Monday, October 1, 2018

Ini Kata Muhammad Aga Cerita Di Balik Barista, Kopi, dan Maag


Sering dong kalian dengar kata Barista, tentunya sudah tak asing di telinga. Ya, Barista  sebagai salah satu bentuk keahlian seseorang dalam meracik minuman, terutama kopi yang enak. Barista juga menjadi soul/jiwa sekaligus “muka” sebuah kedai kopi/coffee shop. Barista pula yang menjadikan kedai kopi terlihat keren dan mentereng di balik sebuah mesin kopi.


Nah, apalagi ketika Sang Barista pakai apron, ditambah lagi wajah yang good looking, saya yakin, pelanggan betah berlama-lama dan bahagia sebelum segelas atau secangkir kopi mendarat mulus di bibir, hanya untuk CCP (Curi-Curi Pandang). Baru-baru ini, tepatnya di negara kita, Indonesia, telah digelar kejuaraan Indonesia Barista Championship 2018. Nah, salah satu pesertanya adalah Muhammad Aga dan keluar sebagai pemenang, lho.
 
Muhammad Aga-Pemenang Indonesia Barista Championship 2018 yang mewakili Indonesia di World Barista Champhionship di Belanda [Foto: Dok scanews.coffee]
Menurut Aga, Barista itu gampang-gampang susah. Perlu rajin berlatih, tekun, juga ulet untuk bisa expert dalam dunia yang ditekuni. Pengetahuan dan cara membedakan rasa juga jenis kopi termasuk membuat art latte Barista perlu pahami. Belajar di mana dan kapanpun mesti dilakukan.
 
Aga memperlihatkan cara membuat kopi yang enak [Foto: Dok Pri]

Aga biasa disapa, sudah mengalami itu semua. Dia mahir meracik kopi mulai dari biji hingga jadi secangkir kopi yang sungguh nikmat dan beroleh beragam penghargaan karena kemahirannya tersebut. Aga mengawali kariernya sebagai Barista pada 2009. Dulunya, dia seorang mahasiwa  yang nyambi kerja paruh waktu di salah satu kedai kopi di Jakarta. Sudah hampir sepuluh tahun pekerjaan Barista digelutinya.

Pekerjaan part time itu dia lakukan untuk tambah-tambah penghasilan. Ketika bekerja, rasa keingintahuannya timbul dan sesekali dia mainkan alat pembuat kopi. “Sembari bekerja iseng-iseng nyobain buat latte art. Di tempat kerja itulah belajar menggali lebih banyak bagaimana membuat latte art yang cakep dan menarik,” tuturnya.

Keenakan Cari Duit
Jadi Barista pun bukan cita-cita, sebelumnya dirinya kuliah, tapi kuliahnya jurusan musik dan jadi anak band. Untuk ngisi waktu luang dan menghidupi band-nya itu tadi dia ambil kerja part time di coffee shop di Jakarta. Karena kuliah sambil kerja Aga berpikir, “Kok enakan dapet duit ya. Jadi, kuliah sempat tertunda karena keasikan cari duit. Ternyata, seiring bergulirnya waktu, menggali lebih dalam tentang kopi itu tadi,  wah menarik, ya. Bagus gitu. Jadi, semua pelajaran yang  kita pelajari di sekolah itu pasti keluar. Misalnya nih Matematika, di kopi pun ada. Contohnya, berapa gram bubuk kopi dan berapa mililiter air untuk menghasilkan kopi yang enak. Ada ditambah, ada juga dikurang,” urai Aga.
 
Saat QnA bersama MC dan Blogger [Foto: Dok Pri]
Selain itu, ternyata kopi yang diseduh juga tidak sembarang diseduh, Dia juga mesti tahu tingkat roasting, umur, jenis tanah,  juga sejarah kopi. Banyak hal-hal yang berhubungan dengan kopi ini berhubungan pula dengan ilmu-ilmu yang dipelajari dulu di sekolah. “Jadi, kopi itu buat saya jadi wadah atau media untuk menyalurkan seni. Mungkin dulu connetcting people itu untuk brand lain, tetapi sekarang connecting people itu untuk kopi. Karena, dari secangkir kopi orang bisa berhubungan satu dengan yang lain, membina relasi, mendapatkan koneksi,” ucapnya.

