Wednesday, May 30, 2018

Anak Muda Indonesia Saatnya Bangkit dan Berdaya: Heni Sri Sundani, Sarjana Lulusan Luar Negeri Rela Pulang Kampung Membangun Desa


Heni Sri Sundani-Founder Smart Farmer Kids in Action & AgroEdu Jampang Community [Foto: DokPri]
Heni Sri Sundani, hanyalah seorang anak petani miskin. Boleh dibilang, makan hanya sekali sehari. Tiba-tiba masuk majalah Forbes. Masa kecil yang sangat miris, ketika berumur satu tahun sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya karena perceraian.

Ibunya menikah di usia yang sangat muda, bahkan sebelum mendapatkan haid pertamanya. Heni lebih banyak diasuh oleh sang nenek yang notabenenya tidak bisa baca dan tulis. Ketika ingin sekolah, saat SD sekolah ditempuh dalam waktu 2 jam, SMP lebih kurang 4 jam pulang pergi.

Sementara, SMA sendiri adanya di kota, bahkan ketika ingin melanjutkan kuliah dirinya justru menjadi TKI ke Hongkong. Hidupnya memang tidak pernah mudah. Tapi Heni tidak pernah menyerah, ketika dia berpikir menyerah, otomatis hidupnya akan berakhir seperti sang Ibu.

Pun hidupnya akan berakhir seperti teman-teman sebayanya yang baru berumur 13 tahun tetapi sudah jadi janda dua kali. Ketika Heni datang ke berbagai forum, banyak mahasiswa/i yang ingin jadi seperti dia.

Heni berkata kepada mereka,”Jangan jadi saya, jadi saya itu berat, biar saya aja, kamu ga akan kuat,” (ngakak juga saya dengarnya).

Heni membuat satu campaign, namanya Sarjana Pulang Kampung. Dia kembali ke Kampung dan membangun kampung. Pertanyaannya, “Mengapa harus kembali ke Kampung?” Kita semua tahu, orang-orang terbaik di Indonesia terpusat di kota. Tetapi yang dibutuhkan Indonesia, buka satu obor raksasa di Jakarta. Tetapi yang dibutuhkan Indonesia di masa depan adalah obor-obor kecil yang menyala dari sebuah desa.

Saat ini Heni membuat satu gerakan bernama “Anak Petani Cerdas”. Dulu hanya dimulai dengan 15 orang anak dan modal 100 ribu rupiah. Bersyukur setelah satu-tiga tahun berjalan, ada tersebar lebih dari 3.000 anak yang tersebar di pulau Jawa dan Lombok.

Kalau dulu Heni hanya membantu satu kampung saja di Bogor. Tetapi, setelah lima tahun kemudian, dirinya dan teman-temannya bisa membantu lebih dari 150 ribu keluarga petani dari Aceh hingga Papua.

Bagaimana caranya Heni bisa sampai seperti itu? Heni memulai dari “Setiap  orang harus menemukan WHY-nya masing-masing.” Mengapa harus menemukan WHY-nya?
 
Mulailah dengan WHY [Foto: Dok Pri]
Menurut Heni, “Saya memberi bukan karena saya punya banyak, tetapi karena saya tahu bagaimana rasanya tidak punya apa-apa. Ketika saya ingin sekolah, saya tidak punya duit untuk sekolah. Ketika ingin makan, saya tidak punya duit untuk makan. Saat mau lanjut kuliah, tidak ada beasiswa. Akhirnya, dari menemukan why inilah, itu yang akan menjadi alasan terbaik kita untuk melakukan hal ini.”

Ketika kita ingin melakukan perubahan sosial, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membantu diri kita sendiri dulu. Bayangkan saja, bagaimana kita bisa membantu orang lain kalau kita tidak bisa membantu diri sendiri.

Setelah bertemu dengan alasan yang tepat mengapa kita harus mengerjakan hal ini, barulah kita akan dapat yang namanya komitmen. Karena yang namanya perubahan sosial itu tidak mudah. Banyak sekali hal-hal yang harus kita korbankan. Termasuk diri kita.

