Wednesday, May 30, 2018

Anak Muda Indonesia Saatnya Bangkit dan Berdaya: Heni Sri Sundani, Sarjana Lulusan Luar Negeri Rela Pulang Kampung Membangun Desa


Heni Sri Sundani-Founder Smart Farmer Kids in Action & AgroEdu Jampang Community [Foto: DokPri]
Heni Sri Sundani, hanyalah seorang anak petani miskin. Boleh dibilang, makan hanya sekali sehari. Tiba-tiba masuk majalah Forbes. Masa kecil yang sangat miris, ketika berumur satu tahun sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya karena perceraian.

Ibunya menikah di usia yang sangat muda, bahkan sebelum mendapatkan haid pertamanya. Heni lebih banyak diasuh oleh sang nenek yang notabenenya tidak bisa baca dan tulis. Ketika ingin sekolah, saat SD sekolah ditempuh dalam waktu 2 jam, SMP lebih kurang 4 jam pulang pergi.

Sementara, SMA sendiri adanya di kota, bahkan ketika ingin melanjutkan kuliah dirinya justru menjadi TKI ke Hongkong. Hidupnya memang tidak pernah mudah. Tapi Heni tidak pernah menyerah, ketika dia berpikir menyerah, otomatis hidupnya akan berakhir seperti sang Ibu.

Pun hidupnya akan berakhir seperti teman-teman sebayanya yang baru berumur 13 tahun tetapi sudah jadi janda dua kali. Ketika Heni datang ke berbagai forum, banyak mahasiswa/i yang ingin jadi seperti dia.

Heni berkata kepada mereka,”Jangan jadi saya, jadi saya itu berat, biar saya aja, kamu ga akan kuat,” (ngakak juga saya dengarnya).

Heni membuat satu campaign, namanya Sarjana Pulang Kampung. Dia kembali ke Kampung dan membangun kampung. Pertanyaannya, “Mengapa harus kembali ke Kampung?” Kita semua tahu, orang-orang terbaik di Indonesia terpusat di kota. Tetapi yang dibutuhkan Indonesia, buka satu obor raksasa di Jakarta. Tetapi yang dibutuhkan Indonesia di masa depan adalah obor-obor kecil yang menyala dari sebuah desa.

Saat ini Heni membuat satu gerakan bernama “Anak Petani Cerdas”. Dulu hanya dimulai dengan 15 orang anak dan modal 100 ribu rupiah. Bersyukur setelah satu-tiga tahun berjalan, ada tersebar lebih dari 3.000 anak yang tersebar di pulau Jawa dan Lombok.

Kalau dulu Heni hanya membantu satu kampung saja di Bogor. Tetapi, setelah lima tahun kemudian, dirinya dan teman-temannya bisa membantu lebih dari 150 ribu keluarga petani dari Aceh hingga Papua.

Bagaimana caranya Heni bisa sampai seperti itu? Heni memulai dari “Setiap  orang harus menemukan WHY-nya masing-masing.” Mengapa harus menemukan WHY-nya?
 
Mulailah dengan WHY [Foto: Dok Pri]
Menurut Heni, “Saya memberi bukan karena saya punya banyak, tetapi karena saya tahu bagaimana rasanya tidak punya apa-apa. Ketika saya ingin sekolah, saya tidak punya duit untuk sekolah. Ketika ingin makan, saya tidak punya duit untuk makan. Saat mau lanjut kuliah, tidak ada beasiswa. Akhirnya, dari menemukan why inilah, itu yang akan menjadi alasan terbaik kita untuk melakukan hal ini.”

Ketika kita ingin melakukan perubahan sosial, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membantu diri kita sendiri dulu. Bayangkan saja, bagaimana kita bisa membantu orang lain kalau kita tidak bisa membantu diri sendiri.

Setelah bertemu dengan alasan yang tepat mengapa kita harus mengerjakan hal ini, barulah kita akan dapat yang namanya komitmen. Karena yang namanya perubahan sosial itu tidak mudah. Banyak sekali hal-hal yang harus kita korbankan. Termasuk diri kita.

Pengorbanan yang Heni lakukan ketika lulus dari Hongkong di tahun 2011, dia menjadi salah satu sarjana dengan predikat terbaik. Dia banyak mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Tapi, dia lebih memilih pulang ke Indonesia dan menjadi salah satu guru yang hingga hari ini tidak pernah dibayar.

