Selasa, 30 Desember 2014

Ada Nilai di Setiap Kilometer


Komunitas ini dibentuk tidak hanya untuk kesenangan diri sendiri, selain untuk hobi juga punya misi sosial, yaitu ingin berbagi untuk sesama. Setiap kilometer jarak yang ditempuh punya nilai. Besar nilai donasi akan dilipatgandakan oleh komunitas ini,  selanjutnya akan disumbangkan kepada yayasan yang dipilih.

Komunitas ini berdiri pada 2009 yang digagas oleh Sandiaga S. Uno. “Kebetulan punya hobi bareng. Jadi, waktu komunitas ini terbentuk kita tidak saja membicarakan pekerjaan, tetapi kita punya hobi yang sama, yaitu lari. Model larinya adalah long distance running,” ucap Arlan , salah satu anggota komunitas BuB menjelaskan.

Arlan  Lukman, Komunitas BuB
Seiring bergulirnya waktu, para penggagas ingin memaknai arti lari yang mereka lakukan. Tidak hanya sekadar lari, capek, dan tidak ada hasilnya. Akan tetapi, lebih jauh dari itu, mereka ingin “berbagi.”
“Di sela-sela “pelarian” itu, kami tanamkan filosofi  yang menjadi daya hidup komunitas ini, Berlari dan Berbagi. Lari ini  memunculkan enzim “feel good” yaitu enzim endorfin. “Semakin jauh jarak lari yang ditempuh, semakin memacu dan menstimulasi enzim tersebut,” lanjut Arlan.

Beberapa waktu lalu, tujuh orang pelari dari BuB dikirim ke Berlin untuk mengikuti lomba maraton. Berlin merupakan official marathon pertama di komunitas ini. Salah satu pelarinya selain Arlan adalah Raty Ning. Sebenarnya, para pelari itu sebelumnya akan melakukan lari maraton di New York, tetapi tidak jadi karena badai Sandy. Karena mereka membawa misi sosial dan jauh-jauh datang ke New York, Raty Ning dan Arlan pun tetap melakukan lari maraton.“Sebenarnya, itu merupakan beban, tetapi beban yang bernilai positif. Tidak jadi official marathon-nya, tetapi kami harus lari, mengumpulkan dana,” urai Raty bersemangat.

Banyak pengalaman yang diperoleh selama Raty dan Arlan melakukan lari. Misalnya saja Raty, dia menuturkan, selama 18 minggu latihan memberikan kepercayaan diri lebih. Akan tetapi, apa yang sudah direncanakan dengan kejadian, berubah total.



Raty Ning, Komunitas BuB
“Saya, di kilometer 25 sudah ngos-ngosan dan menderita kram di ulu hati, sedangkan sebelum lari kepercayaan diri saya tinggi. Tidak pernah berpikir ada rencana lainnya. Rencana pertamanya adalah lari. Saya tetap memaksa lari hingga di kilometer 30. Dan di 12 kilo terakhir saya kombinasikan antara jogging dan jalan. Apa yang bisa membawa saya selesai? Saya membawa misi. Teman-teman sudah mengumpulkan dana dan mendukung saya secara total. Itu merupakan hutang saya kepada donatur, \ yayasan, dan teman-teman d BuB” kenang Raty.

Di komunitas ini ada lebih dari 40 orang pelari berkumpul, mulai dari kalangan pengusaha, karyawan, hingga tentara. Komunitas Berlari untuk Berbagi intinya penggalangan dana.  Hal unik dari program Komunitas Berlari untuk Berbagi ini adalah penyumbang bebas menetapkan yayasan mana yang akan disumbangnya. Sebagai syarat terpenting adalah, bahwa yayasan  harus telah berbadan hukum dan memiliki nomor rekening atas nama yayasan.
Komunitas ini bukan kumpulan para atlet pelari terkenal atau yang ingin memomulerkan diri, tetapi mereka merupakan orang-orang dari beragam profesi yang sebagian besar pengusaha. Mereka punya inisiatif mengumpulkan dana untuk aksi sosial yang mereka lakukan kepada masyarakat yang memerlukan.
Program yang dilakukan oleh komunitas ini sebagai bentuk program yang menyenangkan, dalam artian gabungan antara hobi dan kegiatan sosial. Sebagai bentuk bakti mereka, sekitar 40 yayasan di Indonesia, di antaranya Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), The Learning Farm, Yayasan Bumis Sehat, dan Rumah Singgah Anyo, telah mendapat donasi dari Komunitas BuB.

Kegiatan mereka untuk mengumpulkan dana  terbilang unik. Mereka lari maraton di beberapa kegiatan, seperti New York, Boston, Paris, dan Berlin. Itu kota-kota yang telah mereka kunjungi dalam rangka pengumpulan dana dari luar negeri untuk disumbangkan ke yayasan yang ada di Indonesia. Dari kegiatan itu, mereka berhasil mengumpulkan dana 10 miliar rupiah. Jarak yang mereka tempuh 124 km.  Agenda acara di Berlin yang mereka ikuti beberapa waktu lalu sebagai upaya untuk mendukung program Indonesia Sejahtera (Indotera) tahun 2025 yang digawangi oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia.

0 komentar: