Tuesday, May 2, 2017

How to Build Self Development

Pengembangan diri meliputi kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan identitas, mengembangkan bakat dan potensi, membangun modal manusia dan memfasilitasi kelayakan kerja, meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi terhadap realisasi mimpi dan aspirasi.

Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri
Bagaimana kita mampu membangun pengembangan diri?
Foto: Dok. https://media.licdn.com/
Pengembangan diri berlangsung sepanjang hidup seseorang. Tidak terbatas pada swadaya, konsep tersebut melibatkan kegiatan formal dan informal untuk mengembangkan orang lain dalam peran seperti guru, pemandu, konselor, manajer, pelatih kehidupan, atau mentor. Ketika pengembangan diri terjadi dalam konteks institusi, ini mengacu pada metode, program, alat, teknik, dan sistem penilaian yang mendukung pembangunan manusia pada tingkat individu dalam organisasi.

Pengembangan diri juga bisa mencakup pengembangan orang lain. Hal ini mungkin terjadi melalui peran seperti guru atau mentor, baik melalui kompetensi diri (seperti keterampilan manajer tertentu dalam mengembangkan potensi karyawan) atau melalui layanan profesional (seperti memberikan pelatihan, penilaian atau pembinaan).

Selain memperbaiki diri dan mengembangkan orang lain, "pengembangan diri" memberi label pada bidang praktik dan penelitian. Sebagai bidang praktik, mencakup metode pengembangan diri, program pembelajaran, sistem penilaian, peralatan, dan teknik.
Sebagai bidang penelitian, topik pengembangan diri muncul di jurnal psikologi, penelitian pendidikan, jurnal manajemen serta buku, dan ekonomi pembangunan manusia.

Segala bentuk pembangunan - baik ekonomi, politik, biologi, organisasi atau diri - memerlukan kerangka kerja jika seseorang ingin mengetahui apakah suatu perubahan telah terjadi. Dalam kasus pengembangan diri, seseorang sering berfungsi sebagai hakim utama perbaikan atau regresi, namun validasi perbaikan objektif memerlukan penilaian dengan menggunakan kriteria standar.

Kerangka pengembangan diri dapat mencakup tujuan atau tolok ukur yang menentukan titik akhir, strategi atau rencana untuk mencapai tujuan, pengukuran, dan penilaian kemajuan, tingkat atau tahapan yang menentukan tonggak sepanjang jalan pengembangan, dan sistem umpan balik untuk memberikan informasi tentang perubahan.

Blogging menjadi salah satu bentuk pengembangan diri untuk saya secara personal. Seiring majunya teknologi dan akses internet, blogging menjadi semacam indikator seseorang eksis tanpa narsis. Blog menjadi sarana seseorang menorehkan pikiran, mengeluarkan segala macam bentuk perasaan, menumpahkan gejala-gejala sosial yang diperoleh selama perjalanan panjang.

Bagaimana blog mampu mempengaruhi pikiran seseorang yang membacanya. Menuntaskan dahaga “liar” dalam deretan panjang kalimat-kalimat bermakna yang akan terus digulirkan hingga mencapai titik kulminasi. Melatih bagaimana menjadi kreatif melalui tulisan dan menciptakan peluang baru dalam dunia media sosial. Pada akhirnya, akan bermuara pada sarana untuk mengembangkan bisnis dan networking.

Masuk dunia blogging baru sekitar 2012. Tak banyak yang saya ketahui, hanya sekadar menulis dan menumpahkan apa yang terjadi pada diri, lingkungan sekitar, dan fenomena sosial. Semua saya rangkai dalam satu frame bernama Blog. Tulisan-tulisan saya yang ada di Blog (blog personal), terkadang tak lebih dari hasil menghadiri event atau undangan acara tertentu.

Sejujurnya, blog saya tak saya fungsikan untuk mencari sesuap nasi atau segenggam berlian. Saya membiarkan dengan tetap dirawat dan dijaga. Tetap menyirami dan memupuk agar beroleh subur. Tak pernah terbersit untuk menjadikan blog saya sebagai pundi-pundi penghasilan. Semua saya lakukan dengan senang hati, tanpa paksaan, dan kenyamanan.

Akan tetapi, perkembangan dan kemajuan teknologi tak dapat dihindari. Mau tidak mau,  saya harus mengikuti dengan ketat. Mau dibawa ke mana sebenarnya blog yang dipunyai. Sudah saatnya, me-maintain blog secara lebih akurat, terstruktur, dan sesuai passion (yang paling diminati).

Perlu proses ketika saya memulai untuk serius menekuni dunia blogging. Namun, masih banyak hal-hal yang harus saya pelajari dan gali serta kembangkan. Itu semua agar blog yang saya punya ada ciri khas. Saya tak mau punya blog yang sudah banyak beredar dan sudah umum seperti orang kebanyakan.