Pernah satu ketika Heni mengajar di sekolah formal. Akan tetapi, hal itu tidak bisa dilakukan kalau setengah-setengah dan mesti full time. Jadi, kalau ditanya apa pekerjaannya saat ini, Heni bisa menjawab full time di komunitas.

“How far you go, seberapa jauh kita melangkah,seberapa tinggi kita terbang dengan gerakan dan komunitas kita, itu bergantung seberapa kokohnya komitmen kita,” tutur Heni.

Karena kalau kita melakukan pekerjaan ini di masyarakat, menurut Heni, kita akan banyak menjumpai kesulitan. Fondasi kita mesti benar-benar kuat, karena tidak ada yang menggajinya.

Untuk bisa membuat gerakan  sosial atau usaha sosial di masyarakat apalagi? Biasanya, Heni memulai dari “What” dulu. Apa masalah di sekitar kita. Melihat permasalahan di sekitar kita apa. Heni membuat “Anak Petani Cerdas” karena tinggal di kaki Gunung Pangrango, di Cimande.

Jadi, masalah di sekitar kita itu apa. Kita bisa atau tidak menjadi bagian dari solusi permasalahan yang ada di sana. Lantas tujuannya apa? Heni percaya, bahwa pendidikan itu senjata paling ampuh untuk memutus rantai kemiskinan. Hal ini telah ia buktikan sendiri. Goalnya adalah, agar anak-anak petani miskin yang tidak punya harapan, bisa bersekolah. Di satu rumah ada yang bisa jadi sarjana.

Kenapa? Karena kalau kita hanya memberi bantuan sembako terus menerus, justru tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ingin diselesaikan adalah akar masalahnya. Selanjutnya adalah “Resouces”-nya apa? Ketika kita ingin memulai gerakan sosial bertanyanya jangan ke orang, tapi tanyakan ke diri kita.

Apa kita miliki saat ini? Di Gerakan Anak Petani Cerdas, Heni berpikir dia punya ilmu. Dia sanggup mengajar, akhirnya diputuskan untuk  mengajar. Tidak perlu harus menunggu orang lain. Bayangkan, kalau kalian ingin membuat gerakan sosial menunggu orang lain, akan lama dan bisa tidak jadi-jadi.

Ketika mengerjakan sesuatu itu kerjakan yang benar, bukan yang paling mudah. Karena hal ini penting. Mengerjakan yang mudah-mudah tetapi bukan itu tujuannya, justru tidak akan menyelesaikan apa-apa.

Lantas jalannya dengan cara bagaimana? Ada banyak cara, ada yang membuat platform online sosial, startup, juga membuat komunitas kecil-kecilan. Semuanya memang benar, yang tidak benar itu yang tidak melakukan apa-apa. “Ujung-ujungnya, kita akan bertemu dengan passion kita,” ucap Heni.

Untuk menjadi leader di masyarakat, menurut Heni bukan dari power-nya, tetapi justru dari ability empower others. Terakhir, lebih ke arah “WHO”-nya. Kita mengerjakan hal ini untuk siapa, targetnya siapa, donaturnya siapa, partnernya siapa.

“Partner terbaik saya adalah suami saya. Karena apa? Diskusinya mudah di rumah. Ketika saya menikah dengan suami saya, saya melihat cara berpkir yang sama. Karena menikah itu bukan sekadar aku dan kamu menjadi kita. Saya memilih laki-laki ini karena visi dan misinya sama seperti yang saya miliki. Kami prosesnya ta’aruf, dan saya memilih dia gara-gara dia bilang seperti ini,”nikah itu bukan siapa yang paling siap, tapi siapa yang paling berani,” tutup Heni.






3 comments:

Anisa Deasty Malela said...

Waah pengabdian dan cinta Tanah Air yang membuat saya bangga pada sosok wanita yang satu ini..

Jun Joe Winanto said...

Dia ambil sarjana sembari kerja jadi TKI di Hongkong. Lulus dengan memuaskan. Banyak tawaran beasiswa, tapi dia milih pulang ke desa. Salut.

Jaladara said...

Terima kasih kak Jun atas ulasannya 🙏🙏