Sekali lagi dirinya katakan, bahwa jadi Barista itu bukan pilihan atau cita-cita. Namun, Aga melihat bahwa Barista itu ada masa depannya. Jenjang untuk barista kelihatan. Menurutnya, di  Indonesia sekarang sudah banyak coffee shop. Nah, untuk menjadi Barista itu mudah banget, asal mau belajar dari berbagai media, baik online maupun offline bisa.

“Awalnya juga gue bukan peminum kopi, karena tuntutan pekerjaan dan senang melihat orang minum kopi. Karena untuk membuat segelas kopi perlu proses yang sangat panjang, jadi itu yang buat gue happy kerja di bidang ini. Dari senang dan ketagihan itulah akhirnya ikut kompetisi dan ternyata ada jenjangnya juga. Kalau dulu cuma jadi helper, kini naik kelas. Kalau satu pekerjaan ditekuni dengan baik, pasti satu pekerjaan itu akan menghasilkan,” tuturnya.
 
Aga menjelaskan bahwa Barista juga harus tahu sejarah kopi [Foto: Dok Pri]

Pun, Aga tak pernah berpikir apa yang dia lakukan itu akan menjadi besar. “Tidak pernah sampai berpikir sejauh itu. Natural aja. Network-lah yang membuat semua ini jadi besar. Kopi itu tempat mempertemukan banyak orang, ternyata profesi ini (barista) bisa menghubungkan satu orang ke orang lainnya. Kan yang gak bisa dibeli sama uang koneksi, kan? Makin banyak orang yang kita temui, makin banyak kesempatan kita untuk sukses,” jelasnya detail.

Nah, dia mengenal kopi  dari salah seorang pionir kopi di Indonesia, namanya Hendri Kurniawan. Aga pun belajar teknik dasar kopi hingga keluar negeri. Dia melihat juga merasakan, bagaimana kopi terbaik dan banyak diminati orang-orang, terutama masyarakat kita. Hingga akhirnya, dirinya banyak pergi mengitari perkebunan kopi di Indonesia. Aga pun ternyata pindah-pindah dari satu tempat ke tempat kerja lain. Hehe, masih muda, kan ya, cari passion yang buat tune in ga masalah menurut saya.
 
Kedai Kopi Aga, SmithCoffee di bilangan Mampang, Jaksel [Foto: Dok OttenCoffee]
“Pindah kerja di sekitaran kopi ke kopi lagi, mulai dari Dante Coffee, Mrs Field, Get Back Coffee, dan Tanamera Coffee. Ya, ujung-ujungnya hampir tiap tahun pindah kerja dan jatuhnya ngurusin kopi ke kopi dan barista lagi. Gue belajar dari the power of kepepet, tempat gue kerja, internet, dan dari manapun bisa”, tutur Aga.

The Power of Kepepet & Jadi Pemenang IBC 2018
The Power of Kepepet Aga ini, ketika itu ada salah satu pelanggan Dante Coffee yang interest sama dirinya minta untuk melakukan set up kitchen. Karena penawaran gaji yang menggiurkan, Aga mengiyakan saja, walau kerjaan yang diberikan begitu banyak.
“Iya, sudah telanjur janji, mau ga mau harus dikerjain, walau kerjaannya banyak, tapi tawaran gajinya juga sepadan,” ucapnya.

Nah, celakanya pada saat itu dia tidak paham sama sekali bagaimana memperoleh mesin kopi yang diperlukan. Aga hanya bisa buat kopi yang good looking saat dilihat. Karena sudah ucap janji untuk siap mengurus set up kitchen tadi, apa katanya, “Gue nekat pergi ke pameran kopi dan barista. Seharian ngabisin waktu untuk SKSD (sok kenal sok dekat) dengan orang di pameran, tanya sana-sini, minta nomor kontak, dan bagaimana memakai mesin kopi, semua gue coba, mesti bisa. Padahal, ya gue hanya bisa buat kopi yang enak dipandang dan cantik,” jelas Aga.
 
Indonesia Barista Championship Logo [Foto: Dok http://www.scai.or.id]
Di bulan Maret 2018 lalu, Aga yang memenangkan IBC 2018 ini mewakili Indonesia di kejuaraan dunia Barista 2018. Banyak kejuaraan sejenis yang sudah diikutinya dan mengantarkannya  menjadi juara, antara lain Indonesia Latte Art Competition, Indonesian Brewers Competition, Asian Barista Championship, hingga Asian Food and Hotel.

Apa sih yang membedakan antara Indonesia Barista Championship dengan kompetisi lainnya. “Kalau Indonesia Barista Champhionship jadi pemenang, itu mewakili Indonesia di ajang World Barista Champhionship. Di dunia ini (saya) mewakili Indonesia, membawa produk (kopi) Indonesia untuk represent Indonesia, dan sosok yang dianggap mampu mewakili negaranya untuk berkompetisi di tingkat dunia. Jadi, kalau kompetisi lain, ada beberapa kompetisi yang levelnya sama seperti (WBC) itu. Ada Barista, latte art (gambar di atas kopi), buih (foam), bagaimana lidah kita merasakan mana kopi yang enak saat dicicipi, roasting (sangrai) semua ada  kejuaraannya. Kopi itu kan berbentuk biji, nah kalau mau dimatengin kan harus disangrai dulu. Ini juga ada kompetisinya.” jelas Aga panjang lebar.

Menurut penuturannya, juri-juri yang menilai pun sangat objektif. Artinya, juri menilai dari kopi yang tersaji langsung di dalam cup yang dibuat oleh si Barista. Seperti yang disampaikannya juga, “Kalau saya tidak suka kopi A, tetapi nilai di kopi A itu sangat besar, ya saya harus suka dan membuat kopi A itu tadi. Sementara  kalau Throw Down ini lebih ke arah battle, dari Barista A, B, atau C, mana nih kopi yang paling enak. Nah, ini sifatnya subjektif. Jadi, tantangannya itu lebih berat di nasional (champhionship) ini, prosesnya lebih panjang. Menu yang disajikan juga ada tiga jenis, juri-jurinya pun standard internasional, ada presentasi juga tak hanya bikin, lantas dinilai. Tetapi, dinilai juga bagaimana cara serving, dan ada customer service-nya juga. Jadi, misalnya kita bawain kopi A, bagaimana caranya meyakinkan juri bahwa kopi A ini enak. Ada presentasi (ngobrol)-nya juga dengan waktu 15 menit. Dalam waktu 15 menit mesti menjelaskan kopi yang dipakai, tekniknya apa, dan harus bikin 12 jenis minuman.”

Nah, untuk kompetisi Barista ini Aga memberikan tips-nya.
1.    Harus punya tim yang solid karena tim sangat penting. Siapa yang jadi leader, siapa helper. Ternyata, di kompetisi kopi pun  harus seperti ini. Mungkin tak hanya di kompetisi kopi saja, di kompetisi apapun mesti ada kerja tim dan tak bisa sendirian.
2.    Latihan. Latihan ini paling penting. Menurut buku yang pernah dibacanya, “10 Ribu Jam untuk Menjadi Seorang Juara” ini buku motivasi. Kalau seminggu hanya tiga kali latihan, jangan harap gelar juara bakal disabet.
3.    Harus ada konsep. Mau menyajikan konsep seperti apa ke hadapan juri.

