Sunday, April 29, 2018

Jelajah Gizi 2018 Kota Semarang: Eksplorasi Pangan Berkelanjutan, Gaya Hidup Sehat untuk Hidup Jangka Panjang di Mata Pakar Gizi dan Ahli Pangan [Bagian 1]


 
Jelajah Gizi Semarang 2018: Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD. Pakar Gizi & Keamanan Pangan Institut Pertanian Bogor [Foto: Dok Pri]
Hmmh… banyak gelar untuk kota yang satu ini, mulai dari kota Lunpia atau Lumpia  hingga Venetia van Java-nya Indonesia. Ya, apalagi kalau bukan Semarang. Semarang menjadi salah satu Provinsi di Indonesia juga kota metropolitan terbesar kelima setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Semarang, menjadi salah satu kota paling berkembang yang ada di Pulau Jawa dengan penduduk sekitar 2 juta orang. Jangan heran, karena pesatnya perkembangan kota ini, banyak bermunculan gedung pencakar langit di beberapa bagian sudut kotanya.

Semarang pun dikenal sebagai salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Indonesia yang punya keragaman daya tarik wisata, baik yang bersifat budaya, alam, dan kuliner. Salah satu daya tarik budaya wisata yang banyak dikenal di Jawa Tengah adalah peninggalan situs-situs kepurbakalaan dalam bentuk bangunan candi pada  masa kerajaan Islam dan Jawa, berupa bangunan Keraton atau Istana dan Masjid serta Makam Raja-Raja dan Wali penyebar agama Islam di Jawa Tengah.

Selain itu, kuliner Semarang menjadi pilihan tersendiri untuk para pelancong dalam dan luar negeri. Berkenaan dengan kulinernya, Nutricia Sarihusada (Nutrisi untuk Bangsa) yang telah beberap kali menggelar helatan  #JelajahGizi, kini kembali  menggelar Jelajah Gizi Tahun 2018 ini untuk yang keenam kalinya. Dan menetapkan Kota Semarang menjadi tujuan #JelajahGizi tahun 2018 dengan tema, “ Eksplorasi Pangan Berkelanjutan di Kota Semarang,” selama tiga hari dua malam bersama para Blogger yang terpilih dan beberapa awak media, mulai tanggal 20—22 April 2018.
 
Jelajah Gizi Semarang 2018: Ari Mujahidin - Corporate Communication Director Danone Indonesia. "Jelajah Gizi kami adakan secara rutin untuk membangkitkan kembali potensi pangan lokal satu daerah." [Foto: Dok Pri]
Eksplorasi pangan berkelanjutan di Kota ini mengulik dan mencicipi ragam kuliner di Semarang, menikmati makanan-makanan khas Venetia van Java-nya Indonesia yang tentunya tidak ada di tempat lain. Di Semarang ini pula saya dan rekan-rekan jelajah gizi lainnya melihat proses mula pengolahan bahan mentah pangan, seperti Bandeng Presto di Tambak Rejo. Peserta jelajah gizi juga melihat kuliner-kuliner lokal Semarang  yang tidak hanya disajikan secara langsung, akan tetapi dapat diolah menjadi pangan kemasan tanpa mengurangi nilai gizi yang terkandung di dalamnya.

Dalam #JelajahGiziSemarang ini tentunya sebagai manusia kita punya hak dan kewajiban dalam membantu menyehatkan bumi dan manusianya sendiri melalui pangan yang dimakan (konsumsi), cara mengolah, penyajian, dan pengolahan sisa.

Prediksi tahun 2050, dunia mesti memberi makan kepada 9,8 miliar jiwa. Bagaimana bahan pangannya di peroleh? Proses pengadaan bahan pangan perlu pengelolaan pelestarian bumi secara baik dan benar. Hal itu semata-mata agar dapat menghasilkan pangan yang kaya nutrisi. Hubungan timbal balik ini terkait dengan konsep pangan berkelanjutan tempat konsumen dapat memilih pangan yang  baik untuk kesehatan, lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi lokal.

Tak bisa dipungkiri, bahan pangan lokal menjadi daya tarik tersendiri di industri perdagangan dan ekonomi. Lebih kurang 870 juta orang di seluruh dunia kekurangan gizi secara kronis karena bentuk pembangunan yang tidak mengutamakan keberlanjutan. Apa contohnya? Pembangunan yang dilakukan justru merusak lingkungan alam, mengancam ekosistem dan keragaman  hayati yang sangat diperlukan untuk menyuplai makanan masa depan manusia itu sendiri.
 
Jelajah Gizi Semarang 2018: Drs. H. Kasturi, MM - Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang. "Semarang punya beragam kuliner yang enak dan dikenal hingga pelosok daerah, bahkan dikirim keluar negeri." [Foto: Dok Pri]
Zaman yang terus berubah dan berkembang, ragam pangan pun banyak diolah dan diekspor ke berbagai negara di dunia. Pangan ini menjadi terkenal dengan istilah pangan kemasan. Pangan kemasan ini sudah banyak difortifikasi sehingga menjadi pangan yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi konsumen.

Fortifikasi memang harus dilakukan karena warga belum seutuhnya menerapkan pola gizi yang seimbang dengan mengonsumsi beragam jenis makanan dalam jumlah sesuai. Kita memang perlu sadar, tak ada satu makanan tunggal pun yang lengkap komposisi gizinya dan bisa mencukupi kebutuhan gizi masyarakat. Fortifikasi menjadi alternatif dalam membantu masyarakat mencukupi dan melengkapi kebutuhan gizinya.

Adanya sistem pangan berkelanjutan dari #JelajahGiziSemarang menjadi semacam cara masyarakat dalam upaya melindungi dan menyehatkan masyarakat serta menjaga kelestarian planet bumi secara bersama-sama.

Penerapan sistem pangan berkelanjutan ini dapat dipastikan bahwa sumber pangan yang diambil dari alam secara baik, tentunya melewati proses pengolahan pangan dan pengemasan yang baik pula, sehingga dapat memberikan dampak baik juga terhadap kesehatan orang yang mengonsumsinya. 
 
Jelajah Gizi Semarang 2018: Pak Jongkie Tio, Pemilik Rumah Makan Semarang. "Rumah makan Semarang hadir sejak tahun 1991 dengan mengedepankan cita rasa lokal khas Semarang, dan beberapa masakan peranakan seperti Lontong Cap Go Meh." [Foto: Dok Pri]
Sistem pangan berkelanjutan tidak serta merta menjadi tugas pemerintah semata sebagai alarm pengingat, akan tetapi menjadi satu usaha konsumen untuk mengonsumsi pangan secara berkelanjutan  (sustainable  food chain) secara cerdas, bijak, dan tepat guna.

Sebagai konsumen, memang harus cerdas. Konsumen  yang mengonsumsi bahan pangan, tentunya berasal dari bumi dan konsumen memilih bumi yang bagaimana yang ingin ditempati melalu makanan dan minuman. Di sini, ada komitmen Grup Danone Alimentation  Revolution dengan Slogan: One planet one health-nya.

Kita tidak bisa menghindari makanan yang sudah diciptakan Sang Khalik untuk dinikmati. Tetapi, bagaimana manusia bisa menerapkan prinsip konsumsi berkelanjutan dan merawat ekosistem secara baik. Dengan merawat ekosistem secara baik,  sudah barang tentu, alam akan bekerja secara seimbang.

Alam punya kekuatan dan kemampuan untuk menghasilkan sumber makanan yang berkualitas dan diperlukan tubuh. Makanan sehat dengan zat gizi yang dikandungnya diperlukan tubuh seseorang untuk dapat bertahan hidup secara sehat dan tentunya produktif bagi siapapun.
 
Jelajah Gizi Semarang tahun 2018 dengan tema "Eksplorasi Pangan Berkelanjutan di Kota Semarang" [Foto: Dok Nutrisi Bangsa]
Alam yang baik, sehat, dan bersih dapat membantu menciptakan keseimbangan dalam pencapaian tujuan sosial, ekonomi, dan lingkungan seperti yang diinginkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Ada tiga tujuan pangan berkelanjutan yang perlu kita ketahui untuk diterapkan, yaitu: 
1.    Tujuan Ekonomi
Ada jaminan ekonomi yang dapat dinikmati masyarakat, ekonomi pun semakin bergairah, terjadi peningkatan nilai tambah dari bahan pangan berkelanjutan, dan akan semakin menunjang pula untuk kondisi kerja yang semakin baik. Hal yang tak bisa dikesampingkan adalah investasi  yang semakin baik dengan produksi baik dan konstan. Ditambah  lagi input eksternal yang baik pula.