Memang, sebenarnya punya berapa blog tak dilarang. Tetapi, konsistensi mengisi dan mengembangkannya perlu disiasati. Percuma banyak blog, tetapi blognya tak memiliki spesifikasi, semua dihajar masuk atau dicemplungin. Untuk saya, punya dua blog saja sudah sulit mengurusnya, apalagi punya hingga 5 atau 10 blog (??). Kecuali kalau memang blog-blog itu akan saya fungsikan untuk beroleh penghasilan. Satu atau dua blog, tetapi mampu saya olah secara konsisten, itu jauh lebih baik ketimbang saya punya sepuluh blog tetapi semua isi hanya etalase dan “jualan”.

Ada banyak hal yang perlu saya benahi dalam di dua blog yang saya miliki itu. Terutama dari dalam diri saya terlebih dahulu. Bagaimana saya bisa konsisten menulis dan mengisi blog sesuai dengan tema dan passion yang saya punya. Adakalanya, sebulan hanya terisi satu, bahkan tak pernah ditulisi. Saya mencoba bagaimana menerapkan konsistensi ngeblog.

Memilih konten-konten kreatif yang dapat membangun citra blog secara pribadi sangatlah penting. Tak perlu materi yang berat-berat, mencoba dari yang ringan dan ukur kemampuan. Selanjutnya, coba disiplin dengan waktu posting. Saya masih harus terus belajar, bagaimana menjaga waktu posting. Bila memungkinkan, buat draft di manapun berada. Bisa dengan apa saja, apalagi zaman sudah semakin maju. Ngedraft di ponsel jadi salah satu cara sebelum dipindah ke blog.

Oleh karena itu, kalau indera penglihatan kita terbuka, maka akan tahu apa saja yang ada di sekeliling, sehingga kita tahu ada yang men-support, ada yang menjadikan diri ini malu kalau tak memenuhi atau melewatkan sesuatu jika tak sesuai rencana. Ada yang membuat saya terpacu untuk melakukan lebih baik lagi.
   
Hal-hal demikian menjadi sumber acuan saya. Kalau ingin berhasil mencapai apa yang diinginkan, maka kita harus membuat segala sesuatunya menjadi jelas. Dengan kata lain, kalau teman-teman punya tujuan, tujuan itu harus jelas sehingga teman-teman tahu ke arah mana untuk mencapai tujuan itu. Apa saja yang harus teman-teman perbuat, dan siap menghadapi tantangan maupun rintangan yang menghadang.

Untuk saya pribadi, tujuan saya membuat blog dan melakukan blogging harus jelas. Hal itu menjadi salah satu elemen dalam membentuk VAG (Very Attractive Goals) dengan kata lain, tujuan yang paling penting dalam pengembangan diri. Beberapa elemen VAG ini dapat memacu saya, antara lain ada kejelasan tujuan ngeblog, benar-benar penting (significant); sesuai dengan sikon (relevansi); berdasarkan passion, menarik minat, dan atusias baik dari dalam diri maupun untuk orang-orang yang mengamati.

Saya tak perlu muluk-muluk wish list pengembangan diri dalam blogging. Apa yang bisa saya lakukan akan saya lakukan sesuai dengan passion saya. Dunia kulinari sudah jadi setengah dari nyawa saya, otomatis saya akan terus meningkatkan skill, knowledge, dan memperdalam hospitality sembari ngeblog. Kuliner itu tak akan pernah mati karena jadi kebutuhan hakiki. Time management posting mesti terus saya perbaiki agar posting tak lewat waktu. Beberapa yang harus saya catat untuk pengembangan diri dalam blogging:

1.    Belajar bahasa asing lainnya
2.    Rangkul perubahan dan gejalanya
3.    Lirik klout score
4.    Berikan presentasi yang baik
5.    Promosi diri secara baik dan benar sesuai passion
6.    Berdebat secara konstruktif
7.    Manajemen waktu
8.    Kejelasan bicara
9.    Berpakaian secara pantas
10. Makan makanan sehat
11. Olahraga secara benar
12. Pelajari salah satu instrument musik
13. Komunikasi lisan dan tertulis
14. Temukan kesenangan yang paling disenangi
15. Pelajari  kesalahan
16. Berpikir positif
17. Berhenti dari kebiasaan buruk
18. Meningkatkan kesadaran  diri
19. Banyak mendengarkan

Steve Job
Foto: Dok. Google Image
Semoga!
#ODOP10



Monday, May 1, 2017

Kapan Lagi Bertemu Mereka?

Bentuk ikatan interpersonal yang lebih kuat dari satu asosiasi. Banyak ilmu yang membahas tentang hal yang satu ini, mulai dari komunikasi, sosiologi, psikologi sosial, antropologi, maupun filsafat. Berbagai teori pertemanan sudah banyak dikemukakan, termasuk pula teori pertukaran  sosial, ekuitas, dialektika relasional, dan  gaya keterikatan.