Oya, apa ya perbedaan Barista Indonesia dengan Barista-Barista di luar negeri? Mengulik perjalanan Aga sebagai Barista dalam penuturannya, dilihat dari profesinya, sebenarnya sama saja, melayani pelanggan, buat kopi. Nah, kalau barista di luar negeri, akses mereka lebih mudah. Nah, bicara langsung mengenai kompetisi barista, barista luar negeri punya konsep yang bagus, karena beberapa hal, antara lain:

1.    Mereka memiliki akses kerjasama dengan beberapa brand dan institusi. Contohnya ada beberapa barista yang menjalin kerjasama dengan kampus untuk meriset satu produk.
2.    Barista di Indonesia sulit untuk melakukan kerjasama karena prosedur yang banyak dan panjang. Seperti pengajuan proposal terlebih dahulu, menunggu persetujuan, diterima atau tidaknya lama diberitahukan.
3.    Banyak Barista-Barista di Indonesia yang bagus, akan tetapi background finansial mereka tidak bagus. Ini juga jadi tolok ukur. Nah, Barista itu sebenarnya dinilai dari apa? Skill atau Financial Background? Contohnya, latar belakang finansialnya kuat, bisa beli dan memanggil siapa saja untuk mengajari mereka. Sementara barista Indonesia yang bagus mereka punya skill tapi latar belakang finansial yang kurang, barista tersebut hanya belajar dari internet, YouTube.
4.    Barista di luar negeri rata-rata memiliki forum sedangkan di Indonesia forum Barista baru dibentuk.
5.    Dari sisi lobbying, barista luar negeri lebih kuat kemampuan bicara dibanding Barista Indonesia.
6.    Di luar negeri, Barista memandang ngopi itu  sudah menjadi need, sedangkan Barista di Indonesia melihat bahwa ngopi masih menjadi gaya hidup (lifestyle).
7.    Barista di luar negeri oleh pemilik kedai  sebagai aset, sementara di Indonesia jadi supporting saja. Hanya beberapa Coffee Shop saja yang melihat bahwa Barista Indonesia sebagai asetnya. 
8.    Coffee Shop di Indonesia juga belum banyak yang tahu value seorang Barista.
9.    Barista di luar negeri itu bekerja sama dengan  owner melihat apa yang market mau  dan pemberi masukan. Sedangkan di Indonesia, Barista hanya dianggap sebagai pelayan yang melayani pembeli.
10. Barista di luar negeri menganggap bahwa tamu yang datang itu sebagai teman. Di Indonesia tidak, tamu yang datang tetaplah dianggap sebagai pembeli dan tugas Barista hanya melayani. Tapi,  akhir-akhir ini banyak coffee shop dari Baristanya sendiri di Indonesia melihat, bahwa tamu yang datang dianggap sebagai teman dan ngobrol bersama, tidak sekadar melayani.

Ini dia lima hal yang dimiliki Barista versi Aga, kalian mesti tahu lho ya. Klik aja videonya di sini nih. [Courtesy of Youtube]


Jangan heran ya, seorang Barista seperti Aga ini mesti nyobain kopi hingga bergelas-gelas. Hal ini memang nyata dilakukannya. Kalau pagi belum sarapan repot juga harus mencicipi kopi sampai bergelas-gelas. Aga mesti me-make sure saja, berapa jenis produk yang dipunyai harus dicoba. Menurutnya, kurang lebih bisa 10 gelas, bisa mungkin lima kalau memang “jago” banget. 

BACA JUGA: Ngopi Nikmat Bebas Maag Berkat Promag, #NikmatiHarimu Tanpa Gangguan
Dengan mencicipi kopi hingga bergelas-gelas ternyata Aga #NikmatHari-nya. Karena pekerjaan sehari-harinya Barista yang harus mencicipi kopi, memang harus menikmati. “Karena kalau tidak menikmati bisa bosan dan jadi beban juga,” katanya.
 
Aga menunjukkan salah satu jenis kopi enak menurutnya [Foto: Dok Pri]

Aga memberikan kopi hasil racikannya kepada audiens [Foto: Dok Pri]

Mencicip rasa kopi yang sudah biasa dilakukan Aga [Foto: Dok Pri]

Wah, ada hal menarik nih mengapa Aga terpilih sebagai jawara IBC 2018. Ternyata, tidak sembarangan ikut kompetisinya. Menurutnya, kompetisi itu harus dibayar mahal. Juri-jurinya pun harus terkalibrasi. Jadi, sebelum berkompetisi dia mengulik terlebih dahulu ke petani dan keliling kebun kopi yang ada di beberapa daerah di Indonesia. Di situ dia melakukan tanya jawab ke petani, kira-kira kopi apa saja yang enak. Dan Aga request kopi untuk kompetisi yang belum pernah dikeluarin sebelumnya di pasaran.