2.    Tujuan Sosial
Terjadinya perdagangan yang adil dan penjaminan suplai pangan. Adanya pemenuhan kebutuhan  lokal masyarakat setempat. Tentunya, melibatkan tak hanya kaum pria, tetapi juga kaum wanita untuk bekerja (ada kesetaraan  gender). Hal yang paling penting adalah adanya penghargaan terhadap budaya lokal. Derajat kehidupan sosial yang lebih terangkat melalui kualitas dan rasa yang baik pula.

3.    Tujuan Ekologi
Adanya penggunaan sumber daya lokal dengan mengutamakan keseimbangan ekosistem. Polusi dari pangan berkelanjutan boleh dibilang bebas polusi kimia dan kesuburan tanah pun semakin tinggi. Sungai-sungai berair bersih dengan keragaman hayati yang banyak. Terjadi pula pengelolaan ternak yang baik dan konservasi sumber daya alam yang dipertahankan berujung pada produksi pangan lokal yang aman.

Kita juga harus melihat, pangan berkelanjutan ini sebagai bentuk manifestasi kehidupan agar lebih baik. Di dalam praktiknya, pangan berkelanjutan ini pun punya karakteristik yang tidak bisa kita hilangkan begitu saja, yaitu:

a). Bebas dari limbah atau sisa
b). Makan lebih baik, mengurangi daging dan dairy produce.
c). Mestinya, konsumen membeli produk lokal, musiman, dan ramah lingkungan seperti produk organik dari pertanian lokal.
d). Konsumen cerdas mestinya akan memilih produk yang telah memiliki sertifikat fairtrade.
e). Memilih ikan contohnya, dari sumber yang berkelanjutan, seperti sungai yang dipelihara, tambak-tambak buatan yang dijaga keseimbangannya.
f). Getting the balance right. Hal ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Keseimbangan itu sangat penting dalam menjaga kelestarian lingkungan demi keberlangsungan pangan berkelanjutan.
g). Menanam sendiri mungkin lebih baik, pun kalau mau lebih baik membeli sisanya dari beragam outlet yang ada.

Oleh karena itu, konsumen mesti tahu  dan cerdas apa yang harus dilakukannya.  Di #JelajahGiziSemarang 2018 inilah saya mendapatkannya. Ada beberapa hal penting yang mesti dilakukan ketika konsumen melakukan pangan berkelanjutan, di antaranya yaitu:

1.Memilih dan mengonsumi pangan yang baik dari sisi kesehatan diri sendiri (kandungan nutrisi pada makanan).
Sudah semestinya kita membiasakan diri mengonsumsi makanan yang memiliki nutrisi lengkap dan cukup untuk kesehatann. Seperti karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan lain-lainnya. Teredukasi mengenai pangan kemasan yang sudah terfortifikasi serta membiasakan diri untuk membaca label pangan yang ada.

2. Memilih pangan yang baik dari segi lingkungan (produsen yang tidak merusak lingkungan dan pengelolaan limbah)
Konsumen mesti memperhatikan limbah yang disebabkan oleh pengolahan atau konsumsi makanan. Hal ini juga meliputi kebiasaan konsumen dalam mengelola sampah. Nah, terkadang kita lupa, ketika membeli minuman kemasan, botol dibiarkan utuh begitu saja ketika sudah habis. Semestinya, botol kemasan habis minum itu diremas untuk mengurangi tempat dan jangan pernah menyisakan makanan kita di dalam piring makan.

3.Memilih makanan yang baik dari sisi ekonomi (baik produsen atau komunitas di sekitar Anda)
Perlu memperhatikan bagaimana bisnis pangan dapat berkontribusi pada komunitas sekitar dan mengutamakan  bahan lokal dengan petani lokal sangat diperlukan. Pemberdayaan bahan  lokal untuk pangan berkelanjutan dengan kerjasama petani lokal menjadi simbiosis mutualisme ekonomi Semarang ke depan. 

Pangan berkelanjutan memberi ruang baru dalam kehidupan masyarakat setempat. Menjaga keberadaanya, tentu menjaga bumi dan sehat masyarakatnya. 

2 comments:

Ariefpokto said...

Ikutan Jelajah Gizi Semarang ini berfaedah banget . Dapat banyak pengetahuan & ilmu. Dan enak banyak adegan malannma

Mpo Ratne said...

Rezeki tambah dengan berbisnis kuliner sekaligus menjaga alam sekitar