Monday, July 30, 2018

CNI Against Cancer: Diet, Nutrisi, dan Pencegahan Kanker Menurut Pakar



 
Prof. Chau Chi Fai - NHC University Taiwan [Foto: Dok Pri dalam CNI]

Mendengar kata kanker, bergidik rasanya. Kata ini menjadi hal yang paling menyeramkan dan sangat menakutkan untuk saya secara pribadi. Entah berapa banyak nyawa melayang karena kanker. Memang, kita tak minta penyakit untuk datang, namun dia datang tak pernah kita undang. Entah karena tubuh kita menjadi salah satu tempat yang cocok untuk mereka berkembang biak, atau memang ada faktor pemicu yang membuat sel kanker di tubuh bisa tumbuh subur.

Sejumlah penelitian memberitakan, bahwa kanker menjadi pembunuh nomor wahid di dunia. Tak mustahil banyak merenggut nyawa. Kanker pun bisa menyerang siapa, kapan, dan di mana saja, mulai dari bayi, balita, remaja, hingga dewasa. Pertumbuhan sel kanker boleh dibilang lambat, tetapi akan terpacu dan cepat berbiak tatkala sel kanker menemukan “makanan” yang tepat untuk dirinya.

Benar adanya, kanker menjadi salah satu penyakit yang paling ditakuti warga dunia. Akan tetapi, kalau kita lihat kenyataannya lebih dari 30% penyakit ini dapat disembuhkan. Bagaimana caranya? Salah satunya dengan mengubah faktor risiko perilaku dan cara atau pola makan penyebab pemicu kanker. Meskipun kanker ditakuti, akan tetapi tidak berarti penyakit ini dapat terjadi dalam waktu singkat. Perlu waktu yang panjang untuk sel-sel kanker berkembang menjadi ganas atau jinak.

Deteksi dini penyakit ini otomatis akan memungkinkan kita memperoleh penanganan secara cepat dan lebih baik. Deteksi awal memang dari tubuh kita sendiri, apakah kemungkinan ada yang mencurigakan atau biasa-biasa saja. Perlunya general check up juga untuk mengetahui keadaan atau kondisi tubuh seseorang.

Memang, kalau dilihat secara garis besar gejala kanker yang ada masih bersifat umum dan dapat berbeda, tergantung lokasi, karakter keganasan, dan ada tidaknya metastasis. Tetap saja, memeriksakan diri di awal-awal dapat membuat perubahan besar dalam diri. Ada baiknya, sediakan waku untuk segera memeriksakan diri baik itu dengan gejala atau tanpa gejala sekalipun. Mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan?

Jangan pernah berpikir dan bermain-main sepele dengan kanker. Di Indonesia sendiri, penyakit kanker masih sangat menghantui dan menjadi momok menakutkan. Mungkin tak hanya satu dua penyakit saja, beberapa penyakit kanker ada pada posisi paling atas sebagai pembunuh di Indonesia.

Menurut World Health Organization (WHO), menyebutkan pada  2012 ada 14 juta kasus baru dan 8,2 juta orang meninggal dunia karena kanker. Diperkirakan hal ini akan terus meningkat menjadi 24 juta di tahun 2035.

Berdasarkan data GLOBOCAN  2008, yaitu satu badan penelitian kanker internasional di bawah WHO, dikutip dari Global Cancer Statistics (2011), tingkat kejadian kanker di Asia Tenggara sebagai yang tertinggi di antara negara-negara di seluruh dunia, Indonesia masuk di peringkat teratas bersama Malaysia dan Singapura. Hal tersebut memang semakin mengerikan.
 
Apa itu kanker dan prosesnya [Foto: Dok Pri dalam paparan Prof Chau]
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kanker dan bagaimana cara pencegahannya, CNI, sebagai salah satu perusahaan MLM terbesar  di Indonesia yang berdiri sejak 1986 ikut serta dalam meningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia dengan konsisten menyediakan produk berkualitas untuk kesehatan yaitu produk suplemen kesehatan.