Pengorbanan yang Heni lakukan ketika lulus dari Hongkong di tahun 2011, dia menjadi salah satu sarjana dengan predikat terbaik. Dia banyak mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Tapi, dia lebih memilih pulang ke Indonesia dan menjadi salah satu guru yang hingga hari ini tidak pernah dibayar.

Pernah satu ketika Heni mengajar di sekolah formal. Akan tetapi, hal itu tidak bisa dilakukan kalau setengah-setengah dan mesti full time. Jadi, kalau ditanya apa pekerjaannya saat ini, Heni bisa menjawab full time di komunitas.

“How far you go, seberapa jauh kita melangkah,seberapa tinggi kita terbang dengan gerakan dan komunitas kita, itu bergantung seberapa kokohnya komitmen kita,” tutur Heni.

Karena kalau kita melakukan pekerjaan ini di masyarakat, menurut Heni, kita akan banyak menjumpai kesulitan. Fondasi kita mesti benar-benar kuat, karena tidak ada yang menggajinya.

Untuk bisa membuat gerakan  sosial atau usaha sosial di masyarakat apalagi? Biasanya, Heni memulai dari “What” dulu. Apa masalah di sekitar kita. Melihat permasalahan di sekitar kita apa. Heni membuat “Anak Petani Cerdas” karena tinggal di kaki Gunung Pangrango, di Cimande.

Jadi, masalah di sekitar kita itu apa. Kita bisa atau tidak menjadi bagian dari solusi permasalahan yang ada di sana. Lantas tujuannya apa? Heni percaya, bahwa pendidikan itu senjata paling ampuh untuk memutus rantai kemiskinan. Hal ini telah ia buktikan sendiri. Goalnya adalah, agar anak-anak petani miskin yang tidak punya harapan, bisa bersekolah. Di satu rumah ada yang bisa jadi sarjana.

Kenapa? Karena kalau kita hanya memberi bantuan sembako terus menerus, justru tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ingin diselesaikan adalah akar masalahnya. Selanjutnya adalah “Resouces”-nya apa? Ketika kita ingin memulai gerakan sosial bertanyanya jangan ke orang, tapi tanyakan ke diri kita.

Apa kita miliki saat ini? Di Gerakan Anak Petani Cerdas, Heni berpikir dia punya ilmu. Dia sanggup mengajar, akhirnya diputuskan untuk  mengajar. Tidak perlu harus menunggu orang lain. Bayangkan, kalau kalian ingin membuat gerakan sosial menunggu orang lain, akan lama dan bisa tidak jadi-jadi.

Ketika mengerjakan sesuatu itu kerjakan yang benar, bukan yang paling mudah. Karena hal ini penting. Mengerjakan yang mudah-mudah tetapi bukan itu tujuannya, justru tidak akan menyelesaikan apa-apa.

Lantas jalannya dengan cara bagaimana? Ada banyak cara, ada yang membuat platform online sosial, startup, juga membuat komunitas kecil-kecilan. Semuanya memang benar, yang tidak benar itu yang tidak melakukan apa-apa. “Ujung-ujungnya, kita akan bertemu dengan passion kita,” ucap Heni.

Untuk menjadi leader di masyarakat, menurut Heni bukan dari power-nya, tetapi justru dari ability empower others. Terakhir, lebih ke arah “WHO”-nya. Kita mengerjakan hal ini untuk siapa, targetnya siapa, donaturnya siapa, partnernya siapa.

“Partner terbaik saya adalah suami saya. Karena apa? Diskusinya mudah di rumah. Ketika saya menikah dengan suami saya, saya melihat cara berpkir yang sama. Karena menikah itu bukan sekadar aku dan kamu menjadi kita. Saya memilih laki-laki ini karena visi dan misinya sama seperti yang saya miliki. Kami prosesnya ta’aruf, dan saya memilih dia gara-gara dia bilang seperti ini,”nikah itu bukan siapa yang paling siap, tapi siapa yang paling berani,” tutup Heni.