Cerita teman itu tak akan pernah habis
Foto: Dok. http://souvenirsmadison.com
Nah, ada studi mengenai database “Kebahagiaan Dunia” yang menemukan bahwa orang-orang dengan pertemanan yang lebih dekat justru lebih bahagia. Memang, ada banyak bentuk pertemanan atau persahabatan, beberapa di antaranya mungkin berbeda dari satu tempat ke tempat lain, karakteristik pun hadir di banyak jenis ikatan pertemanan.

Seperti apa saja karakteristik itu? Contohnya seperti kasih sayang, simpati, empati, kejujuran, altruisme, saling pengertian. Menikmati kebersamaan dalam satu pekerjaan masing-masing, dan kemampuan menjadi diri sendiri, mengungkapkan perasaan kepada seseorang yang memang dipercaya, dan membuat kesalahan tanpa rasa takut terhadap penilaian  dari teman.  

Memang, tidak ada batasan praktis mengenai jenis orang yang dapat membentuk persahabatan atau pertemanan. Teman cenderung berbagi latar belakang, pekerjaan, atau minat yang sama dan memiliki demografi hampir sama atau serupa.

Dalam urutan perkembangan emosional seseorang, persahabatan terbentuk setelah ikatan orang tua dan sebelum ikatan pasangan. Di periode intervensi antara akhir masa kanak-kanak dan awal dewasa menuju penuh, teman seringkali menjadi satu hubungan yang penting dalam kehidupan emosional remaja, dan seringkali lebih hebat dari hubungan di kemudian hari. Tidak ada teman dalam hidup akan dapat merusak seseorang secara emosional.

Dari sisi pendekatan psikologi evolusioner terhadap perkembangan manusia, Dumbler telah menghasilkan sejumlah teori, teori tersebut diajukan oleh antropolog Inggris, Robin Dunbar. Dia berteori bahwa ada batas sekitar 150 orang dengan siapa manusia dapat menjaga hubungan sosial yang stabil.

Di dalam Ensiklopedia Diderot, ada konsep khusus awal tentang persabatan yang baik pada abad ke-18. Di dalam tulisannya itu berisi mengenai: Persahabatan tidak lain sebagai praktik menjaga perdagangan  yang layak dan menyenangkan dengan seseorang, apakah persahabatan atau pertemanan tidak lebih dari itu?

Pertemanan, disebutkan tidak terbatas pada istilah saja, melainkan  melewati batas yang sempit. Orang-orang yang membuat pengamatan tidak menganggap bahwa dua orang yang tidak berteman, atau tanpa teman, menjaga hubungan yang tidak ada dan tidak salah, justru hal itu akan memberi mereka kesenangan timbal balik.

Perdagangan yang mungkin dengan seorang pria atau wanita melibatkan pikiran atau hati. Nah, perdagangan itulah yang disebut kenalan, perdagangan  tempat hati mengambil minat karena kesenangan yang diperoleh dari pertemanan. Saya pribadi tidak melihat gagasan yang lebih akurat dan sangat sesuai untuk menjelaskan semua persahabatan itu dengan sendirinya dan termasuk propertinya.

Hingga sekarang, masih erat melekat dalam benak, sesiapa teman-teman saya saat masih bersama-sama dahulu. Mulai dari Sekolah Dasar hingga sama-sama menempuh pendidikan tinggi.

Ada Muhammad Saudi teman satu kelas dan satu bangku. Saat kelas enam SD, badannya  lumayan besar dan rambutnya berwarna kemerah-merahan. Anaknya jarang banget marah. Seringnya mancing ikan sepat di selokan. Terkadang, dia menghampiri main ke rumah saya. Kami jalan bersama-sama ke sungai, berenang, dan mancing ikan. Kalau ada anak-anak lain yang coba mengganggu saya, dia maju paling depan belain.

Sekolah Menengah Pertama mengingatkan saya pada teman-teman yang mulai ABG (kata bahasa anak-anak sekarang). Pola tingkah yang buat guru senang, marah, juga nahan emosi. Teman satu bangku saya ini selalu ceria, namanya Faturrahman. Saya kasih gelar ke Fatur--biasa saya panggil—Kirbi (Keriting biri-biri), hahaha… Soalnya, rambutnya mirip banget dengan bulu domba biri-biri. Ikal-ikal dan sulit disisir. Mungkin kalau lalat hinggap atau masuk ke rambutnya udah ga bisa keluar lagi, alias mati saking rapat dan kerasnya itu rambut.

Kami bersaing dalam beberapa mata pelajaran, terutama bahasa Inggris. Saya tidak pernah ikut kursu bahasa Inggris secara formal, tetapi dia ikut. Tetapi, meski begitu, kami saling berbagi pelajaran dan memberi tahu untuk yang tidak tahu. Fatur juga suka bantuin teman-teman yang kesulitan dalam pelajaran bahasa Inggris.

