Sunday, April 29, 2018

Jelajah Gizi 2018 Kota Semarang: Eksplorasi Pangan Berkelanjutan, Gaya Hidup Sehat untuk Hidup Jangka Panjang dari Lunpia Gg. Lombok dan Soto Bangkong [Bagian 4]



Jelajah Gizi Semarang 2018: Lunpia (Loenpia, Lumpia) menjadi salah satu kuliner paling terkenal di Semarang dengan pemanfaatkan  bahan pangan lokal berkelanjutan [Foto: Dok Pri]
Lunpia (Loenpia, Lumpia), menjadi satu dari sekian banyak kuliner Semarang yang paling dicari dan digemari. Lunpia di Gg. Lombok milik Pak Untung, menjadi lunpia paling enak yang pernah saya rasakan.

Berbahan dasar rebung, udang, telur, bawang putih, gula, garam, dan kecap manis dengan teknik masak dan resep turun temurun tak mengubah rasa. Rebung, sebagai bahan dasar utama pemberi cita rasa khas.
 
Jelajah Gizi Semarang 2018: Bahan isian lunpia terdiri atas rebung, udang, telur, dan bumbu lainnya [Foto: Dok Pri]

Jelajah Gizi Semarang 2018: Kulit lumpia mesti dijaga kelembapannya agar tidak pecah/robek [Foto: Dok Pri]
Di dalam rebung terdapat  asam sianogenic licoside (asam sianogenik likosida) yang mengeluarkan bau pesing. Bau tersebut dapat  dihilangkan dengan mencuci rebung berulang-ulang dan di bawah air mengalir.

Bau pesing rebung dapat berkurang bahkan hilang. Inilah tips dan trik yang dipaparkan Pak Untung kepada para Jelajah Gizi Kota Semarang 2018. Dalam satu hari, Pak Untung memerlukan 75 Kg rebung yang dikirim pemasok ke tokonya untuk membuat Lunpia. 

Isiannya memang dapat divariasi, semisal dengan ayam. Akan tetapi, Pak Untung tetap mempertahankan dengan udang dan telur yang diorak-arik. Kulitnya pun home made (dibuat sendiri). Terbuat dari adonan tepung terigu, air, dan sedikit garam.

Di hari biasa, tokonya dapat menghabiskan hingga 300 biji lunpia, sedangkan di hari Sabtu dan Minggu dapat mencapai 500 biji.



Jelajah Gizi Semarang 2018: Suasana Lunpia Gg.Lombok No. 11 yang tidak pernah sepi dari pembeli. Lunpia ini menjadi terkenal karena cita rasa dari generasi ke generasi yang mengolahnya tidak berubah [Foto: Dok Pri]

Saus kental manisnya terbuat dari tepung tapioka yang diberi gula dan kecap manis sehingga menimbulkan warna kuning kecokelatan. Penyajiannya dilengkapi dengan daun selada, cabe rawit hijau, acar ketimun, dan daun bawang.

Cara makannya pun unik, mirip cara makan beberapa makanan Korea, yaitu dengan memasukkan potongan lunpia ke dalam daun selada, ditambah cabe rawit, saus kental, acar ketimun, dan daun bawang, kemudian digulung, lalu dimakan.

Menurut penuturan Pak Untung, fungsi daun bawang di lunpia untuk memperpanjang napas dan menekan tekanan darah.

Berdasarkan cerita, Lunpia Gg. Lombok No. 11 ini merupakan lunpia tertua yang ada di Semarang. Posisinya tepat berada di sebelah klenteng tertua pula, yaitu Klenteng Tay Kak Sie. Dulunya, dikelola oleh Purnomo Usodo (Siem Swie Kiem), Om-nya Pak Untung  yang merupakan generasi ketiga.

Memang, sudah tidak diragukan lagi kenikmatan dan kelezatan Lunpia ini. Rasanya sudah melanglang hingga keluar Semarang. Lunpia yang dijual pun tak hanya goreng, tetapi juga ada lunpia basah.

Lunpia basah dapat langsung dimakan karena kulitnya sudah diolah (dimasak) sedemikian rupa. Agar kulit lunpia tetap lembap, teknik menyimpannya dengan membungkus menggunakan daun pisang.

Lunpia goreng Gg.Lombok memang sangat disukai, selain renyah di luar, gurih pula rasa di dalamnya. Kulitnya pun lembut dan tidak mudah hancur. Ukurannya pun cukup besar dan isi di dalamnya relatif padat kalau dilihat dengan lunpia kebanyakan yang kalah jauh. Selain ukurannya besar, agar mudah dilahap, lunpia dipotong-potong menjadi empat hingga lima potong.




Jelajah Gizi Semarang 2018: Tim Anjing #RebungBetung saat memenangi lomba menggulung Lunpia di Gg. Lombok No.11 yang langsung dinilai oleh sang pemiliknya, Pak Untung. [Foto: Dok Pri]

Kalau diperhatikan dan dirasa-rasa, saya tidak mencium bau amis dari perpaduan udang, telur, dan bumbu-bumbu lain untuk isiannya itu. Pak Untung memang sangat menjaga resep yang sudah diturunkan itu agar tidak berubah rasa. Gurihnya lunpia ini masih tetap terjaga hingga saat ini. Oya, lunpia sendiri ada yang manis juga asin dengan beragam isian.

Lunpia yang ada di tokonya ini dibuat langsung oleh pekerja Pak Untung, baik yang basah maupun kering. Lunpia baru akan dibuat jika ada pemesan datang, hal itu semata-mata untuk menjaga cita rasa.
 
Jelajah Gizi Semarang 2018: Saya sempatkan diri untuk foto bersama dengan Pak Untung pemilik Lunpia di Gg. Lombok No. 11 ini beserta Lunpia yang kami menangkan di Challenge menggulung Lunpia [Foto: Dok Pri]

Jelajah Gizi Semarang 2018: Tim Anjing #RebungBetung foto bersama lunpia Gg. Lombok yang sudah digoreng di depan Klenteng Tay Kak Sie [Foto: Dok Pri]
Jangan heran kalau Lunpia Gg. Lombok tak pernah sepi pembeli. Ada saja orang yang datang untuk membeli, baik dari kota Semarang sendiri maupun dari luar Semarang, bahkan ada dari luar negeri. Mereka mau berpanas-panasan dan antri masuk gang untuk menikmati satu dua potong Lunpia ini.
Jelajah Gizi Semarang 2018: Lunpia Semarang Gg. Lombok yang terkenal ini memang bercita rasa luar biasa. Perpaudan rasa manis, asam, dan asin tercampur merata di pencecap. Bahan pangan lokal berkelanjutan yang diraci mampu menghadirkan rasa otentik yang luar biasa [Foto: Dok Pri]
Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan sumber lainnya menyatakan bahwa dalam berat makanan (100 gram) lunpia, mengandung energi sebesar 133 kilokalori, protein 3,43 gram, karbohidrat 28,14 gram, lemak 0,47 gram, kalsium 8 miligram, fosfor 44 miligram, dan zat besi 0,49 miligram.  Selain itu di dalam Lumpia juga terkandung vitamin A sebanyak 1 IU, vitamin B1 0,04 miligram dan vitamin C 1 miligram.  Hasil ini diperoleh dari penelitian terhadap 100 gram lunpia dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 100 %.

Soto Bangkong
Indonesia memang unik. Tiap daerah punya ciri khas kuliner masing-masing dan menjadi unsur penting dalam tradisi dan budaya di berbagai provinsi. Makanan khas suatu daerah menjadi lambang, gelaran, dan bahkan sebagai daya tarik untuk para wisatawan berkunjung ke daerah tersebut.
 
Jelajah Gizi Semarang 2018: Soto Bangkong yang menjadi ikon kuliner kota Semarang [Foto: Dok Pri]
Semarang , dalam kaca mata kuliner nusantara memang penuh pesona. Soto Bangkong salah satunya, menjadi daya tarik tersendiri. Soto Bangkong bahkan menjadi ikon kuliner kota Semarang. Hal itu tak lain karena rasanya yang aduhai, ringan di lidah, pun lezat rasa kuahnya.

Soto Bangkong menjadi salah satu destinasi Jelajah Gizi Semarang 2018, tak lain  soto ini sangat legendaris. Pak Benny, anak sang pemilik mengatakan, “Dulu orang tua saya berjualan Soto dengan dipikul. Bahkan berjalan kaki hingga seharian dari Solo ke Semarang. Terkadang “menggelandang” demi membahagiakan anak-anaknya.”

Ya, Soto Bangkong Pak Benny menjadi satu tempat tersendiri di hati masyarakat tak hanya Semarang, untuk  mereka yang datang melancong ke Semarang, selalu mencari makanan ini. Soto dengan cita rasa gurih ini terbuat dari ayam kampung yang direbus lama, sehingga kuah yang dihasilkan berwarna kecokelatan.
 
Jelajah Gizi Semarang 2018: Ciri khas Soto Bangkong, berkuah bening agak kecokelatan dengan rasa gurih, berisi suwiean daging ayam kampung, tauge, bihun, tomat irisan seledri, taburan bawang putih-merah goreng [Foto: Dok Pri]
Daging ayamnya pun empuk tidak hancur. Selain soto, Soto Bangkong juga menyediakan menu lain seperti ayam goreng, garang asem, sate ayam, sate kerang, sate telor, perkedel tempe, ampela hati goreng, sayap goreng, menthok atau bebek goreng, semur, dan beberapa menu lainnya. Harganya pun realtif terjangkau.

Oya, mungkin Anda penasaran kenapa disebut Soto Bangkong. Bangkong, dalam bahasa Jawa atau Sunda merupakan kodok besar yang banyak ditemui di parit atau got pinggir jalan. Nah, dulunya tempat ini  banyak terdapat kodok tersebut.


Soto Bangkong biasa disajikan dengan beragam sate

Lokasinya berada di kawasan perempatan  bangkong yang menghubungkan Jalan Katamso, Jalan Ahmad Yani, dan Jalan MT. Haryono bagian selatan dan utara. Di bawah komando Pak Benny, Soto Bangkong yang sudah berdiri sejak 1950 ini, kini semakin eksis. Beberapa cabang ada di Semarang juga di Jakarta.

Berapa dan apa saja nutrisi yang terkandung di dalam 100 gram Soto? Berikut faktanya.

Ukuran Porsi: 100 gram (g)

per porsi
Kilojoule
544 kj
Kalori
130 kkal
Lemak
6,19 g

Lemak Jenuh
1,601 g

Lemak tak Jenuh Ganda
1,494 g

Lemak tak Jenuh Tunggal
2,381 g

Kolesterol
53 mg
Protein
9,96 g
Karbohidrat
8,11 g

Serat
0,7 g

Gula
0,41 g
Sodium
87 mg
Kalium
124 mg

Ringkasan Gizi:

Kal
130

Lemak
6,19g

Karb
8,11g

Prot
9,96g

Terdapat 130 kalori dalam Soto Ayam (100 gram).
Rincian Kalori: 44% lemak, 25% karb, 31% prot.

"Soto Bangkong memiliki kuah yang khas, yaitu bening agak kecokelatan. Satu porsi Soto Bangkong berisi suwiran daging ayam, irisan tomat, bihun, tauge, taburan bawang putih dan merah. Penyajian Soto Bangkong sangat menarik, soto disajikan dalam mangkun kecil yang relatif tinggi kaya protein dan energi," jelas Prof Ahmad Sulaeman.  

Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD. Pakar Gizi dan Keamanan Pangan Institut Pertanian Bogor [Foto: Dok Nutrisi Bangsa]

2 comments:

Ariefpokto said...

Emang soal masak memasak, Gulung menggulung, dirimulah juaranya .btw entu nama groupnya ga diedit dikit ya hahhaha

Mpo Ratne said...

Setiap kekurangan pasti ada teknik agar masakan sedap .cuma di siram air mengalir berulang ulang kali, bau menghilang