lebih anak Indonesia tidak punya kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Philips LightingLighting program “Kembali ke Sekolah” akan membantu UNICEF untuk menyediakan akses pendidikan berkualitas kepada anak-anak, nantinya akan meningkatkan peluang mereka terbebas dari kemiskinan, mendapat pekerjaan, sehat, dan berpartisipasi penuh kepada masyarakat untuk masa depan. Sektor swasta dapat membuat  perubahan nyata dalam kehidupan anak-anak” ucap Lauren Rumble, selaku Deputy Representatitve UNICEF Indonesia.

Memasuki millennium ketiga, sudah seharusnya pendidikan di Negara ini menjadi semakin baik, bukannya mundur. Dengan banyaknya anak-anak putus sekolah, justru dapat menjadi indikasi adanya kemunduran pendidikan di tanah air. 

Indonesia mesti mampu bersaing dengan negara-negara lain. Indonesia tidak berdiri sendiri, tetapi ada di tengah-tengah Negara lain yang siap menerkam jika tidak waspada terhadap sumber daya manusianya. 

Ya, tantangan dalam dunia pendidikan bukan tantangan satu dua pihak saja, tetapi banyak pihak. Dengan melakukan kerjasama, justru akan dapat menjembatani perbedaan yang terjadi. Kolaborasi lintas sector antara Philips Lighting dan UNICEF menjadi bukti nyata komitmen Philips Lighting untuk mendukung pendidikan di Indonesia.

Komitmen Philips Lighting untuk mengumpulkan dana dua miliar, dua kali lipat komitmennya pada tahun sebelumnya, dengan menyisihkan dua ribu rupiah dari penjualan setiap paket khusus lampu LED, “Beli 3 gratis 1” dengan tanda UNICEF.

Kontribusi besar Philips Lighting dalam program UNICEF untuk membantu anak-anak usia sekolah yang belum atau putus sekolah dapat kembali menikmati sekolah. Bermitra dengan UNICEF menjadi satu bagian penting dalam memajukan pendidikan anak-anak tersebut.

Rami Hajjar, Country Leader Philips Lighting Indonesia [Foto: DokPri]
Rami Hajjar selaku Country Leader Philips Lighting Indonesia pun menuturkan, “Di Philips Lighting, kami percaya dapat meningkatkan  kesejahteraan masyarakat  melalui inovasi dan kontribusi sosial kami kepada masyarakat. Tantangan pendidikan yang dihadapi anak-anak Indonesia menjadi tanggung jawab semua. Kerjasama lintas sektoral, seperti kemitraan kami dengan UNICEF, akan memastikan bahwa Philips Lighting Indonesia tetap berkomitmen untuk mendukung pendidikan di Indonesia.”

Ya, siapapun itu, tentunya punya harapan besar untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Philips pun berharap, dengan kemitraan bersama UNICEF dapat menjadi inspirasi untuk konsumennya, tidak hanya melalui produk-produk Philips LED saja, tetapi dapat mendorong konsumen untuk berbagi demi kehidupan yang lebih cerah dan dunia yang lebih baik.

Mau dibawa ke mana pendidikan Negara ini? Tak dapat dipungkiri, bahwa pendidikan menjadi tiang utama  untuk menghasilkan sumber daya manusia yang utuh dan menyeluruh. Itu utamanya untuk pembangunan bangsa ini.

Teman-teman, ayo kita sekolah. Semngaaat!!! [Foto: Dok https://image1.masterfile.com]





1 komentar:

Zeny Sharma mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.