Masa-masa paling indah masa-masa di SMA, kata lagu Obbie Mesakh. Ya, kenapa coba? Di SMA, pernah satu kelas dihukum jemur bareng-bareng gegara loncat pagar. Maksudnya mau merayakan ulang tahun teman, itu pas guru yang ngajar di jam itu tidak ada. Inisiatif dari salah satu teman yang semuanya ikut saja.

Di SMA  satu teman sebangku saya, namanya Ahmad Fadli. Badannya kerempeng, wajahnya agak lonjong, dan perawakannya agak pendek, rambutnya juga keriting biri-biri. Saya dan dia, kalau sudah dapat soal Fisika, orang yang duluan selesai ngerjain. Kami, meski satu bangku persaingan belajar tetap jalan, tetapi bersaing sehat tentunya. Fadli agak  pendiam dan kalau sudah baca buku, tekunnya minta ampun. Diganggu orang pun dia cuekin, terus aja baca.

Menginjak masuk kuliah, nah, di sini kan duduknya sendiri-sendiri. Saya punya beberapa teman dekat yang baik dan selalu support. Apalagi saat krisis dompet datang melanda. Ditambah pula, fotokopian bahan saat duit ngepas di badan. Hahaha… bukan cowok matre lho ya…

Ya, Herfrika salah satunya. Saya biasa panggil Lika. Anaknya imut dan cantik mirip Yuni Shara. Baik banget sama saya. Kalau saya lagi bokek untuk fotokopi, dia dengan senang hati memberi dan ga pernah minta kembali. Kini, dia menikah dengan orang Yordania dan tinggal di sana. Sudah jarang-jarang pulang ke Indonesia.

Ada juga Puji Budi Setia Asih. Punya rambut pirang-pirang gimana gitu, pakai kaca mata yang relatif tebal. Kami sering bertukar catatan kuliah untuk saling melengkapi atau mengoreksi kalau-kalau ada yang terlewat. Anaknya cukup cerdas, selepas kuliah, dia sambung ke Belanda untuk ambil S2 dan ke Amerika untuk S3. Tuntas dalam waktu yang terbilang cepat. Kini, Puji menjadi salah satu peneliti Genetika di Lembaga Eijkman RSCM.
Mungkin satu saat nanti, saya dan mereka-mereka dapat dipertemukan kembali dengan wajah-wajah yang sudah berubah, rambut mulai dua warna, tenaga tak lagi sekuat dulu muda. Masing-masing menenteng “buntut” yang entah berapa jumlahnya. Semoga.


#ODOP9

Sunday, April 30, 2017

My Wish List Basket For a Year


Dulu, pernah ga ditanya-tanya sama orang sekitar atau guru sekolah, “Cita-cita kamu mau jadi apa?” Ada yang jawab jadi pilot, dokter, insinyur, teknisi, polisi, dan banyak lagi ya. Nah, begitu juga saya. Saat kecil, saya ditanya sama guru, cita-citanya mau jadi apa. Kala itu spontan saya jawab, mau jadi ahli pertanian. Hihihihi… tapi semuanya berubah seiring jalannya roda zaman.

Apa yang menjadi harapan di 2017 ini?
Foto: Dok. http://media.istockphoto.com/
Di SMP pun begitu, saya ditanya mau jadi apa. Saya jawab ahli bahasa. Dan, di SMA juga terjadi hal yang sama, pertanyaan yang sama, nanya cita-cita saya mau jadi apa. Saya jawab, jadi dokter. Dududuuuuu… Dokternya ga kesampaian, jadinya ahli Biologi sajalah.

Ada banyak daftar harapan yang satu per satu terwujud ada juga yang masih nyangkut. Di saat teman-teman saya masih kuliah, saya sudah bekerja dan menikmati gaji jadi orang gajian. Habis itu, saya juga ingin segera menikah, tapi siapa yang mau dinikahi? Wong saat bekerja, pergi pagi pulang petang, bagaimana mau ketemu pasangan?

Tetapi, Alhamdulillah, Allah SWT mungkin mempertemukan saya dengan gadis yang saya idam-idamkan setelah sekian tahun jojoba (jomblo-jomblo bahagia). Perjuangan juga dapetinnya. Mungkin karena niatnya baik dan benar, jadi dipermudah saja jalannya oleh Allah SWT. Akhirnya menikah.

Menikah ingin segera ada yang bisa ditimang-timang dan dibecandain, Alhamdulillah istri hanya kosong tiga bulan. Lahirlah anak pertama saya, lelaki masa depan keluarga. Tak dinyana, tiga tahun setelahnya lahir pula adiknya si abang, bayi perempuan mungil yang cantik dan gemesin. Lengkaplah sudah keluarga kecil saya.

