Wednesday, April 25, 2018

Hari Malaria Sedunia 2018: Indonesia Menuju Eliminasi Malaria 2030


 
Malaria, penyakit  yang bisa disembuhkan [Foto: Dok http://www.manualdomundo.com.br]
Apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata Malaria? Takut? Bergidik? Atau biasa-biasa saja? Untuk orang-orang sudah pernah mengidap penyakitnya, tentunya akan bilang takut dan bergidik. Sementara, untuk mereka yang memang tidak   pernah  terjangkit  penyakit ini mungkin biasa-biasa saja. Akan tetapi, waspada dan memperhatikan lingkungan sekitar itu sangat penting.

Malaria menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak balita, juga ibu hamil. Selain itu, malaria secara langsung menyebabkan anemia dan dapat menurunkan produktivitas kerja. Penyakit ini juga masih endemis di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dalam rangka pengendalian penyakit malaria banyak hal yang sudah maupun sedang dilakukan baik dalam skala global maupun nasional. Malaria menjadi salah satu indikator dari target Pembangunan Milenium (MDGs), ditargetkan untuk menghentikan penyebaran dan mengurangi kejadian insiden malaria saat sekarang yang dilihat dari indikator menurunnya angka kesakitan dan angka kematian akibat malaria.

Global Malaria Programme (GMP) menyatakan bahwa malaria merupakan penyakit yang harus terus menerus dilakukan pengamatan, monitoring dan evaluasi, serta diperlukan formulasi kebijakan dan strategi yang tepat.

Di dalam GMP ditargetkan 80% penduduk terlindungi dan penderita mendapat pengobatan Arthemisinin based Combination Therapy (ACT). Melalui Roll Back Malaria Partnership ditekankan kembali dukungan tersebut. Karena pentingnya penanggulangan Malaria, maka beberapa partner internasional, salah satunya Global Fund, memberikan bantuan untuk pengendalian malaria. Dalam pengendalian malaria, yang ditargetkan penurunan angka kesakitannya dari 2 menjadi 1 per 1.000 penduduk.

Program eliminasi malaria di Indonesia tertuang dalam keputusan Menteri Kesehatan RI No 293/MENKES/SK/IV/2009. Pelaksanaan pengendalian malaria menuju eliminasi dilakukan secara bertahap dari satu pulau atau beberapa pulau sampai seluruh pulau terkover untuk terwujudnya masyarakat yang hidup sehat yang terbebas dari penularan malaria sampai tahun 2030.
 
dokter Elizabeth Jane Soepardi, MPH, DSc, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Foto: Dok http://nakita.grid.id]
Pada hari Selasa (24/04/2018) Kementerian Kesehatan RI mengadakan temu blogger dalam rangka hari Malaria Sedunia yang jatuh pada 25 April 2018. Bertempat di Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, Kuningan, Jakarta Selatan.

Hadir pada kesempatan itu sekaligus pembicara, Ibu Dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc, selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan RI. 

“Seberapapun besar dana yang dikeluarkan pemerintah, kalau pemberantasan malaria tidak didukung oleh masyarakat, tentunya, penyakit malaria tidak akan pernah tuntas,” ucap  Dokter Jane saat pemaparannya di hadapan para blogger pada Selasa (24/04/2018).

Bagaimana Komitmen Pemerintah Terhadap Penyakit Malaria?
Sebenarnya, sejak presiden pertama negeri ini ada, hingga presiden sekarang, bahwa Soekarno sendiri telah memulai program pemberantasan malaria yang dilakukan di Yogyakarta dengan menyemprotkan DDT.

Di era SBY pada 2009, program eliminasi malaria mulai dicanangkan. Dan di era Jokowi pada 2014 bersama kepala negara di Asia Pasifik telah berkomitmen mencapai eliminasi malaria pada 9th East Asia Summit tahun 20130.

Ini artinya, pemerintah memang konsen untuk mengentaskan penyakit malaria yang menjadi momok penyakit menular hampir di seluruh  negara di dunia, terutama di Indonesia.