CNI pun menyelenggarakan Seminar Kesehatan Nasional yang mengundang langsung pakar Bioteknologi dan Nutrisi dari National Chung Hsing University Taiwan, Profesor Chau Chi Fai sebagai pembicara. Seminar Kesehatan Nasional yang digelar CNI mengambil tema “Diet, Nutrition, & Cancer Prevention dalam kampanya #CNIAgainstCancer yang berlangsung di tiga kota besar di Indonesia, meliputi Makassar (27/7), Medan (28/7), dan Jakarta (29/7).




Prof Chau dan Peserta Seminar Kesehatan Nasional [Foto: Dok CNI]

Profesor Chau telah 20 tahun malang melintang untuk ilmu pangan dan bioteknologi. Beliau datang ke Indonesia dalam satu kesempatan untuk memaparkan mengenai konsep tata laksana perawatan kanker yang benar kaitannya dengan pola makan yang tepat. Kalau langsung dapat pengetahuan dari ahlinya itu, sudah tidak perlu diragukan lagi, ya.
 
Prof Chau [Foto: Dok CNI]
Dalam paparannya Prof Chau mengatakan bahwa di antara 14,1 juta  kasus kanker pada 2012, 7,4 juta diderita oleh pria sedangkan 6,7 juta-nya di derita oleh wanita. Angka ini akan dapat terus bertambah hingga tahun 2035 mencapai 24 juta. Disampaikan pula bahwa pada 2016 ada 10 penyebab kematian di negara dengan pendapatan tinggi, antara lain karena kanker trachea, bronkus, paru-paru, usus, rektum, dan kanker payudara.
 
Penderita kanker yang akan terus bertambah hingga 2035 [Foto: Dok Pri dalam paparan Prof. Chau]
Sementara itu, di negara dengan penghasilan rendah penyebab kematiannya karena infeksi saluran pernapasan bawah, diare, jantung, HIV/AIDS, stroke, malaria, TBC, komplikasi lahir, trauma lahir, dan kecelakaan di jalan.

Dari paparan beliau juga menyebutkan frekuensi terjadinya kanker di Indonesia, yaitu untuk wanita yang diserang berupa payudara ada di peringkat pertama  dan ginekologi pada wanita di peringkat kedua. Sementara, kanker kandung kemih (urologi) banyak menyerang pria ada di peringkat tujuh.
 
Frekuensi terjadinya kanker di Indonesia [Foto: Dok Pri dalam papapran Prof Chau]
Apa yang menyebabkan seseorang terkena kanker? Pertama adanya perubahan genetik dapat menyebabkan kanker yang diwariskan dari orang tua kita. Karena adanya kesalahan saat sel membelah akibat DNA yang rusak dari paparan lingkungan tertentu.
 
Faktor-faktor penyebab kanker [Foto: Dok Pri dalam paparan Prof Chau]
Selain hal tersebut, kanker juga bisa disebabkan adanya faktor inang, seperti genetik, keturunan, dan sejarah keluarga, umur, kesatuan metabolik, fungsi imun dan sebagainya. Faktor lingkungan pun memberi peran seperti makanan yang terkontaminasi aflatoksin, virus, radiasi UV, dan faktor lingkungan lainnya. Diet atau faktor gaya hidup. Bentuk diet dan gaya hidup seperti nutrisi, energi yang masuk ke dalam tubuh, fitokimia, alkohol,  aktivitas fisik, rokok, dan faktor gaya hidup lainnya. Diet (diet yang tidak benar terntunya) dapat juga menyebabkan kanker, sebesar 35%.

Pada dasarnya kanker dapat dicegah. Lebih dari 5% kanker karena faktor keturunan dan  menurut WHO 30-50% kanker dapat dicegah. Pencegahannya dari komponen makanan khusus atau nutrisi yang berhubungan dengan peningkatan atau penurunan risiko kanker.
 