Hari, bulan, tahun,terus berganti. Begitu pula roda kehidupan yang saya dan keluarga kecil jalani. Putaran roda-roda kehidupan terus berjalan. Terkadang di bawah, tetiba berada pada puncaknya. Tapi tak menyurutkan langkah untuk tetap terus maju menghadapi kehidupan yang lebih baik.

Dari tahun ke tahun, harapan-harapan baru muncul, meski harapan sebelumnya ada yang terwujud ada pula yang belum. Kalau belum terwujud, mungkin memang saatnya belum tepat. Percaya dan yakinlah, rezeki dari Allah SWT dengan berusaha sekuat tenaga berdasar cara-cara yang halal. Insya Allah, semua jadi berkah.

Sementara, harapan yang telah terwujud wajib disyukuri. Bisa jadi, dari harapan yang diwujudkan tadi, ada sebentuk ujian Allah. Ya, kita tidak tahu ujian dari Allah itu banyak  macam dan caranya, asal kita peka.

Tuliskan apa yang jadi keinginan
Foto: Dok. http://media.istockphoto.com/
Harapan-harapan yang sudah masuk ke dalam daftar panjang selama satu tahun ke depan untuk saya tidak muluk-muluk. Saya berpikir, apa yang saya harapkan, itu yang akan saya kerjakan. Bolehlah menggantungkan harapan setinggi langit, tapi perlu mengukur kemampuan diri. Sudah sampai atau belum, atau malah justru akan menyakitkan.

Untuk satu tahun ini (2017), ada keinginan untuk menyelesaikan paper-paper hasil riset beberapa waktu lalu yang belum sempat dibukukan. Berharap, ada satu dua buku lagi  yang bisa terbit dari hasil kunjungan dan riset tersebut.

Keinginan dari lubuk hati yang paling dalam untuk menyinggahi baitullah dalam keadaan sehat wal afiat tanpa kurang satu apapun bersama keluarga tercinta. Memberikan wisata rohani untuk keluarga tercinta. Mengenal lebih jauh para bapak anbiya yang telah memberikan setetes ilmu kehidupan dan masih tetap dipertahankan untuk dipelajari.

Meningkatkan dan memperbaiki amal dan ibadah, menuju hal-hal baik dan benar. Mengupayakan untuk salat tak pernah ditinggalkan bukan sekadar menggugurkan kewajiban dan tepat waktu. Lebih banyak mengingat kematian dibanding mengingat harta-harta yang terkumpul tetapi tak diperjuangakan untuk jalan Allah SWT.

Kebahagiaan keluarga yang diberikan kepala rumah tangga untuk anak-anak dan istri tercinta. Mendidik dengan pola asuh islami model ajaran Rasulullah sebagai teladan umat. Tak pelak memang, apapun yang dicita-citakan tetapi hanya diucapkan, percuma! Aksikan dengan gerakan bukan sekadar canangan di kertas tak bersuara.

Sebagai pengejawantahan dari hal-hal yang sudah saya perbuat, berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik itu wajar. Akan tetapi, memberikan untuk kemaslahatan dan kebaikan umat itu jauh lebih baik. Wish list yang tak panjang lebar tetapi berharap akan ada jalan terbuka lebar, amin.

#ODOP8  


Saturday, April 29, 2017

Nyebelin Tapi Masih Bisa Bersaudara

Pastinya teman-teman pernah mengidam-idamkan pergi jalan keluar negeri. Ya, mungkin ga perlu jauh-jauh ke Eropa atau Amerika gitu. Cukup di sekitaran Asia saja. Saya, memang tak pernah membayangkan apalagi keinginan untuk pergi keluar negeri. Itu waktu SMP. Tetapi, ketika SMA, saya mulai berpikir begini, “Wah, enak nih kalo bisa jalan keluar negeri. Mungkin dan pastinya berbeda dengan di negeri sendiri. Tentunya banyak banget mungkin ya perbedaan”, terucap dalam hati.


Meski pernah ribut tapi Indonesia-Malaysia masih bisa jadi saudara
Foto: Dok. http://www.ukabc.org.uk/
Melihat berita-berita di televisi mengenai negara tetangga kala itu cukup menggiurkan untuk dikunjungi. Berkhayal untuk bisa tinggal beberapa di negara tetangga idaman akhirnya melekat dalam diri saya. Apalagi kalau ada flyer atau booklet yang tak sengaja di temukan di tengah jalan, wah senangnya bukan kepalang.

Kadang-kadang, saya pergi ke perpustakaan daerah untuk sekadar cari literatur tentang negara tetangga yang akan saya kunjungi kelak. Ya, cita-cita boleh digantungkan setinggi langit, kalau tanpa usaha sama saja bohong. Dari sejak SMA itu, segala hal yang berbau negara tetangga saya telusuri.