Apa Sih Malaria Itu?
Malaria berasal dari bahasa Italia, yang artinya mal (buruk) dan area (udara). Jadi, secara harfiah punya arti penyakit yang sering timbul di daerah dengan udara buruk akibat lingkungan buruk. Selain itu, dapat diartikan sebagai penyakit infeksi dengan gejala demam berkala yang disebabkan parasit Plasmodium (Protozoa) dan ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina.

Ada  banyak istilah untuk malaria, yaitu paludisme, demam intermitens, demam Roma, demam Chagres, demam rawa, demam tropik, demam pantai, dan ague. Dalam sejarah tahun 1938 pada Countess d’El Chincon, istri Viceroy dari Peru, telah disembuhkan dari malaria dengan kulit pohon kina, sehingga nama quinine digantikan dengan cinchona.

Penyebab Penyakit Malaria
Penyakit malaria disebabkan oleh Protozoa genus Plasmodium. Terdapat empat spesies yang menyerang manusia yaitu:
·         Plasmodium falciparum (Welch, 1897) menyebabkan malaria falciparum atau malaria tertiana maligna/malaria tropika/malaria pernisiosa.
  • Plasmodium vivax (Labbe, 1899) menyebabkan malaria vivax atau malaria tertiana benigna.
  • Plasmodium ovale (Stephens, 1922) menyebabkan malaria ovale atau malaria tertiana benigna ovale.
  • Plasmodium malariae (Grassi dan Feletti, 1890) menyebabkan malaria malariae atau malaria kuartana.
Selain empat spesies Plasmodium tersebut, manusia juga bisa terinfeksi oleh Plasmodium knowlesi yang merupakan plasmodium zoonosis dengan sumber infeksi kera.
Penyebab terbanyak di Indonesia dari Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Untuk Plasmodium falciparum menyebabkan komplikasi berbahaya, sehingga disebut juga malaria berat.

Apabila seseorang terkena gigitan nyamuk Anopheles, maka orang tersebut akan terjangkit penyakit malaria dan dapat menularkan ke orang yang tidak sakit. Oleh karenanya, orang-orang yang tidak terkena malaria, sebaiknya berhati-hati terhadap orang yang menderita penyakit malaria.

Intervensi malaria pada manusia menurut dokter Jane adalah dengan menghilangakn parasit pada manusia dengan menemukan kasus dan mengobati hingga tuntas. Selain itu mencegah gigitan nyamuk yang beredar di malam hari dengan memasang kelambu, reppelen, tanaman pengusir nyamuk, dan sebagainya. Atau dengan membunuh larva nyamuk, mengurangi populasi nyamuk melalui manajemen lingkungan penyemprotan menggunakan insektisida di dinding rumah.

Tanda-Tanda Gejala Malaria
Jangan anggap enteng ketika Anda atau anggota keluarga Anda menderita demam menggigil secara berkala sakit kepala. Wajah tampak pucat dan lemah karena kurang darah. Juga terjadi mual dan muntah, nafsu makan pun berkurang dan terkadang mengalami diare.

Gejala-gejala tersebut patut kita khawatirkan dengan segera melakukan pemeriksaan ke tenaga medis setempat. Sebelum terlambat, lebih baik mencegah. Karena banyak dampak atau akibat yang akan ditimbulkan jika penanganannya terlambat dilakukan.

Lama kelamaan daya tahan tubuh semakin menurun begitu pun semangat kerja. Kalau terjadi pada anak-anak pertumbuhan otaknya akan terganggu. Sementara untuk ibu hamil, akan mengalami keguguran hingga kematian. Pun kalau melahirkan bayi yang dilahirkan prematur dan berat bayi sangat rendah.

Malaria dapat menghilangkan kesadaran penderitanya bahkan hingga hilang ingatan. Napas bergerak cepat, pingsan, hingga koma. Ujung-ujungnya meninggal dunia. Antisipasi secara dini penyakit ini menjadi keniscayaan semua pihak. Keterlibatan warga tentunya sangat diharapkan. Pemerintah tidak juga lepas tangan.