Pencegahan kanker [Foto: Dok Pri dalam paparan Prof Chau]
Prof Chau lebih jauh memaparkan zat-zat nutrisi tertentu akan berhubungan dengan faktor risiko terjadinya kanker. Lebih lanjut Prof Chau menjelaskan bukti - bukti klinis beserta mekanismenya dalam tubuh berkaitan antara pola konsumsi makanan tertentu dengan faktor risiko kejadian Kanker.

Salah satu contoh hasil penelitian beliau adalah sumber pangan biji-bijian (wholegrain) yang baik untuk mengontrol level berat badan dan melalui teknologi pangan, pengolahannya tidak merusak enzim yang baik digunakan oleh tubuh.

Kanker sesungguhnya dapat dicegah dengan melakukan aktivita fisik, berat badan seimbang, makan makanan dari sumber wholegrain (biji-bijian), sayur, buah dan kacang-kacangan. Kurangi konsumsi makanan cepat saji atau makanan dengan proses dan lemak tinggi, tepung-tepungan, dan gula.

Batasi asupan daging merah dan daging yang diproses. Ada baiknya, kita membatasi konsumsi gula dan minuman dengan pemanis. Terpenting, batasi konsumsi alkohol. Untuk wanita: lakukan menyusui bayi melalui puting susu ibu sebisa mungkin.

Kalau kita sedang melakukan diet, diet menjadi salah satu sarana pencegahan kanker. Akan tetapi, diet yang dilakukan adalah diet sehat. Diet sehat dengan mengubah pola makan dan minum suplemen yang tepat dapat mencegah perkembangan  sel kanker. Kita, sangat perlu waspada kalau ada hal aneh pada tubuh agar kanker dapat dicegah/deteksi.  Kalau kita merasa ada yang tak wajar pada tubuh maka kans untuk disembuhkan lebih besar pula.

Ya, kanker memang tak bisa kita tolak juga keberadaannya. Hal ini pernah terjadi degan istri saya. Deteksi dini dokter membuat sembuhnya lebih cepat, karena belum parah. Hanya konsumsi obat atas saran dokter dan suplemen Sun Chlorella dari CNI yang diminum tiga kali sehari.


Sun Chlorella [Foto: Dok CNI]

Bersyukurnya tak sampai waktu satu tahun dinyatakan sembuh dan bebas. Kita tidak  tahu ya, padahal makanan dan gaya hidup sudah benar-benar dijaga pun masih bisa kena. Kanker tak pandang usia dan tempat.

Oleh karenanya, Sun Chlorella hampir selalu tersedia di rumah. Karena bayak sekali keuntungan yang bisa diperoleh dari Sun Chlorella ini. Dia mengandung Agaricus blazei, sejenis jamur  yang terbukti punya manfaat sebagai antikanker.

Jamur itu ditemukan oleh Dr. Inosuke Iwake (profesor di Departemen Pertanain, Mie Universitu, Jepang), dikembangkan oleh Dr. Hitoshi Ito (Direktur The Research Institute of Fungal Pharmacology di Jepang) yang memiliki hak paten sebagai formula original karena tidak semua Agaricus memiliki efek anti kanker.


Butir-butir Sun Chlorella [Foto: Dok CNI]

Sun Chlorella Agaricus sebagai suplemen yang dapat membantu melawan sel kanker. Tetap, tindakan seperti radiasi, operasi atau kemoterapi sebaiknya dilakukan. Dengan tambahan Chlorella Growth Factor (CGF), Sun Chlorella Agaricus menjadi suplemen antikanker yang aman untuk sel normal dan sehat, berbeda dengan obat kanker umumnya yang tidak hanya membunuh sel kanker tapi juga membunuh sel normal sehat.

Manfaat Sun Chlorella Agaricus ini dapat menyerang dan menghancurkan sel kanker dengan meningkatkan Natural Killer Cell. Mengoptimalkan hasil kerja obat dan terapi kanker seperti kemoterapi atau radioterapi. Mengurangi efek samping dari terapi kanker seperti muntah, kehilangan nafsu makan, dan kerontokan rambut, serta membantu memperbarui sel-sel yang rusak. Bila pasien diberikan obat dokter (di  luar kemoterapi), maka obat tersebut harus diminum sesuai anjuran dan diberi selang waktu 2-3 jam dengan konsumsi Sun Chlorella Agaricus.

