Senin, 15 Agustus 2016

ASEAN, MELESAT SEMAKIN DI DEPAN

Rasanya tak berlebihan untuk mengatakan “ASEAN, MELESAT SEMAKIN DI DEPAN”. Banyak capaian yang diperoleh dari negara-negara yang tergabung dalam ASEAN (Association of  Southeast Asian Nation) atau Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Perbara). Organisasi yang dideklarasikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand dihadiri oleh lima negara, yaitu Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Indonesia.

Penandatanganan Deklarasi Bangkok
Dihadiri 5 Menteri Luar Negeri ASEAN
Foto: Dok, Arsip Nasional RI
Deklarasi Bangkok ditandatangani oleh perwakilan lima negara pemrakarsa pendiri ASEAN, yaitu Adam Malik (Menteri Luar Negeri Indonesia); Tun Abdul Razak (Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Malaysia); Narciso Ramos (Menteri Luar Negeri Filiphina); S. Rajaratman (Menteri Luar Negeri Singapura); dan Thanat Khoman (Menteri Luar Negeri Thailand). Isi  Deklarasi Bangkok, yaitu:

1.       Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara.
2.       Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional.
3.       Meningkatkan kerjasama dan saling membantu untuk kepentingan bersama dalam bidang ekonomi, sosial, teknik, ilmu pengetahuan, dan administrasi.
4.       Memelihara kerjasama yang erat di tengah - tengah organisasi regional dan internasional yang ada.
5.       Meningkatkan kerjasama untuk memajukan pendidikan, latihan, dan penelitian di kawasan Asia Tenggara.

Menteri-Menteri Luar Negeri Negara ASEAN
Narciso Ramos (Filipina); Adam Malik (Indonesia); Thanat Khoman (Thailand)
Tun Abdul Razak (Malaysia); & S. Rajaratman (Singapura) berfoto bersama
di Bangkok pada 8 Agustus 1967
Foto: Dok. Arsip Nasional RI
Sebagai satu organisasi geo-politik dan ekonomi di kawasan Asia Tenggara, memiliki tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggota, memajukan perdamaian dan stabilitas di level regional,juga meningkatkan kesempatan untuk membicarakan perbedaan di antara anggotanya secara damai, aman, dan tenteram.

Bendera ASEAN melambangkan ASEAN yang stabil, penuh perdamaian, bersatu, dan dinamis. Adapun lambang ASEAN berada di tengah bendera ASEAN. Sementara itu, warna bendera dan lambangnya biru, merah, putih, dan kuning; masing-masing mewakili warna dasar setiap bendera negara anggota ASEAN. Warna biru perdamaian dan stabilitas; merah semangat dan kedinamisan; putih kesucian; dan kuning  kemakmuran. Ikatan rumpun padi sebagai harapan para tokoh pendiri ASEAN agar organisasi  itu secara bersama-sama terikat dalam persahabatan dan kesetiakawanan sosial, sedangkan lingkaran melambangkan kesatuan ASEAN.

Jika melihat luas wilayah ASEAN ini semua orang akan berdecak kagum. Wilayah dengan luas sekitar 4,46 juta kilometer persegi itu hampir sama dengan luas daratan di Bumi sekitar 3%-nya. Sementara, luas laut yang dimiliki tiga kali lipat dari luas daratan. Ada satu hal yang selama ini orang sering menyebut, apabila ASEAN itu sebagai entitas tunggal, maka ASEAN akan menduduki ekonomi terbesar ke-9 setelah negara-negara adidaya, sepeti Italiam Jerman, Jepang, Amerika Serikat, Cina, Perancis, Inggris, dan Brasil. Hal ini menjadi satu cita-cita negara-negara ASEAN untuk  mewujudkan secara nyata.

Pada 8 Agustus 2016 lalu, ASEAN genap berusia 49 tahun. Ya, ini bukan usia muda lagi untuk sebuah organisasi. Sudah cukup berpengalaman dalam berbagai kesempatan, baik regional maupun mendunia. Berkaca dari hari jadi ASEAN tersebut, mengapa  organisasi ini hingga sekarang masih bertahan dan tetap dipertahankan?

Ada beberapa hal yang membuat ASEAN masih bertahan hingga saat ini, yaitu prinsip. Prinsip-prinsip utama yang dipegang oleh para bangsa-bangsa anggota ASEAN inilah yang membuat organisasi tersebut menjadi satu organisasi yang cukup disegani. Apa saja prinsip-prinsip utama ASEAN tersebut?

1.       Menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesamaan, integritas wilayah nasional, dan identitas nasional setiap negara. Hal ini sebagai rasa atau bentuk penghormatan mendalam kepada setiap masing-masing negara anggota ASEAN. Secara nyata, jarang terdengar keributan yang terjadi di antara anggota negara ASEAN itu sendiri.

2.       Hak untuk setiap negara memimpin kehadiran nasional, bebas dari campur tangan, subversif atau koersi pihak luar. Negara-negara anggota diberi kepercayaan oleh negara lain dalam kancah internasional untuk ikut di berbagai event dunia. Hak-hak negara anggota ASEAN menjadi satu kepercayaan lebih kepada negara di luar anggota ASEAN.

3.       Tidak mencampuri urusan dalam negeri sesama negara anggota. Tidak pernah terdengar neegara-negara anggota ASEAN masuk ke dalam negara anggota ASEAN lainnya untuk “mengacak-acak” negara lainnya tersebut. Ini menjadi satu pegangan asas penghormatan kepada negara anggota ASEAN bahwa mencampuri urusan dalam negeri anggota lainnya sebagai tindakan yang mengganggu. Hal itu dapat dianggap sebuah pengacauan negara.

4.       Penyelesaian perbedaan atau perdebatan dengan damai. Contoh kasus nyata saat Malaysia dan Indonesia  bersengketa untuk  Pulau Sepadan dan Ambalat. Hal itu dapat dibicarakan baik-baik tanpa harus angkat senjata atau pun terjadi perang di antara negara anggota. Penyelesaian perbedaan atau perdebatan wilayah, tak perlu dengan kekerasan jika ada jalan perdamaian. Membangun prinsip-prinsip tersebut harus melalui kesadaran dari masing-masing anggota negara ASEAN.

5.       Menolak penggunaan kekuatan yang mematikan. Sejalan dengan poin empat, bahwa segala sesuatu selagi masih dapat dibicarakan secara damai mengapa harus berperang.

6.       Kerja sama efektif antara anggota. Efektivitas dari  satu kerjama anggota negara ASEAN menjadi pegangan untuk negara-negara anggota lainnya. Betapa tidak, kerjasama yang efektif akan mendatangkan manfaat  yang efektif pula. Disadari atau tidak oleh negara-negara anggota ASEAN lainnya, bahwa efektivitas kerjasasama anggota telah banyak melahirkan kerjasama-kerjasama yang sangat bermanfaat.
Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan
kepala negara pada KTT ASEAN ke-25 di Nay Pyi Taw Myanmar
11-13 November 2014
Foto: Dok. Kemlu RI
ASEAN, dalam hal terbaru  telah melahirkan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Hal ini sebagai jembatan efektivitas dalam melihat pasar bebas. Siapapun boleh bersaing dan masuk ke arena. Untuk itu, masing-masing negara anggota telah mempersiapkan “peluru” dan “senjata” untuk membuat strategi jitu agar masing-masing negara dapat maju ke depan. Maju bersama-sama untuk melesat bersama-sama.

Konektivitas ASEAN berperan penting dalam pembentukan Masyarakat ASEAN, yang mencakup konektivitas infrastruktur, institusi dan  rakyat. Konektivitas ASEAN diharapkan berkontribusi terhadap ASEAN sebagai kawasan yang berdayasaing dan berdayatahan, dengan mendekatkan pergerakan orang, barang, jasa, dan modal.

Keterhubungan negara-negara ASEAN menjadi hal penting
untuk mewujudkan Masyarakat ASEAN
Foto: Aswaddy Hamid, Peserta Lomba Fotografi WArna-Warna ASEAN, 2014


Saling topang menopang di antara negara anggota ASEAN, itulah yang akan menjadi salah satu kunci keberhasilan ASEAN untuk menduduki ekonomi dunia. Pasar bebas,  telah meningkatkan ekonomi dari masing-masing negara. Mau tidak mau, sumber daya manusia dan infrastruktur negara-negara anggota ASEAN ditingkatkan untuk menghadapi dan mengantisipasi ekonomi di tingkat regional dan dunia.
Perhelatan Ulang Tahun ASEAN ke-49, Museum Keramik & Seni Rupa
Kota Tua, Jakarta
Foto: Dok. Andini Harsono. 
Seiring dengan itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, menghelat perayaaan ulang tahun ASEAN ke-49 dengan menghadirkan perwakilan negara-negera ASEAN. Mengambil tempat di kawasan Kota Tua. Hal  ini untuk mengingatkan kembali histori perjalanan panjang salah satu negara anggota ASEAN, Indonesia. Ada pula pameran foto yang dilangsungkan di Museum Seni Rupa dan Keramik, yang berlangsung dari tanggal 6--13 Agustus 2016.

ASEAN terus melaju mengejar yang belum tercapai. Apakah Anda akan tetap tinggal diam?


0 komentar: