Sunday, April 29, 2018

Jelajah Gizi 2018 Kota Semarang: Eksplorasi Pangan Berkelanjutan, Gaya Hidup Sehat untuk Hidup Jangka Panjang dengan Bandeng Presto Tambak Rejo sebagai Potensi Ekonomi Pangan Berkelanjutan [Bagian 3]



Jelajah Gizi Semarang 2018: Bandeng menjadi potensi pangan lokal berkelanjutan di Semarang yang hingga kini menjadi bahan  pangan lokal terkenal di hampir seluruh pelosok tanah air [Foto: Dok khasiat.co.id]
Di Indonesia, ikan bandeng menjadi salah satu ikan paling populer di masyarakat. Bagaimana tidak, ikan bandeng menjadi ikan paling digemari karena nutrisi yang terkandung di dalamnya. Pun, ikan ini menjadi satu-satunya ikan yang masih bertahan hidup hingga sekarang  dari suku Chanidae dengan enam familia lainnya yang sudah punah.

Semarang, menjadi salah satu kota di Indonesia yang populer dengan bandeng prestonya. Ikan ini sangat digemari karena rasanya yang enak (gurih), dagingnya tidak asin dan tidak mudah hancur ketika diolah. Harganya pun masuk kategori menengah ke atas.

Jelajah Gizi Semarang 2018: Peserta Jelajah Gizi Semarang tiba di Unit Desa Mina Makmur Tambak Rejo, tempat pengolah  ikan bandeng presto yang dimiliki Ibu Hartini Darmono [Foto: Dok Pri]

Jelajah Gizi Semarang 2018: Ibu Hartini Darmono, wanita inspiratif yang telah menghidupkan wanita nelayan di Tambak Redjo dengan produk olahan pangan lokal berupa ikan bandeng presto yang telah diminati tak hanya penduduk lokal tapi juga  mancanegara [Foto: Dok Pri]

Jelajah Gizi Semarang 2018: Unit Desa Mina Makmur inilah yang dikelola oleh warga nelayan Tambak Rejo bersama pendirinya Ibu Hartini Darmono [Foto: Dok Pri]

Salah satu tempat di Semarang, tepatnya di Tambak Rejo, sebagai sentra ikan bandeng yang dikelola oleh Ibu Hartini Darmono—unit Desa Mina Makmur merupakan tempat pembuatan bandeng presto yang sudah melanglang buana hingga mancanegara.

Diproses sesuai standar pengolahan pangan yang telah menerapkan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), yaitu standar analisis pengambilan sampel di titik-titik kritis yang menjadi kunci kesehatan dan keberlangsungan produksi. 


Jelajah Gizi Semarang 2018: Proses pembersiihan Ikan Bandeng dari ujung ekor hingga kepala [Foto: Dok Pri]

Jelajah Gizi Semarang 2018: Pencucian Ikan Bandeng di bawah air mengalir dan disikat bersih [Foto: Dok Pri]

Jelajah Gizi Semarang 2018: Proses pembuatan bumbu ikan bandeng presto yang terdiri atas garam setengah halus, lengkuas, jahe, kunyit, dan bumbu lainnya agar ikan tak berbau amis [Foto: Dok Pri]

Jelajah Gizi Semarang 2018: Proses penyusunan Ikan Bandeng Presto di dalam wadah autoklaf [Foto: Dok Pri]


Jelajah Gizi Semarang 2018: Autoklaf untuk proses pelunakan duri ikan bandeng yang dibuat presto [Foto: Dok Pri]
Ikan bandeng presto sudah menjadi menu sehari-hari di Kota Semarang, terutama untuk mereka yang tinggal di pesisir atau dekat pelabuhan. Ikan ini menjadi ikan dalam tradisi wajib orang-orang Tionghoa ketika merayakan tahun baru Imlek.

Kalau ditilik lebih jauh, duri bandeng sebagai tulang yang kalau termakan cukup mengganggu. Begitu pula dengan bau lumpur yang berdiam di tubuh bandeng. Akan tetapi, duri-duri tersebut dapat diolah sedemikian rupa hingga dapat dimakan.