Di lembar penilaian kompetisi pun ada serangkaian pertanyaan yang mesti diisi.
Memang, di lembar penilaian itu 100% yang dinilai kopi. Nah, kopi ini sebagai senjatanya, bagaimana caranya si user (barista) bisa memanfaatkan kopinya

Aga mengeluarkan kopi yang memang belum pernah dipertandingkan sebelumnya. Sementara, hasil dari wawancaranya dengan petani kopi dijadikan sebagai bahan story telling ke hadapan juri. Aga juga harus make sure bahwa kopi yang dibawanya sebagai kopi yang enak. Kenapa? Karena dia terjun langsung ke sumbernya. Ini juga bisa jadi salah satu penilaian. Nah, support dari tim penting banget.


Blogger dan tamu undangan menyimak apa yang disampaikan Aga tentang kopi [Foto: Dok Pri]

“Jadi, strateginya ketika kompetisi itu saya punya dua partner, satu partner di tahun sebelumnya meregistrasi sebagai juri, jadi dia tahu apa yang dinilai di kompetisi. Sementara, saya daftar sebagai peserta dan teman satunya lagi sebagai helper.  Tetapi, teman saya yang jadi juri tidak boleh menjadi juri untuk saya. Dari teman tersebut saya jadi tahu penilaian yang akan dilakukan juri nantinya. Selain itu ada juga juri dari luar negeri. Juri luar ini sebagai controller untuk nilai-nilai yang diberikan dari juri nasional (lokal) Indonesia. Beruntungnya saya, karena teman saya yang mendaftar jadi juri sebelumnya, saya dapat insight dari luar jadi saya paham. Selain itu percaya diri sih ya,” ungkapnya.

Beberapa tahun lalu, orang tidak begitu mengenal profesi barista seperti apa. Nah, Promag peduli dengan profesi barista ini, karena memang pekerjaannya berhubungan dengan urusan lambung. Perlu juga kita ketahui bahwa, di balik pembuatan kopi, seorang Barista juga menyimpan hal atau fakta menarik. Setiap pagi seorang Barista mesti melakukan kalibrasi mesin kopi sebelum kedai dibuka. Saat pagi hari mencoba  beberapa gelas kopi, itu menjadi tantangan tersendiri untuk lambung, apalagi minum kopi sebelum makan pagi. Oleh  karenanya, pekerjaan Barista begitu rentan dengan penyakit maag.

#NikmatiHarimu Aga berbagi cerita tentang hari-harinya dalam satu video. Bisa diklik di sini.
[Courtesy of YouTube].

Aga juga pernah melihat orang yang tak mengonsumsi kopi, mungkin karena perutnya bermasalah. Sebagai mana yang disampaikannya, di dalam kopi terdapat gas, acid (asam), ini yang memberi impact terhadap perut. Jadi, banyak juga teman-temannya yang tidak dan minum kopi. “Bahkan ada teman sampai masuk rumah sakit karena maag, bukan karena minum kopi saja,” ucapnya.

Nah, Aga memberikan tips-nya untuk yang ngopi agar tak kena sakit maag. “Mencegah lebih baik kan sebelum terjadi. Makanya saya setuju jalan bareng campaign dengan Promag. Ya, sebenarnya salah satu yang bisa kita lakukan adalah mencegah, dengan minum Promag. Lebih baik mencegah sebelumnya, daripada tidak bisa minum kopi.”

Aga juga ternyata mengonsumi Promag kalau terserang maag. Apalagi sekarang produknya gampang banget diperoleh dengan kemasan yang simpel dan praktis di bawa ke mana-mana. Promag sekarang ada dalam bentuk Promag Cair, praktis dan dosis pas dalam bentuk sachet cair.
 
Promag cair dalam bentuk sachet, salah satu solusi atasi sakit maag [Foto: Dok Pri]

Promag Tablet, sudah ada 45 tahun lalu sebagai obat pereda sakit maag [Foto: Dok Pri]

Untuk yang suka minum kopi dan menghindari penyakit maag, Aga memberikan caranya.
1.    Cari kopi dengan tingkat keasaman rendah. Bisa ditanyakan ke Baristanya langsung ketika membeli.  
2.    Kalau cari dalam bentuk  bijian, biasanya dalam kemasannya tertera tanggal kadaluwarsa atau roasting date. Jadi, jangan dikonsumsi terlalu fresh. Misal, kopi baru disangrai kemarin, lantas dikonsumsi hari sekarang, hal ini sudah pasti akan menyebabkan sakit maag. Selain menghindari kopi yang asamnya tinggi, juga cari kopi yang sudah di-roasting karena gasnya sudah teroksidasi.
3.    Kalau suka minum kopi  tapi takut kena maag, tidak harus konsumsi kopi hitam, dicampur susu juga tak masalah. Karena sudah ada pencegahnya, Promag.
4.    Kalau mau bisa juga seduh sendiri di rumah.

“Sementara itu, untuk yang suka kopi asam tapi tidak ingin kena maag pilih metode seduh. Di beberapa kedai kopi ada yang menyajikan kopi dengan metode seduh berbeda-beda. So, kalau sudah tahu kopi itu asam jangan pernah konsumsi kopi espresso untuk yang lambungnya tidak tahan terhadap asam. Intinya sih tetap ya, sebelum ngopi nikmat itu lenyap karena maag menyerang, mesti makan terlebih dahulu. Tapi jangan khawatir, ada Promag yang praktis dibawa-bawa. Jadi #NikmatiHarimu dengan bawa Promag, sakit maag lenyap, ngopi tetap nikmat,” jelas Aga.

Secangkir kopi terbaik buatan Barista pemenang Indonesia Barista Championship 2018. Muhammad Aga dalam satu video penuh makna. [Courtesy of YouTube] Silakan diklik di sini.

Untuk kopi yang cold brew, sebenarnya itu diseduh dengan air dingin. Jadi, kalau kita menyeduh apapun dengan air dingin, baik gula, kopi, garam, dan sebagainya perlu waktu lama untuk zat tersebut larut. Produk atau zat tersebut butuh waktu untuk melarutkan dirinya di air yang dingin. “Oleh karena itu, sebenarnya justru kalau cold brew ada yang mengatakan kafeinnya lebih tinggi. Sebenarnya, kafein pada kopi itu dilihat dari jumlah biji kopi yang dikonsumsi,” sambung Aga.

Kafein itu ada di setiap biji kopi bukan di berapa banyak kopi yang kita seduh. Roast juga seperti itu. Tapi impact-nya signifikan. Misalnya, kita konsumsi kopi 20 gram atau 100 gram. Kadar kafeinnya sudah tentu lebih banyak yang 100 gram. Namun, yang enaknya di cold brew ini justru dapat menurunkan asam. Kebanyakan cold brew itu rasanya lebih strong karena didiamkan (ekstraksi)-nya lama, bisa 10-12 jam.

Kalau melihat kesibukan Aga sekarang, dirinya terbilang cukup sibuk. Saat ini dia mengurus coffee shop yang jadi usahanya, bernama Coffee Smith Jakarta Coffee Shop & Roastery di bilangan Mampang, Gandaria, dan Panglima Polim. “Ya, kesibukan saat ini lagi ngurus coffee shop dan Barista Trainer. Beberapa waktu lalu juga baru ambil sertifikasi internasional, supaya lebih pede aja lagi kalo menilai kopi dengan best pratice gitu,” ucapnya.