Pemeriksaan laboratorium (mikroskopis) atau RDT (Rapid Diagnostic Test) diperlukan. Obat yang digunakan berupa ACT (Artemisinin Based Combination Theraphy) dengan jenis Dihidroartemisinin-Piperakuin ditambah primakuin.

Obat tersebut diminum setelah makan  hingga habis berdasarkan takaran atau dosis yang diberikan. Dengan jenis penyakit seperti Malaria Tropikana (Falsiparum) hanya tiga hari, Malaria Tertiana (Vivax) hingga 14 hari untuk mencegah terjadinya kambuh. Jjika obat habis dan belum sembuh, penderita harus segera datang ke layanan kesehatan setempat.

Bagaimana Pemeriksaan Malaria?
Untuk memeriksa seseorang terjangkit malaria atau tidak, mesti dilakukan  pemeriksaa. Pemeriksaan melalui sediaan darah. Dapat dilakukan dengan cara berikut.
1.    Menggunakan mikroskop
Hal ini untuk mendapati parasit malaria pada sediaan darah yang perlu waktu 1-2 jam.
2.    Menggunakan RDT
RDT berguna untuk mendeteksi antigen parasit malaria yang memerlukan waktu hanya 20-30 menit saja.

Nah, nyamuk malaria menggigit korban di malam hari, baik  ketika orang tersebut ada di dalam rumah maupun di luar rumah. Anopheles saat menggigit dengan posisi tubuh menungging.

Perlu ekstra hati-hati terhadap nyamuk malaria Nyamuk ini dapat kita temukan di genangan air seperti rawa-rawa, laguna, muara sungai, tambak, saluran irigasi, persawahan, bahkan mata air.

Mencegah lebih baik dari mengobati, ini menjadi hal yang paling tepat untuk tidak saja malaria. Akan tetapi, mencegah penyakit malaria tidak serta merta hadir begitu  saja. tidak juga peran penuh pemerintah. Masyarakat mesti turut serta ambil  bagian, terutama membersihkan lingkungan agar tidak menjadi sarang nyamuk dengan menggerakan masyarakat lainnya melalui pembersihan lingkungan, mengeringkan air tergenang, juga membersihkan lumut pada mata air dan danau.

Mengurangi pembiakan nyamuk dengan menebar bibit ikan  pemakan jentik (ikan kepala timah, nila merah, gapi-gapi, mujair dan sebagainya) ke kolam, lagun, dan air tergenang. Juga bisa menebar larvasida atau racun jentik. Tak kalah penting menanam tanaman pengusir nyamuk.

Untuk menghindari dan mencegah nyamuk malaria agar tidak menggigit disarankan untuk tidur menggunakan kelambu, memakai obat anti nyamuk, memasang kawat kasa  pada lubang angin atau ventilasi rumah. Menggunakan obat anti nyamuk oles juga dapat dilakukan. Ketika keluar rumah di malam hari, hendaknya menggunakan baju dan celana panjang atau sarung.

Banyak tanaman atau tumbuhan pengusir nyamuk yang dapat dipakai. Seperti serai, zodia, rosmeri, lavender, tahi ayam atau marigold, juga kecombrang. Nah, bunga atau tanaman ini mampu meminimalisir nyamuk di sekitar rumah kita karena adanya kandungan minyak atsiri yang terdapat di dalamnya.

Dokter Jane berpesan untuk para travel blogger atau siapapun itu yang akan berwisata atau melakukan perjalanan ke daerah endemik malaria, untuk mencegah terjangkit malaria sebelum menghinggap, dengan cara minum obat doksisiklin  1 x 1 kapsul per hari. Mulai dua hari sebelum berangkat ke daerah malaria hingga empat minggu setelah keluar dari daerah.
Nah, traveler mesti mengetahui ABC pencegaha malaria, yaitu:

A: Awas dan perhatikan faktor yang menyebabkan risiko,cara penularan, cara pencegahan, masa inkubasi gejala dan tanda.

B: Biasakan menghindari gigitan nyamuk selama  di daerah endemik dengan menggunakan kelambu saat tidur, tidak keluar malam kalau tidak terpaksa. Kalau keluar malam karena terpaksa gunakan baju lengan panjang dan terang serta memakai lotion antinyamuk.