Mulai dari bahasa yang dipakai, budayanya seperti apa, jenis makanan, apakah ada banyak masjid bertebaran di sekitar tempat atau daerah nanti yang akan saya kunjungi. Mana-mana bagian sudut kota yang bisa dijadikan cerita. Apakah latar belakang sosial budaya terutama orang-orangnya ramah atau justru perlu trik khusus. Benar-benar saya baca satu per satu.

Informasi-informasi itu saya kumpulkan dalam satu catatan. Tetapi, tak jarang juga saya pinjam buku tentang pariwisata atau buku mengenai negara-negara tetangga Indonesia tersebut. Entah kenapa, ketika saya baca, saat zamannya Soekarno memerintah, ada istilah “Ganyang Malaysia”.

Ternyata eh ternyata, Ganyang Malaysia yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno itu sebagai bentuk perlawanan atau menentang Malaysia tentang perbatasan. Banyak orang-orang Indonesia yang ingin kembali mengganyang Malaysia seperti tahun 1960-saat itu. Justru kalau mau berperang, ya berperang saja pemerintah Indonesia siap. Bagaimana  konfrontasi itu sebenarnya terjadi.

Orang yang memomulerkan istilah konfrontasi saat Soekarno menjadi Presiden adalah Menteri Luar Negeri, Soebandrio sekitar 20 Januari 1963. Adanya sikap bermusuhan itu tadi diperkuat juga oleh Presiden Soekarno melalui perintah Dwi Komando (Dwikora) pada 3 Mei 1963. Isinya, selain perintah untuk memperkuat ketahanan revolusi Indonesia, seluruh rakyat diminta membantu perjuangan rakyat Malaya, Singapura, Sarawak, dan Sabah untuk menghancurkan Malaysia. Indonesia menganggap pembentukan Federasi Malaysia yang didalangi Inggris sebagai upaya nekolim (neokolonialisme dan imperialisme) membentuk sebuah negara boneka.

Nah, istilah ”Ganyang Malaysia” dicetuskan Soekarno. Presiden Soekarno sangat gusar ketika dalam demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur pada 17 Desember 1963 demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, dan membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan PM Malaysia waktu itu, Tunku Abdul Rahman, dan memaksanya menginjak lambang Garuda tersebut.

Ternyata, Bapak Presiden marah besar dan sangat mengutuk perbuatan Tunku tersebut. Soekarno mau balas dendam dengan melancarkan gerakan “Ganyang Malaysia” ke negara Federasi Malaysia yang sudah keterlaluan menghina Indonesia dan Presiden.
Akhirnya, Bapak Presiden kita itu pidato di depan rakyatnya. Nah, kira-kira begini 
pidatonya:


Presiden Soekarno, pidatonya tak pernah buat ngantuk dan berapi-api
Foto: Dok. https://cdns.klimg.com
”Kalau kita lapar itu biasa. Kalau kita malu, itu juga biasa. Namun, kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar! Kerahkan pasukan ke Kalimantan, hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat, jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak Malaysian keparat itu.”

”Doakan aku, aku akan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa, sebagai martir bangsa, dan sebagai peluru bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.”
”Serukan, serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini. Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.”
”Yoo... ayooo... kita ganyang. Ganyang Malaysia! Ganyang Malaysia! Bulatkan tekad. Semangat kita baja. Peluru kita banyak. Nyawa kita banyak. Bila perlu satoe- satoe!”

Wuiiiih, saya jadi bergidik baca pidato Bung Karno ini. Bergidik karena semangat juang beliau yang benar-benar bela negara ini. Jadinya, pidato yang dia sebarkan melalui radio saat itu (radio pada masa Soekarno) merupakan alat komunikasi dan informasi yang sangat penting, sampai ke pelosok negeri.

Banyak sukarelawan yang mendaftarkan diri untuk ikut mengganyang Malaysia. Di Asia Tenggara, persenjataan Indonesia menjadi terkuat karena Uni Soviet memberikan bantuan. Tak ada ketakutan Indonesia untuk menggempur Malaysia pada waktu itu. Tetapi, meski demikian semua perselisihan dapat diselesaikan. Mungkin, mungkin nih ya, sampai sekarang masih ada rasa dongkol juga sih sama Malaysia.

Namun, bagaimanapun, Malaysia menurut saya sebagai tempat yang asyik untuk ditandangi. Bukan apa-apa, selain bahasanya yang tak jauh beda dengan Indonesia, di negara ini juga banyak muslimnya. Terpenting, kalau ke negara ini tak khawatir untuk tidak mendapatkan makanan halal.