Saya bersyukur ada suplemen yang bisa membantu istri saya sembuh dari kanker yang sempat menderanya. Sun Chlorella-lah sang penyelamat itu. Makanya, produk CNI sangat setia menemani saya dan istri di manapun dan kapan pun. Bisa di bawa pergi karena kemasannya sangat praktis. Aman lagi dikonsumsi.


Sun Chlorella boleh dibilang suplemen ajaib [Foto: Dok CNI]

Dari paparan Prof Chau ini ada pelajaran penting yang bisa dipetik, yaitu pencegahan dan melenyapkan kanker dalam beberapa kasus sangat mungkin dengan pola makan dan gaya hidup yang lebih baik. Diet dan nutrisi yang lebih baik akan sangat kondusif dalam mencegah kanker dan akan mendukung pemulihan kanker. Semoga, penyakit yang mematikan ini dapat segera diatasi dengan hal-hal yang sudah disebutkan tadi juga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Sunday, July 29, 2018

Lemonilo Ciptakan Gaya Hidup Sehat Bersama Makanan Sehat Mie Lemonilo Sekaligus Gandeng Pengusaha Kuliner Ibukota


 
Mie Lemonilo, Mie Sehat bebas pengawet [Foto: Dok Pri]
Mencecap ragam kuliner Indonesia sepertinya tak akan ada habis-habisnya. Ada saja menu-menu baru bermunculan. Entah itu menu kelas resto maupun menu kelas bintang lima.

Patut diapresiasi, bahwa keberadaan kuliner Indonesia telah menjadi pembicaraan panjang tak hanya di dalam negeri, tetapi merambah hingga mancanegara.Tak ayal memang, negeri ini kaya bahan pangan lokal berkelanjutan yang diproduksi dari bahan-bahan asli Indonesia.

Bahan-bahan tersebut mampu memberikan cita rasa berbeda di lidah penikmatnya. Oleh karenanya, kuliner Indonesia menjadi salah satu tradisi kuliner yang paling kaya di dunia, penuh cita rasa yang kuat. Kekayaan jenis masakannya merupakan cermin keberagaman budaya dan tradisi Nusantara yang terdiri atas 6.000 pulau berpenghuni, dan menempati peran penting dalam budaya nasional Indonesia secara umum.

Hampir seluruh kuliner Nusantara kaya bumbu yang berasal dari rempah-rempah seperti kemiri, cabai, temu kunci, lengkuas, jahe, kencur, kunyit, kelapa, juga gula aren. Pun diikuti penggunaan teknik-teknik memasak menurut bahan dan tradisi-adat yang terdapat pula pengaruh melalui perdagangan yang berasal dari, seperti India, Tiongkok, Timur Tengah, dan Eropa.

Dari perdagangan yang dilakukan antarnegara, bisnis kuliner pun berkembang pesat. Bisnis kuliner tidak akan pernah ada matinya. Ini menjadi bisnis yang sangat menjanjikan di Indonesia. Apalagi di Jakarta yang menjadi pusat dari seluruh kegiatan bisnis negeri ini.

Setiap hari, ada saja orang yang datang dan makan ke berbagai tempat, mulai dari resto hingga dagangan kaki lima. Bayangkan saja, dari hasil penelitian Jakarta Dining Index dan Qraved dikatakan bahwa penduduk Jakarta setiap tahun mengunjungi restoran hingga 380 juta kali dan mengeluarkan uang hingga US$ 1,5 miliar setara dengan Rp21,4 T.

Hal tersebut didukung pula dengan bertumbuhnya resto kelas menengah dalam kurun waktu lima tahun  yang meningkat pesat hingga 250%. Jadi, jangan heran kalau di Jakarta punya banyak pilihan resto (berdasarkan data Market Access Secretariat Global AnalysisReport).

Di Indonesia, makanan dan budaya tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling terkait. Kita tidak dapat bicara tentang budaya secara menyeluruh tanpa mempelajari kebiasaan makan dan makan orang-orang dalam budaya itu sendiri. Memahami kebiasaan makan Indonesia sangat penting untuk memahami budaya Indonesia.

Tidak ada tempat yang lebih benar daripada di Indonesia, negara terbesar keempat di dunia, sebuah kepulauan yang terdiri lebih dari 17.000 pulau, mencakup seperdelapan dunia dan ditempati oleh sekitar 490 kelompok etnis.

Bangsa Indonesia  adalah bangsa yang memang  kaya jenis makanan dan cara makan. Setiap subkultur di Indonesia punya jenis makanan sendiri, serta cara makan yang unik termasuk menu dan waktu makan. Sepanjang sejarahnya, awal Indonesia mengalami kedatangan banyak makanan dari daerah terdekat, sebagian besar datang melalui Asia Tenggara dan Semenanjung Malaya, serta jauh dari tanah air seperti India, Cina, bahkan Timur Tengah.

Gaya hidup dan pola makan orang Indonesia juga banyak dipengaruhi oleh kebiasaan makan dan makanan dari luar negeri, seperti budaya Barat untuk makan roti atau sereal di pagi hari. Daratan Asia seperti Cina, berupa mie. Seiring bergulirnya waktu, orang datang dan pergi meninggalkan pengaruh pada budaya Indonesia yang akhirnya bergeser sedikit demi sedikit.

Bagaimana kulinaria Indonesia didefinisikan? Bisa jadi, tidak ada jawaban yang sederhana. Jika kita meminta orang Indonesia untuk menamai “masakan Indonesia,” mereka akan kesulitan menyebutkan satu hidangan. Jawabannya hampir selalu mengacu pada kelompok etnis atau wilayah tempat asal makanan tersebut berasal.

Hal ini mempengaruhi gaya hidup masyarakat  Indonesia itu sendiri. Nah, apakah banyak restoran yang menawarkan gaya hidup sehat untuk masyarakatnya dari makanan yang dibuat? Saya yakin, jawabannya sangat terbatas. Kalaupun ada, harganya relatif mahal. Otomatis, akhirnya banyak tawaran datang dari berbagai restoran yang menyajikan makanan cepat saji (junkfood).

Dari makanan sendiri menurut  Kementerian Kesehatan dilaporkan bahwa pada 2016, warga Jakarta ada di urutan pertama untuk angka obesitas (39,7%) berdasarkan data Renstra Kemenkes 2015-2019. Ini 2,5 kali lebih besar dibandingkan angka obesitas di NTT yang hanya 15,2%.
 
Lemonilo dengan beragam produk [Foto: Dok Pri dalam Lemonilo]
Ketua bidang organisasi dan sistem informasi kelembagaan PB IDI, Dr. Mahesa mengatakan bahwa hal itu disebabkan kebiasaan dan pola makan orang Jakarta yang hobi mengonsumsi makanan tidak sehat (junk food), stress dan kurang aktivitas fisik.

Untuk menjawab hal ini pada Kamis (19/07/2018) bersama rekan-rekan Food Blogger, saya menghadiri “Lemonilo Menggagas Gerakan Café & Ropang Sehat Bersama Pengusaha Kuliner Ibukota”. Bertempat di What’s Up Café, Tanjung Duren Barat, Jakarta Barat.
 
Tim Lemonilo [Foto: Dok Pri dalam Lemonilo]
Nah, siapa yang tidak atau belum kenal Lemonilo? Kalau belum kenal, ayo kita kenalan dulu ya. Lemonilo itu  salah satu brand berbasis teknologi, lebih tepatnya healthy lifestyle ecosystem yang menghadirkan beragam produk alami dan terjangkau untuk segala kebutuhan yang bebas dari 100+ bahan sintetis berbahaya, bermitra dengan UKM dari seluruh Indonesia. Lemonilo punya  misi membantu masyarakat Indonesia menjadi lebih bahagia dan produktif, dengan menjalankan hidup sehat yang mudah dan terjangkau.