Nah, berhubungan dengan #MenikmatiHarimu ini, sebenarnya bagaimana Aga menikmati hari-harinya? “Kalau kalian lihat video yang beredar di Youtube atau di iklan, ya seperti itulah kehidupan saya sehari-hari dan menikmati hari. Kerjaan saya ya begitu, buka coffee shop, beresin coffee shop, nyiapin kopi. Kopi yang saya buat itu bisa dinikmati. Intinya sih sebelum buka kedai kita harus teliti, make sure-lah ya. Misalnya nih buat Cappucino, kalau ada yang mesen ya rasanya harus kayak gitu. Kita itu jualan, bukan gue beli kopi langsung jadi, terus mereka yang beli gak balik lagi. Jadi, di-make sure dulu dari kualitas, hospitality, dan banyak lainnya,” jelas Aga di sela-sela perbincangannya dengan Blogger Indoblognet dan tetamu  undangan lainnya di Liberica Coffe Pasaraya Blok M pada Kamis (27/09/2018).

Aga  in deep banget dengan yang namanya kopi. Wajar dong ya karena Barista yang selalu berhubungan sama kopi. Menurutnya, sekarang ini kopi sudah jadi lifestyle (gaya hidup). Jadi, semua orang mulai dari anak-anak sampai orang dewasa  suka ngopi. Karena ini jadi satu potensi, juga barista sebagai ujung tombaknya petani kopi. Secara tidak langsung, barista itu bukan hanya coffee maker, tetapi juga sebagai story teller yang mampu menceritakan di balik pembuatan dan tersajinya secangkir kopi ke tamu.

Ditanya soal kopi favoritnya, Kopi Papua menjadi favorit Aga, karena rasanya enak, tumbuh di dataran tinggi di ketinggian 2130 mdpl. Selama ini, dia tahunya kopi Papua Wamena tidak banyak dikonsumsi keluar. Ternyata banyak distrik yang menanam. Karena logistiknya sulit, jadi dikepul oleh satu orang. Rasa kopi Papua ini pas dan beda menurutnya. Dilihat dari jenis kopi, cara menanam, dan racikannya berbeda. Kopi Papua ini ternyata tidak dijual ke luar seperti Jakarta, atau daerah lainnya, tetapi di jual ke PNG (Papua New Guinea). Karena aksesnya lebih gampang.

Selain itu, Aga juga menyukai kopi Sumatera. Karena di Sumatera terkenal sebagai perkebunan kopi terbesar di Indonesia. Kopi ini punya kelas juara di Sumatera dan paling dikenal. Di Pulau Sumatera ada kopi dari jenis Sidikalang, Kopi Lintong, & Kopi Mandailing. Cita rasanya unik bertekstur halus bau tajam. Kopi ini paling banyak diminati. Kalau kopi luar dia sangat suka kopi Kenya. “Ga ada kopi yang ga enak, semuanya enak,” katanya.

Keseruan #NikmatiHarimu Cerita Di Balik Barista
Keseruan perjumpaan para Blogger Indoblognet dan tamu-tamu undangan di Liberica itu pun semakin hangat dan akrab. Apalagi MC-nya Kiki- penuh semangat dan ceria menjadi penggawa acara. Ada saja lontaran banyolan dari kata-kata centilnya yang keluar mengundang gelak tawa.
 
Liberica, tempat keseruan antara Blogger, Undangan bertemu [Foto: Dok Pri]
Gayanya pun khas millenial sekarang dengan celana jogger cokelat, baju kotak-kotak hijau toska berpadu warna cokelat dibalut blazer putih. Suasana tampak sangat hidup. Sementara temaram lampu sorot yang langsung jatuh ke baliho besar di depan Blogger dan tamu undangan tampak nyata. Tulisan bertanda pagar “#NikmatiHarimu” dan “Cerita Dibalik Barista” semakin memesona berlatar belakang hijau khas warna Promag sebagai obat maag sekaligus ahlinya lambung.

Terkadang gelak tawa keluar dari audiens melihat gaya Kiki yang kocak. Saya pun tak kuasa menahan kocokan banyolannya. Riuh rendah tepuk tangan pun terus membanjiri tatkala bintang utamanya bercerita. Sesekali iringan musik instrumentalia diperdengarkan di sela-sela jeda jawab juga tanya Aga dan Kiki.
 
Muhammad Aga, ketika maag mnyerang, Promag jadi solusi atasi maagnya [Foto: Dok Pri]
Blogger dan tetamu undangan pun aktif menggali sisi lain Barista Aga yang good looking tersebut. Silih ganti pertanyaan pun datang menghampiri Aga yang dimoderasi Kiki sebagai penyambung lidah. Aga pun dengan tenang menjawab setiap pertanyaan dilontarkan. MC-nya pun cerdik memberi umpan balik kepada penanya.

Setelah usai lontaran pertanyaan, Aga menuju mesin kopi. Dia menunjukkan keahliannya dihadapan  blogger dan tamu undangan membuat kopi dengan takaran tertentu, lantas disajikan. Aga minta pendapat dari orang-orang yang mencecapnya, apakah asam berlebihan atau pas sesuai pesanan.



Suasana ramai dan riuh di Liberica oleh tamu undangan dan blogger mendengarkan penjelasan Aga tentang kopi [Foto: Dok. Pri]

Usai Aga memperlihatkan kemahirannya meracik kopi, MC memintanya kembali untuk bergabung bersama blogger dan tamu undangan. Aga pun kembali didaulat untuk menyampaikan beberapa pesan-pesan dan melontarkan pertanyaan seseruan ke audiens. Hadiahnya, ahaaa… ada voucher Sodexo senilai 200K untuk yang bisa menjawab pertanyaan. Untung jangan ditolak ya gaes, salah satu lontaran pertanyaan hinggap di saya. Gayung Sodexo melesat dalam pelukan.

Pastinya, hal ini sudah jadi makanan blogger sehari-hari untuk foto-foto ketjeh tanpa malu. Hmm… semangat blogger patut diacungi jempol. Usaha tak akan mengkhianati hasil.  
 
Saya pun begitu, ketika maag menyerang Promag jadi senjata untuk atasinya [Foto: Dok Pri]
Oya, di awal-awal MC memberikan notif kepada tetamu undangan dan blogger untuk foto  di mana pun yang terlihat instagramable dengan tagar yang sudah ditentukan. Tentunya, foto tersebut jadi satu kompetisi untuk mendapatkan hadiah menarik dari Promag. Di penghujung acara MC mengumumkan pemenang instagram competition, lima blogger terpilih mendapatkan hadiah lagi dari Promag berupa voucher Sodexo senilai 200K yang langsung diserahkan oleh representatif Promag.
 
Bersama rekan-rekan Blogger Indoblognet  [Foto: Dok. Pri]
Sebelumnya pun iringan musik dari band anak muda Jakarta mengiringi jamuan makan di sore acara itu, dengan  beberapa lagu yang sempat saya hapal syairnya. Ya, Liberica Coffee Pasaraya menjadi saksi keseruan acara di hari itu dengan kolaborasi Muhammad Aga dan Promag. #Promag #AhlinyaLambung #NikmatiHarimu #CeritaDibalikBarista

 
Kopi, meski pahit tapi tetap dicari [Foto: Dok Pri]



8 comments:

Anisa Deasty Malela said...

Kisah panjang dan penuh makna dalam secangkir kopi

Riza Firli said...

Mas ju lengkap n panjang bgt ceritanya :) *kece

Jun Joe Winanto said...

Mba @Anisa: Bukan lagi, perjalanan panjang itu benar sih kata tetua dulu, akan membentuk seseorang dan menghasilkan apa yang diinginkan.

Mas @Riza: Aiiih sekece dirimu yaa Mas. Terima kasih Mas Riza.

Andri Mastiyanto said...

Quote terakhir nya ajib bener dah

Gita siwi said...

Promag Solusi Sakit maag agar kita dapat menikmati hari dengan kopi ya

Yesi Intasari said...

Benar-benar perjuangan yang panjang banget ya dari seorang aga ini, dia juga punya solusi sakit maag yang rawan menyerang seorang barista karena setiap hari diharuskan mencicipi kopi

Farichatul Jannah said...

Waw keren yah Muhammad Aga dapet penghargaan dari Belanda.

Andri Mastiyanto said...

Kalo demen Ngopi ya bersiap dengan masalah lambung. Untuk itu perlu solusi sakit maag seperti Promag