Hal yang terpenting  lagi adalah Malaysia dan Indonesia masih sama-sama satu rumpun, Melanesia. Dari sisi makanan pun tak jauh beda, hanya beda penyebutannya saja. Dan, Malaysia ini juga tempat pertama kali negara yang saya tinggal dan kunjungi. Ya, saya masih bisa toleran dengan Malaysia dan masih saya anggap dan masih bisa menjadi negara saudara Indonesia.

#ODOP7




Thursday, April 27, 2017

Belajar Dari Sapu Lidi

Ga tau ya, buat saya masa-masa kecil itu masa paling indah dan penuh warna. Bayangin aja, saya bisa main sepuas-puasnya tanpa teriakan bapak dan ibu. Pergi ke sungai berenang dan mancing  ikan. Eh, dulu waktu SD saya sudah bisa berenang lho. Ke padang rumput  yang lumayan luas cari  belalang, terus belalangnya diikat benang (menyiksa ini namanya), ya masih kecil ga ngerti dosa. Belalangnya diikat benang terus disuruh terbang.
Selain itu, saya juga biasa ikat kaki ayam pakai tali raffia. Tetapi yang jelas ikatannya tidak terlalu kencang. Masih bisa dilonggarin dan dilepas juga ikatan di kaki ayam itu. Ayamnya diikat, terus talinya ditambatin sama salah satu pohon yang ada di sekitaran kandang ayam di rumah.

Sapu lidi ini penuh kenangan dan pelajaran berharga untuk saya
Foto: Dok. https://www.inspirasi.co
Kadang-kadang juga saya pergi sama teman-teman jerat burung di antara pepohonan tak jauh dari rumah. Cara jeratnya pakai sangkar burung yang dibuat dari bambu. Lantas, di dalam sangkarnya diberi makanan dalam wadah bening, seperti biji-bijian. Pintu sangkar burungnya diikat sama tali di dua sisi. Sisi yang untuk membuka pintu, dan sisi yang untuk menutup pintu.

Selain umpan biji-bijian, kadang dimasukin pula burung hidup untuk memancing burung lainnya datang ke sangkar yang sudah diberi umpan burung dan biji-bijian. Dan, usaha untuk menangkap burung ini selalu berhasil. Burung tangkapannya dipiara di rumah sama salah satu teman saya.

Nah, di sekolah pun saya termasuk orang yang paling banyak  teman. Soalnya dibilang sama teman-teman saya jarang berkelahi atau ribut dan suka menolong (ciee ciee…). Guru-guru pun senang dengan saya. Kata beberapa guru, saya anak yang ramah, sopan, dan suka menolong, itu kata guru saya lho yaa…

Biasanya, sebulan sekali di sekolah itu membuat sapu lidi. Nah, sapu lidi yang dibuat secara berkelompok. Masing-masing  kelompok isinya ada lima anak. Di satu kelas ada  30 anak. Jadi dibuat sebanyak 6 kelompok. Dan ada enam gepok sapu lidi yang lumayan gede-gede ikatannya.

Memang pas juga kali ya disuruh buat sapu lidi, soalnya diminta sama guru pelajaran keterampilan. Di masing-masing kelompok tadi setiap anak diwajibkan membawa daun kelapa yang masih ada lidinya sekitar satu ikat penuh. Ya, kira-kira diameter 30 cm. Lumayan banyak juga yah.

Kalau tinggal di kampung, Alhamdulillah apa saja ada. Semua tidak pernah beli. Tinggal minta sama tetangga. Kurang ini itu juga bisa metik di jalanan, hahaha… ini kenyataan lho teman-teman yang saya hadapi sendiri.

Nah, selesailah sapu lidi yang sudah disiangi dari daunnya itu dan jadi satu ikat penuh dari kelompok saya. Kelompok yang lain pun demikian. Guru keterampilan minta ke setiap kelompok untuk menyerahkan  sapu lidi yang sudah jadi ke kelompok saya. Saya diminta untuk mengantarkan sapu lidi tersebut ke salah satu rumah seorang guru.

Jam pulang sekolah sudah tiba saatnya, bergegas saya untuk siap-siap pulang dan mengantarkan sapu lidi ke rumah salah seorang guru bersama dua orang teman saya. Biasalah ya anak-anak SD, kalau mau pulang bawaannya bercanda melulu. Nah, teman-teman saya yang tidak kebagian tugas mengantarkan itu sapu lidi, masih bercengkerama dengan saya selama perjalanan pulang, termasuk dua teman saya yang mengiringi dari belakang.

Saya juga memang suka bercanda dengan sesama teman. Ya, jadinya semakin tambah seru aja candaannya. Nah, selama bercanda ini terkadang saya menoleh ke belakang sembari ngakak-ngakak dengerin cerita teman-teman saya. Susah ya kalau urat ketawa udah putus, ada hal lucu  sedikit ngakak.