Bicara Lemonilo yang bermitra dengan UKM, Lemonilo punya tiga alur ekosistem lho. Pertama, menjadi satu-satunya curated marketplace di Indonesia. Lemonilo memastikan bahwa semua produk yang ditawarkan alami dan sehat dikonsumsi. Kedua, Lemonilo juga turut membantu mitra UKM  melakukan optimalisasi produksi. Ketiga, sebagai hasil dari penggabungan kekuatan teknologi dan sumber daya UKM, terciptalah berbagai produk alami dan terjangkau yang menjawab kebutuhan pasar, di bawah bendera Lemonilo.
 
Lemonilo bermitra dengan UKM [Foto: Dok Pri dalam Lemonilo]
Nah, kalau kalian punya UKM, bisa lho bergabung di Lemonilo dengan mengikuti semua prosedur yang diberlakukan. Jika prosedur sudah dilengkapi, jualan deh di Lemonila.

Lemonilo saat ini sedang gencar lho melakukan Gerakan Café & Ropang Sehat. Gerakannya itu dimulai dari menawarkan menu mie sehat dengan bahan-bahan alami dan harga terjangkau. Mie-nya pun bebas dari bahan pengawet, pewarna, juga  MSG. Kalian juga bisa lho pantengin akun media sosialnya (Instagram @lemonilo) untuk intip-intip apa event yang bakal digelar lagi dengan mengangkat pola hidup sehat.

Owner What's Up Cafe (kiri jilbab), CEO Lemonilo (kaos bertulis Lemonilo), President Lemonio (kaos putih), dan Marketing What's Up Cafe (Baju berbahan Jeans) menandai "Gerakan Cafe & Ropang Sehat dengan pemukulan panci" di What's Up Cafe [Foto: Dok Pri]
Pojok lain What's Up Cafe {Foto: Dok Pri]
Gerakan Hidup Sehat Lemonilo ini dimulai dari What’s Up Café ternyata. Mengapa What’s Up Café? Karena, café  ini ternyata dalam susunan menunya menjual salah satu makanan berbahan dasar mie sehat dari Mie-nya Lemonilo. Jadi, makan mie Lemonilo di What’s Up Café tetap sehat karena bahan dasarnya juga sehat.

Selain itu, What’s Up Café juga punya 12 cabang yang tersebar di beberapa tempat. Ada pula Departement od Juicetice, Warung Overtaste, Farmer’s Bowl, Roti Eneng, Kolari Coffee, dan  Medfit.
 
Shinta Nurfauzia, CEO Lemonilo (kiri) dan Ronald Wijaya (kanan) [Foto: Dok Pri]
Dalam kesempatan ini pula, Shinta Nurfauzia selaku CEO Lemonilo menyampaikan satu harapan, dengan adanya menu sehat di tempat-tempat yang sebelumnya tidak ada menu sehat dapat membantu masyarakat Indonesia memulai pola hidup sehat yang lebih sehat secepatnya. Harga menu di tempat-tempat tersebut sangat terjangkau, dari harga 18 ribu rupiah, sehingga siapapun bisa menikmati.

Oya, peserta gathering juga disuguhkan bagaimana Adelia Izza membuat Mie Lemonilo Peanut Butter sebagai dasar campuran mie dengan tambahan sayuran, toge, telur rebus, bawang goreng, di-garnish dengan wortel dan irisan daun bawang.
 
Cooking Demo oleh Adelia Izza dari Delle's Kitchen [Foto: Dok Pri]
Aroma wangi tercium dari peanut butter yang mampu merangsang orang-orang yang hadir di acara ini untuk merasakan. Mie Lemonilo dengan Peanut Butter menjadi semacam menu pilihan lain makan secara sehat bebas penyakit.