Anak Muda Indonesia, Saatnya Bangkit dan Berdaya: IDN Media, Beragam Berita untuk Millenials

CEO Muda Indonesia [Foto: Dok Pri]

Masih mengandalkan ijazah untuk menemukan talenta yang ada dalam diri? Masih bergantung pada “Beasiswa Ayah Bunda” untuk pergi ke mana-mana, sementara usia sudah dianggap mampu secara finansial untuk mandiri? Ah, NO untuk saya! Sepertinya usia-usia masuk kategori bisa “mandiri” sudah saatnya lepas jadi beban orang tua.

Sudah saatnya mengembangkan diri dan bukan jadi beban orang tua lagi. Mesti berpikir, “Bagaimana cara memenuhi finansial secara personal.” Itulah perlunya cara-cara berpikir entrepreneurship yang akan membawa seseoran pada penemuan jati diri. Mau ke arah mana jalan hidup yang akan dijalani. Bukan, besok mau kerja apa.

Mencari apa yang jadi keinginan itu sebagai sebuah proses panjang memang. Bukan semata-mata hadir di depan mata. Mengenyam bangku pendidikan sebagai bentuk formalitas agar tak tertinggal, bukan sekadar dianggap intelek. Tetapi, mampu berpikir untuk mendapatkan wawawan, pengetahuan, juga ilmu lantas mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Begitulah anak muda tanah air semestinya. Pola berpikir “manja” mesti dienyahkan. Memberikan manfaat untuk orang banyak harus didatangkan. Indonesia, banyak anak-anak muda bertalenta dan punya kemauan kuat untuk mengembangkan dan berbagi dengan sesam. Tak lepas hanya bisnis semata. Tetapi, memberikan kebermanfaatan untuk orang banyak sebagai satu langkah nyata yang diabdikan untuk negeri.

Dari sinilah kita belajar semangat daya (kekuatan) anak-anak muda Indonesia yang mau bangkit untuk menggali potensi diri, terkhusus dalam dunia usaha (entrepreneur). Dalam satu kesempatan itu, saya hadir atas invitasi Kementerian BUMN dalam Sinergi Muda “Anak Muda Bangkit dan Berdaya untuk Indonesia” di kawasan Jakarta Selatan.

Pada kesempatan itu, dalam nuansa Hari Kebangkitan Nasional, ada beberapa anak muda Indonesia yang hadir dari latar belakang pendidikan berbeda dengan usaha berbeda pula. Siapa saja mereka? Mari kita kulik satu per satu.

William Utomo Founder IDN Media

IDN Media, Beragam Berita untuk Millenials

William Utomo, tak berlatarbelakang pendidikan media. Tetapi, dia beserta kakaknya begitu tertarik dengan dunia media. Mempelajari segala bentuk keinginan anak-anak muda  jaman now yang serba digital.
 
William Utomo CEO IDN Media [Foto: Dok Pri]
“Sekitar 60 juta audiens  itu unik dengan beragam platfrom  IDN Media fasilitasi”, ungkap William.

Peluang dunia digital anak-anak muda Indonesia diriset panjang olehnya. Pada Juni 2014, IDN Media lahir untuk generasi milenial dan Gen Z di Indonesia. Turunannya cukup banyak, seperti IDN TIMES berisi beragam News & Entertainment Media dengan skup News, Health, Food, Community, Sport, Hype, Business, dan Travel.

Begitu pula dengan POPBELA.com yang fokus pada dunia wanitan(18-24 tahun) seperti beauty, Fashion, Career, juga Relationship. Ada pula POPMMA.com. Popmama lebih kepada ibu-ibu muda yang bermain sosmed pula. Isinya pun seputar Pregancy, Baby, Parenting, Toddler, dan Lifestyle.

Masih di dalam Lini IDN MEDIA, Willian tak mau ketinggalan dengan bentuk model online news lainnya yang berisi khusus makanan. Dia pun menelurkan apa yang disebut Yummy. Media yang fokus pada makanan milenial, seperti Recipe, Video, Cooking Tutorial, dan Culinary Exploration. Di Yummy banyak interaksi pembaca.

IDN pun terus mengembangkan sayapnya dengan membuat IDN CREATIVE berupa agency dan IDN EVENT.

“Kita sebagai pelaku media mesti cepat beradaptasi, di mana letak audiennya yang ada di Indonesia,” tutur Willian.
 
IDN Media didirikan bersama Sang Kakak [Foto: Dok Pri]
Satu, dua, atau lima tahun ke depan kita tidak tahu, orang Indonesia mengonsumsi medianya seperti apa. Satu hal yang bisa kita sepakati bersama, ketika platformnya berpindah, kita juga harus mengikuti platform tersebut.

Di zaman dahulu, paling enak buat postingan di FB. Tekan tombol share, twitter masuk, instagram masuk. Kalau kita ada intention di satu platform, kita mesti tahu di dalam platform tersebut ada apa saja dan ada di mana, format/bentuk, dan sukanya seperti apa.

Twitter sangat berbeda dengan Line. Kalau kita posting status galau di Line, yang nge-like sangat banyak. Tetapi, ketika kita posting status galau di Twitter,  yang maki kita banyak. Indonesia sebagai Mobile Only Country.

Pembaca zaman sekarang maunya di-involve. Jangan sampai kalau kita buat postingan, post, publish, dan selesai, bukan begitu. Orang-orang suka kalau ditanya. Kita buat caption dengan kalimat terakhirnya, “Menurut teman-teman bagaimana?” Jadi, ada interactiveness.
 
Lini IDN Media [Foto: Dok Pri]
IDN Media fokus pada tiga hal:
1.    Multiplatform
2.    Indonesia, Mobile Only Country
3.    Interactiveness
  
“Mulailah dari hal kecil kalau kita ingin menjadi besar” –BYME--

Friday, May 25, 2018

Sudahkah Kita Menerapkan #MakanBijak?


 
Arief Daryanto, Ph.D., Direktur dan Peneliti bidang Ekonomi Agribisnis IPB [Foto: Dok Pri]

Makan memang sudah jadi kebutuhan pokok manusia, di manapun berada. Pemenuhan kebutuhan makanan sebagai salah satu bagian wajib diri maupun keluarga yang harus dipenuhi. Makan dan makanan menjadi sumber utama energi, penyerapan zat-zat berguna untuk merangsang pertumbuhan sel-sel tubuh juga nutrisi otak jangka panjang.

Saya pribadi punya pengalaman dengan makan dan makanan itu sendiri. Bagi keluarga saya, makanan itu mesti dihargai dan dihormati. Memperolehnya pun tak segampang membalik telapak tangan. Ada usaha dan kerja keras dari orang lain, juga terutama ayah sebagai pencari nafkah, sementara ibu yang mengolah makanan tersebut menjadi makanan lezat.

Anak-anak orang tua saya itu ada enam orang. Ibu selalu masak dengan tiga lauk macam lauk dan satu macam sayuran. Biasanya, untuk makan ibu sudah tahu seberapa banyak dan besar porsi makan dari tiap-tiap anaknya. Dengan satu setengah centong nasi, sayur, dan tiga macam lauk tadi sudah ditata dalam piring saji anak-anaknya.

Apapun yang disajikan di dalam piring kami, mesti dihabiskan. Hal ini sudah diterapkan ibu kepada anak-anaknya sejak kecil. Jika dalam satu piring saji kami tidak ada yang habis, ibu menerapkan hukuman untuk makan keesokannya. Salah satu anaknya yang tidak menghabiskan hidangannya tidak akan mendapatkan jatah 2 macam lauk.

Hingga saat ini, hal itu berlaku pula untuk keluarga saya. Kalau saya masak dua atau tiga jenis lauk pauk dan satu jenis sayuran, apapun yang saya sajikan untuk keluarga harus dihabiskan di dalam piring saji tersebut. Saya tidak akan memasak lagi dengan jumlah lauk dan menu tersebut. Tetapi, akan saya kurangi hanya satu macam lauk dan satu macam saja jenis sayurnya.