C: Cek darah segera ke tanaga kesehatan kalau ada gejala demam selama  di tempat singgah hingga satu bulan setelah kemabli dari daerah endemik dan ceritakan riwayat perjalanan kita ke tenaga medis bersangkutan.

Pemerintah kian gencar untuk mengeliminasi malaria dari Indonesia.Apa sih sebenarnya eliminasi yang dimaksud? Ya, eliminasi malaria sebagai upaya menghentikan penularan malaria setempat dalam satu wilayah geografi tertentu, dan bukan berarti tidak ada kasus malaria impor serta sudah tidak ada vektor di wilayah tersebut, sehingga tetap diperlukan kegiatan  kewaspadaan untuk mencegah penularan kembali.

Tantangan Eliminasi Malaria di Indonesia
Untuk mengeliminasi malaria di negeri ini tidak berarti mulus-mulus saja. Ada saja tantangan untuk mencapai eliminasi menuju tahun 2030 , yaitu:
  1.   Adanya perbedaan tingkat endemisitas malaria di Indonesia yang sangat bervariasi mulai dari yang tinggi tingkat endemisitas hingga tak adanya penularan malaria yang tersebar menurut kabupaten, kecamatan, dan desa bahkan sampai ke dusun dan satuan terkecil masyarakat di pedesaan/kelurahan.
  2. Tersedianya nyamuk penular malaria yang cukup banyak, baik yang dipengaruhi sesuai habitat Asia, Australia dan berada di antara kedua kawasan tersebut.
  3. Infrastuktur kesehatan yang masih belum merata di berbagai daerah terutama di daerah yang sangat terpencil di pedalaman maupun yang berada di kepulauan terpencil.
  4. Tingkat kemampuan daerah dalam pembiayaan kesehatan yang sangat berbeda menurut kemampuan sumberdaya alam di masing masing wilayah.
  5. Sumberdaya tenaga kesehatan yang tersedia dan keterampilannya dalam mengelola program dan kemampuan teknis untuk mengeliminasi malaria.
  6. Dukungan penelitian untuk menopang kegiatan eliminasi malaria yang masih lebih banyak berada di kawasan barat Indonesia.
  7. Dukungan peraturan perundang-undangan menuju eliminasi yang masih terbatas dalam mengarahakan masyarakat untuk berperilaku mendukung upaya eliminasi malaria di Indonesia.
  8. Perpindahan penduduk yang cukup tinggi antar-daerah dan antar-pulau yang mengakibatkan pengendalian malaria perlu lebih waspada tentang jalur perpindahan penduduk tersebut.
  9. Indonesia berbatasan dengan negara-negara yang mempunyai tingkat endemisitas malaria  tinggi, antara lain Timor Leste dan Papua New Guinea.

Tindak Lanjut Menuju Eliminasi Malaria di Indonesia:
Untuk menuju eliminasi tahun 2030 diperlukan peran serta semua wilayah Kabupaten dan Kota dengan penularan malaria dapat bergerak bersama sama menyelesaikan permasalahan malaria d iwilayahnya sesuai tahapan yang ada. Untuk itu diperlukan tindak lanjut sebagai berikut.
  1.  Pelatihan tenaga di Provinsi untuk melakukan pemetaan tahapan eliminasi di Kabupaten/Kota.
  2. Melakukan pemetaan Kabupaten/kota untuk mengetahui status dalam tahapan eliminasi.
  3. Komitmen daerah dalam pelaksanaan tahapan-tahapan pengendalian malaria di Kabupaten secara berkesinambungan.
  4. Komitmen yang menyangkut kebijakan daerah yang mendukung, perencanaan, alokasi penganggaran, dukungan legislasi dan pengawasan, dukungan swasta dan partisipasi masyarakat.
Ayo kita sukseskan Hari Malaria Sedunia  pada 25 April 2018. Ready to Beat Malaria: Bebas Malaria, Prestasi Bangsa. #AkhiriMalaria



1 comments:

Mpo Ratne said...

Semoga target 2030 bisa terwujud sehingga tidak ada lagi yang terkena malaria di indonesia.