Pengolahan bandeng hingga duri dapat dimakan tidak terlalu sulit. Dengan menggunakan autoklaf atau panci bertekanan tinggi (presto) dalam waktu yang sudah di set, akan membuat duri yang ada di ikan bandeng lunak dan dapat dimakan bersama dagingnya sekaligus.

Sementara itu, bau lumpur ikan bandeng biasanya berasal dari ikan yang dipelihara di tambak. Berbeda dengan bandeng yang dipelihara di karamba. Bau lumpur ini karena ada ganggang hijau atau Cyanobacteria yang menghasilkan geosmin.
 
Jelajah Gizi Semarang 2018: Kemasan Bandeng Presto Mina Makmur Semarang yang cukup menarik [Foto: Dok Pri]

Jelajah Gizi Semarang 2018: Ikan Bandeng Presto Mina Makmur Ibu Hartini Darmono dengan proses vakum udara siap edar [Foto: Dok Pri]

Ikan bandeng memakan plankton. Sementara jika kolam banyak mengandung plankton, otomatis banyak mengandung geosmin. Ikan yang dihasilkan pun akan bercita rasa bau tanah atau lumpur.

Bau lumpur dapat diatasi dengan membiarkan ikan hidup di air mengalir sekitar dua minggu yang tidak mengandung geosmin. Kemudian tempat pemeliharaan ikan, terutama tambak diberi asam tertentu yang tidak mematikan ikan dan mengurangi pertumbuhan Cyanobacteria.

Di tangan Hartini Darmono, bandeng yang banyak duri dan berbau lumpur itu di “sulap” menjadi bandeng presto bernilai gizi tinggi, durinya dapat disantap sekaligus dengan daging ikan dan tidak berbau lumpur.

Ya, usaha yang mulanya hanya usaha kecil-kecilan oleh sekelompok wanita nelayan di Tambak Rejo, Kampung Purwosari, Gayamsari Semarang, kini semakin melesat hingga ke luar negeri. Padahal, dulunya hanya antartetangga saja yang  membeli.
 
Jelajah Gizi Semarang 2018: Saya sempatkan diri untuk  berfoto bersama Ibu Hartini Darmono, wanita inspiratif di Tambak Rejo yang telah mengangkat pangan lokal berkelanjutan di Semarang hingga dikenal mancanegara [Foto: Dok Pri]
Ketekunan dan keuletan beliau untuk terus membina dan mendukung juga didukung  kementerian UKM dan Kementerian Perikanan--usaha yang dirintis sejak tahun 1980 ini pun berhasil. Keprihatinan Ibu Darmono terhadap wanita-wanita nelayan di tempatnya justru memberikan kesempatan lain dirinya untuk membuat mereka semakin berdaya.

Ya, kehidupan wanita nelayan yang hanya mengandalkan hasil tangkapan saja tidaklah cukup. Ibu Darmono memutar otak  agar bagaimana wanita nelayan di tempatnya tidak menganggur. Dari sinilah beliau mengajak warga untuk berwira usaha. Mulanya memang klaster dengan olahan bandeng presto.

Tak banyak memang yang ikut, hanya sekitar 20 orang saja dengan dukunga modal dari kementerian perikanan. Dulunya pun produksi sehari tidak banyak, hanya 3 kilogram.Tetapi, gayung bersambut, lama kelamaan bandeng prestonya banyak peminat. Alhasil, sehari bisa mencapai 100-500 kg bandeng untuk dibuat presto.

Selain bandeng presto, Ibu Darmono juga memproduksi otak-otak bandeng dan tahu bakso ikan laut. Ikan bandeng, ternyata memiliki banyak manfaat, antara lain dapat menambah berat tubuh. Mengonsumsi ikan artinya kita mengonsumsi protein. Membuat massa otot bertambah. Ya, protein hewani khususnya ikan mampu membuat massa otot bertambah.
 