Benar sekali memang, kita mesti menjaga bahan-bahan makanan yang ada termasuk makanan yang sudah dimasak jangan sampai terbuang percuma. Menurut Food Sustainability Index 2017 yang dirilis oleh The Economist Intelligence Unit (EIU), untuk katagori limbah dan bahan makanan yang terbuang (Food Loss and Waste), Indonesia menempati peringakt kedua terbawah atau hanya lebih baik dari Arab Saudi.

Nah, di sinilah saya menerapkan pentingnya  makan makanan yang ada di dalam piring saji wajib dihabiskan, jangan ada yang tersisa. Terserah saja orang mau bilang “rakus” atau apa. Bahwa, Allah SWT juga memberikan kita kenikmatan makanan itu jangan disia-siakan. Mubazir itu temannya setan.

Dari hal-hal inilah, kita, saya dan keluarga terutama, mesti menerapkan yang namanya #MakanBijak. Artinya apa? Ada batas-batas perut dapat menerima makanan yang tersaji atau dihidangkan. Jadi, kita makan itu tidak karena lapar mata. Jika hidangan yang tersaji rasanya ingin dimakan, itu  hanya nafsu semata.

Apalagi saat ini kita masuk di bulan suci Ramadan. Otomatis dan tentunya, banyak sekali hidangan yang disajikan, beragam warna, beragam rasa, juga beragam nama. Mestinya, di bulan Ramadan, justru kita mengerem untuk tidak membuat makanan jadi terbuang sia-sia. Dinas Kebersihan DKI Jakarta pada 2016 saja mengungkap ada kenaikan volume sampah sebesar 10% di 10 hari pertama Ramadan. Dominan dari sampah itu adalah sampah organik berupa sisa makanan.

Entah itu sisa makanan yang memang dimakan lantas tidak habis, juga makanan yang dibuat karena lapar mata dan nafsu, lantas tidak dimakan.  Sangat disayangkan memang.
 
Dinda Parameswari-Assistant Brand Manager Mylanta [Foto: Dok Pri]
“Makanlah makanan sesuai dengan porsi kita, jangan berlebih-lebihan. Jadi tidak lapar mata. Makan makanan yang kita butuhkan bukan yang kita maui,” ucap Dinda Prameswari  Assitant Brand Manager Mylanta pada 15 Mei 2018 di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan.

Nah, sudah kita ketahui bersama, bahwa Mylanta ini sebagai salah satu produk untuk mengatasi gejala sakit maag yang berinisiatif mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menerapkan kebiasaan makan secara bijak melalui kampanye “Makan Bijak”. Karena, selain dapat membantu mengurangi sampah makanan, #makanbijak juga sangat baik untuk kesehatan perut. Apalagi saat ini masuk dalam bulan Ramadan, dengan mengonsumsi makanan tidak berlebihan, juga dapat membantu menjalani ibadah puasa secara aman.

Menurut Dinda juga bahwa Mylanta ini mampu menetralisir asam lambung. Mylanta begitu intens untuk mendorong masyarakat Indonesia menjaga pola makan dan menjaga alat pencernaan melalui pola makan yang baik dan benar.

Selain itu, tak bisa dihindari bahwa, orang Indonesia sangat suka yang namanya kebersamaan atau kumpul-kumpul. Kumpul-kumpul (hangout) ini tentunya selain minum (teh atau kopi) juga makan. Disampaikan pula oleh Dinda, bahwa makanan di masyarakat Indonesia dipercaya menjadi perekat hubungan sosial.

Selain itu, menurut studi yang dilakukan Mylanta bahwa 63% sakit maag disebabkan oleh pola makan. Bayangkan saja, 2,5 juta orang berpotensi sakit maag karena makan berlebihan. Memang, mesti benar-benar menerapkan #MakanBijak agar hal ini tidak mendera keluarga kita.

Apa yang melatarbelakangi sehingga kita perlu #MakanBijak? Ada beberapa hal yang akhirnya menurut Dinda kita perlu #MakanBijak, yaitu karena seringnya kita memesan makanan terlalu banyak. Makanan yang dipesan belum tentu dimakan semua sehingga makanan mubazir dan terbuang percuma. Memesan makanan yang terlalu banyak dan makan berlebihan  akibatnya orang terkena gangguan pencernaan. Selain  itu, makanan yang sudah dipesan kemudian dimakan tetapi tidak dihabiskan, akhirnya menimbulkan sampah makanan.

Dinda juga mengatakan, “Bukan hanya makan yang tidak teratur, mengonsumsi makanan secara tidak bijak, misalnya berlebihan juga dapat mempengaruhi kesehatan perut, salah satunya seperti rasa begah dan tidak nyaman di perut. Jelang bulan puasa ini Mylanta mengajak masyarakat Indonesia untuk  lebih bijak dalam mengonsumsi makanan sehingga pencernaan lebih terjaga dan lebih nyaman dalam menjalankan ibadah puasa.”

Jadi, #MakanBijak juga dapat memberikan impact terhadap food waste yang selama ini banyak terjadi di masyarakat termasuk juga food loss. Akan tetapi, keduanya punya pengertian yang berbeda. Menurut Arief Daryanto, Ph.D., Direktur dan Peneliti bidang Ekonomi Agribisnis Institut Pertanian Bogor menjelaskan, Saat membahas mengenai ketersediaan atau ketahanan pangan (food security), seringkali kita hanya berfokus pada cara untuk meningkatkan produksi makanan tanpa memikirkan bagaimana mengatasi faktor tingkat food loss & waste. Padahal food loss & waste merupakan persoalan penting yang kini menjadi perhatian negara-negara di dunia karena dapat mempengaruhi tingkat ketahanan pangan suatu negara serta berimbas pada pemerataan kesejahteraan masyarakat.”

Fakta tentang Food Loss dan Food Waste [Foto: Dok Pri]

Apa sebenarnya food loss itu sendiri? Food loss adalah makanan yang hilang sebelum sampai ke tangan konsumen (kehilangan yang terjadi ketika makanan dalam tahap pengolahan atau distribusi). Sementara itu, food waste sendiri kehilangan yang terjadi pada saat makanan dikonsumsi.

Ini sebagai gambaran untuk kita, masyarakat Indonesia khususnya bahwa menurut FAO, ada sekitar 1.3 triliun ton makanan yang hilang setiap tahunnya di seluruh dunia dengan rincian: tingkat kehilangan saat produksi 10%, kehilangan  saat tahap pengolahan paska panen & distribusi 7%, kehilangan selama pengolahan 15, kehilangan saat pemasaran 6%, dan kehilangan saat tahap konsumsi 9%.

Jadi, penerapan #MakanBijak bukan sesuatu yang mustahil untuk kita lakukan. Mengingat hingga triliunan ton makanan yang hilang, sayang sekali kalau kita juga ikut menyia-nyiakan  atau memubazirkan makanan yang sudah disediakan. #MakanBijak menjadi salah satu kunci pula untuk kita terhindar dari segala macam penyakit karena tumpukan sampah organik makanan.
 
Annisa Paramitha, Representatif Waste4Change [Foto: Dok Pri]
Sehubungan dengan sampah makanan ini juga, Annisa Paramitha dari Waste4Change, salah satu organisasi yang konsen pada lingkungan menyampaikan, “Konsumen Indonesia dihadapkan pada banyaknya pilihan makanan, tapi tidak semua pilihan itu merupakan makanan yang baik atau sehat untuk dikonsumsi. Saat 40% masyarakat Indonesia dinyatakan kurang gizi, sekitar 10% yang lain justru mengalami obesitas (kelebihan berat badan). Dengan tingkat sampah makanan mencapai 13 juta ton per tahunnya, kita sebenarnya bisa memenuhi kebutuhan pangan 28 juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan mengurangi sampah makanan, selain dapat mengatasi krisis pangan, kita juga bisa mengurangi dampaknya terhadap kerusakan lingkungan misalnya menurunkan tingkat gas metana.”

Bagaimana sampah-sampah makanan ini dikelola secara bijak oleh Annisa? Diketahui bahwa di Jakarta saja per harinya menghasilkan sampah sebanyak 7.500 ton dan ironisnya 4.050 tonnya adalah sampah makanan. Nah, 65% dari sampah makanan itu berasal dari perumahan. Saking banyaknya produksi sampah makanan ini, berkait erat dengan perilaku masyarakat itu sendiri.
 
Inilah sampah makanan yang ada di Jakarta [Foto: Dok Pri]
Perlu juga kita ketahui bersama bahwa sampah-sampah makanan itu tadi berasal dari pola konsumsi makanan yang berlebihan, menyisakan makanan, juga proses industri pangan mulai dari transportasi hingga standar kualitas buah dan sayuran.

Hal tersebut didukung dengan fakta sampah makanan yang ada di Indonesia itu sendiri. Jumlah penduduk Indonesia yang 250 juta dengan kebutuhan makanan per tahunnya mencapai 190 juta ton, dan total makanan yang terbuang per tahunnya mencapai 13 juta ton. Kalau dilihat, 13 juta ton makanan yang terbuang ini sama dengan jumlah kebutuhan makan 11% populasi Indonesia atau sekitar 28 juta penduduk. Hmm… sayang banget ya kalau makanan kita disajikan tidak dihabiskan.

Apa kerugian yang dapat ditimbulkan dari hal ini? Tentunya banyak, antara lain penumpukan sampah makanan/organik di TPA yang berpotensi menimbulkan gas metana. Gas ini pun akan ikut berkontribusi pada pemanasan global. Selanjutnya terjadinya krisis pangan yang berdampak pada keberlanjutan manusia.

Oleh karena itu, sampah makanan ini harus dicegah dengan #MakanBijak, mengambil makanan secukupnya dan menghabiskannya, juga berbelanja secara bijak.dan tentunya kita perlu memeriksa secara berkala masa berlaku makanan dalam kemasan agar tidak mubazir.
Bagaimana solusi mengelola sampah makanan ini? Tentunya kita mesti memilah sampah dari sumber dan proses sampah makanan menjadi kompos yang bermanfaat untuk tanaman. Ya, masyarakat memang mesti didorong untuk #MakanBijak dan tidak berlebihan.

Apa yang bisa kita perbuat untuk hal ini? Berikut tipsnya:

1.    Mengurangi konsumsi makanan instan yang tidak baik untuk kesehatan dan beralih konsumsi makanan yang diproduksi secara lokal (tentu lebih sehat dan segar).
2.    Rencanakan dengan saksama sebelum membeli (beli yang dibutuhkan-tidak tergoda dengan makanan yang tidak baik untuk dikonsumsi).
3.    Masak bahan makanan seperlunya dan tidak menyisakan makanan.
4.    Simpan bahan makanan dengan baik agar dapat dikonsumsi untuk jangka waktu lebih lama.
5.    Olah kembali makanan yang tidak bisa kita makan.
6.    Selain itu, pihak pengelola restoran juga sebaiknya menerapkan sistem denda jika pembeli menyisakan makanan (perlu nih disosialisasikan, jadi makanan tidak mubzir).

Tentang Mylanta
Mylanta merupakan  antasida—obat maag dar PT. Johnson & Johnson Indonesia. Bahan aktif Mylanta adalah Alumunium Hidroksida, Magnesium Hidroksida, dan Stimekon yang dapat meredakan gajal skit maag karena asam lambung berlebih seperti perih dan mual. Mylanta tersedia dalam kemasan cair dan tablet dengan quick action formula, bantu cepat sikat sakit maag kapanpun maag menyerang.
 
Box makanan yang disiapkan Mylanta tatkala makanan tidak habis dan boleh dibawa pulang [Foto: Dok Pri]