Untuk melihat antusiasme peserta gathering ini juga, Lemonilo dan What’s Up Café mengadakan kompetisi meng-garnish mie Lemonilo dengan hanya lima macam bahan saja yang sudah disediakan. Masing-masing peserta menciptakan kreasi sesuai yang mereka inginkan.

Kompetisi ini terdiri atas tiga bagian, dari setiap bagian dipilih satu pemenang menurut juri yang terbaik dari hasil garnish yang mereka buat. Seru memang! Tak sekadar makan, tetapi bagaimana membuat makanan itu semakin ingin untuk disantap dari tampilan yang menarik.
 
Mie Lemonilo yang digarnish dengan telur ceplok, ayam, selada, dan irisan cabe merah & daun bawang [Foto: Dok Pri]
Kompetisi ini juga bisa dibilang sebagai salah satu daya tarik dari gerakan Lemonilo untuk menjadikan mie Lemonilo sebagai makanan sehat dan masyarakat Indonesia menerapkan pola hidup sehat.

Ronald Wijaya, selaku President Lemonilo menyampaikan, “Ke depannya, Lemonilo akan memperluas gerakan ini. Kami mengundang seluruh pengusaha kuliner di Indonesia untuk menyukseskan gerakan ini dalam membangun Indonesia lebih sehat. Caranya sangat simpel, mulai dari menawarkan pilihan menu yang lebih sehat dengan harga terjangkau bersama Lemonilo.”
 
Owner What's Up Cafe (jilbab) dalam sambutannya [Foto: Dok Pri]
Lemonilo juga berharap untuk masyarakat Indonesia, bahwa menjaga kesehatan tubuh dapat dimulai dari memilih menu sehat dan terjangkau, bahkan di tempat-tempat yang tidak sehat sekalipun. Jadi, bersama Lemonilo, kalau kalian mau nongkrong di Café pun bisa dilakukan dengan cara sehat dan tidak merusak tubuh.

Perlu kalian ketahui juga untuk keunggulan mie Lemonilo ini ya. Mie Lemonilo (Mie Goreng) merupakan Mie Instan Alami yang terbuat dari bahan-bahan pilihan berkualitas dan alami pula.  Mie ini rendah gluten karena menggunakan tepung mocaf yang terbuat dari singkong.
 
Mie Lemonilo, dapat dikonsumsi setiap hari dan aman [Foto: Dok Pri]

Warna hijau yang ada di mie berasal dari daun bayam yang ditanam secara organik hidroponik tanpa pewarna buatan. Mie-nya tidak melalui penggorengan karena proses pengeringan melalui oven sehingga menghasilkan produk  dengan jangka waktu kadaluarsa cukup lama dan rendah lemak. Terpenting lagi, mie ini terbuat dari bahan-bahan alami tanpa pengawet  dan tanpa MSG.

Bagaimana dengan kandungan gizi yang ada di dalam mie Lemonilo? Takaran saji 77gr; energi total 283 kkal; energi dari lemak 36 kkal; lemak total 4 gr; lemak jenuh 2 gr; lemak trans 0 gr; kolesterol 0 mg; natrium 596 mg; karbohidrat total 54 gr; serat pangan 3 gr; gula 5 gr; protein 7 gr; vitamin D 0%; zat besi 0%; dan kalsium 4%.



Bergabung di Lemonilo, kita bisa langsung jualan [Foto: Dok Pri dalam Lemonilo]

Eits, tunggu dulu, mie Lemonilo juga ternyata aman dikonsumsi anak-anak. Jadi, tak perlu khawatir para orang tua untuk memberikan makan mie khususnya mie Lemonilo ke anak-anak ayah dan ibu. Rasanya enak dan fresh. Saya sudah mencobanya, bagaimana dengan kalian? Penasaran, kan? Makan Mie Lemonilo setiap hari? Siapa takut?!

Kita bisa mengajak teman untuk gabung di Lemonilo [Foto: Dok Pri dalam Lemonilo]
 
Beragam produk Lemonilo [Foto: Dok Pri dalam  Lemonilo]