Jelajah Gizi Semarang 2018: Saya dan beberapa rekan jelajah gizi Semarang mencicipi olahan Ikan Bandeng Presto Ibu Hartini Darmono. Rasanya benar-benar berbeda, tidak berbau amis dan lembut [Foto: Dok Pri]
Tak kalah hebatnya, ikan bandeng berperan dalam meningkatkan fungsi otak. Ikan bandeng cukup mengandung garam. Oleh karena dapat dipakai untuk  merangsang fungsi otak. Ingin kulit halus? Ikan bandeng menjadi jawaban tepat. Karena di dalamnya banyak mengandung vitamin C dan D.

Di dalam tubuh manusia memang terdapat lemak, yaitu lemak trigliserida. Nah, lemak ini dapat diturunkan dengan mengonsumsi ikan bandeng. Tekanan darah tinggi pun dapat diturunkan dengan makan ikan bandeng, karena ikan bandeng mampu menghancurkan kristal garam di dalam tubuh.

Sebagai bahan perawatan kulit tubuh. Ingin kulit tubuh tetap kencang, konsumsi ikan bandeng  karena dapat mencegah proses penuaan dan keriput wajah. Kita boleh mengonsumsi ikan bandeng asal tidak berlebihan. Bandeng dapat kita konsumsi dua hari sekali. Pembengkakan  pada tubuh (edema) pun dapat dicegah dengan mengonsumsi ikan bandeng. Di dalam ikan bandeng banyak mengandung vitamin B, vitamin ini yang diperlukan untuk mencegah pembengkakan.

Pernah mengalami memar di permukaan kulit? Itu karena pembuluh darah kapiler kita mudah pecah dan kurang nutrisi. Konsumsi Ikan bandeng dapat memulihkan dan membuat kuat pembuluh darah permukaan kulit.
 
Jelajah Gizi Semarang 2018: Beberapa hasil olahan ikan bandeng Unit Desa Mina Makmur Semarang seperti Bandeng Presto, Bandeng Pepes, Otak-otak juga bakso [Foto: Dok Nutrisi Bangsa]
Bagaimana kandungan nutrisi ikan bandeng itu sendiri? Berikut ini beragam publikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan diolah dari sumber-sumber lainnya menghasilkan dalam 100 gram bandeng presto mengandung Bagian Bandeng Presto yang dapat dikonsumsi (Bdd / Food Edible) = 100 %, Jumlah Kandungan Energi Bandeng Presto = 296 kkal, Jumlah Kandungan Protein Bandeng Presto = 17,1 gr.

Jumlah Kandungan Lemak Bandeng Presto = 20,3 gr, Jumlah Kandungan Karbohidrat Bandeng Presto = 11,3 gr, Jumlah Kandungan Kalsium Bandeng Presto = 1422 mg, Jumlah Kandungan Fosfor Bandeng Presto = 659 mg, Jumlah Kandungan Zat Besi Bandeng Presto = 1,9 mg, Jumlah Kandungan Vitamin A Bandeng Presto = 19 IU,Jumlah Kandungan Vitamin B1 Bandeng Presto = 0,14 mg, dan Jumlah Kandungan Vitamin C Bandeng Presto = 0 mg.

Prof. Ir. Ahmad Sulaeman MS, PhD. Pakar Gizi dan Keamanan Pangan IPB [Foto: Dok Nutrisi Bangsa]

Pakar gizi dan Keamanan Pangan Institut Pertanian Bogor, Prof. Ir. Ahmad Sulaeman,MS, PhD., mengatakan bahwa, Ikan Bandeng mempunyai banyak manfaat. Ikan bandeng presto yang ada di Semarang ini menjadi pangan lokal yang dapat dibudidayakan dan dipertahankan untuk keberlanjutan pangan. Konsumsi ikan bandeng, dapat menyehatkan.

Setelah  tahu khasiat dan kandungan nutrisi ikan bandeng, makin doyan kan mengonsumsi ikan?

2 comments:

Ariefpokto said...

Hebat banget But Hartini dkk, bisa menggerakan bisnis kuliner kebanggaan Semarang .Btw bandengnya enakan ini deh dibanding di tempat yg biasa beli. Kalau ke Semarang lagi maunya beli di Mina Makmur

Mpo Ratne said...

Bau lumpur ikan bandeng bisa mengurangi selera makan. Mpo sekeluarga hoby makan ikan bandeng