Saya masih belum sadar aja tuh, masih aja terus bercanda dan ketawa puas. Teman-teman saya juga ga sadar. Genggaman enam gepok sapu lidi masih di tangan saya. Tanpa ba bi bu… jebuuurrr… saya tak sadar, di depan jalan saya itu ada genangan air dalam lubang setinggi setengah badan.

Teman-teman yang tahu kalau ada genangan, mereka segera menyingkir. Nah ini saya, yang asyik ngakak tapi ga lihat jalan, kejebur dengan badan penuh lumpur. Teman-teman justru balik menertawakan saya. Di situ muka merah dan malu ga ketulungan. Soalnya, genangan itu di jalan raya yang banyak dilalui kendaraan. Duh muka saya mau ditaruh di mana saat itu.

Mau tidak mau saya kan malu, sapu lidi yang enam gepok saya serahkan ke salah satu teman saya untuk diantar ke rumah guru. Sementara, saya buru-buru pulang dan mandi. Ngakak-ngakak juga saya sampai rumah cerita ke ibu. Ibu saya berpesan, “Di jalan, apalagi di jalan raya, jangan pernah bercanda yang macam-macam. Waspada lihat jalan, antisipasi bahaya dan jangan lengah”. Sapu lidi kejebur got atau apalah namanya itu, masih mengiang sampai sekarang di benak saya. Jadi, kalau ada yang bawa sapu lidi atau yang jual sapu lidi, saya langsung relate ke masa kecil dulu. Hahaha…


#ODOP6

Dari Masak, Asbak Tanah Liat, hingga Peta Bubur Kertas

Zaman sekolah dulu namanya ada salah satu mata pelajaran PKK saat di SD, terus  di SMP namanya Keterampilan Jasa. Cerita-cerita zaman SD ini banyak banget yang sampai sekarang masih saya ingat. Waktu itu dibentuk lima kelompok, masing-masing beranggotakan 7 orang. Nah, yang guru PKK minta waktu itu buat masakan rumahan. Padahal masih SD lho ya. Ya, tingkatan kelasnya sudah kelas enam sih, jadi sudah bisa berpikirlah  sedikit banyak.

Gulai nangka
Foto: Dok. http://www.tnp.sg/
Ribet banget ya pas zaman SD itu kalau buat kelompok dan dijadiin satu kelompok. Apalagi kalau teman sebelah ga ngomong-ngomong sama kita. Ditambah lagi teman yang satu kelompok tak bertegur sapa. Kacau kan ya. Tapi beda sama kelompok saya. Justru di kelompok ini anak-anaknya pada bawel, termasuk saya (ha ha ha… ngaku).

Jadi, saat guru PKK minta kasih tugas  buat masakan rumah untuk dinilai, pada kebingungan lah kelompok saya. Kelompok saya itu kebagian sayur gulai nangka sama ikan kembung sambal. Ha hah ha… jujur deh ya, pada zaman SD harga-harga masih pada murah banget. Nangka tidak beli, melainkan ambil di kebun teman, kelapa pun begitu tinggal metik. Nah, cabe, dan teman-temannya tinggal kolekan dari rumah masing-masing.
Ha ha ha… masih lucu aja ngebayanginnya hingga sekarang. Betapa tidak, masih SD disuruh masak. 

Ya, dulu ga pake blender, semua serba diulek. Yang tak biasa ngulek, panas-panas deh tangan. Teman yang ngulek cabe berkali-kali basuh tangan pakai air. Namun, saya ingat ucapan ibu saya, “Kalau nanti kamu ngulek cabe, ga usah takut panas tangannya, olesin minyak goreng yang dikasih garam, diemin sebentar, nanti juga hilang panasnya”.

Nah, itu saya praktikkan dan memang benar, tangan saya tak berasa panas. Sama ketika teman saya ngupas bawang merah, matanya perih dan seperti orang nangis yang ga ketulungan. Tetap saja, ketika basuh muka, perihnya bawang merah maish nempel di matanya. Tak terbayangkan kan perihnya bawang merah. Hahaha… makanya ada cerita bawang merah dan bawang putih. Ternyata, memang ya bawang merah itu kejaaam…!

Ahaa… ibu saya juga kasih tips untuk menghindari perih saat mengupas bawang merah. Jadi, ketika mengupas bawang merah biar tidak perih, letakkan garam di samping kita saat mengupas. Sesekali lihat ke garam jika habis mengupas. Daaaan… kejadian bener, mata saya tak perih tuh. Saya ga tahu, logika dan berpikir  ilmiahnya seperti apa.

Mana sempetlah yah mikir ilmiahnya kala itu. Terpenting, ulekan bumbu dapur kelar dan mata, tangan, bebas dari dera siksa bawang merah dan ulekan cabe. Goreng ikan juga masalah. Maklumlah ya anak-anak SD, pokoknya main lempar aja tuh ikan ke dalam wajan. Minyak belum panas ikan sudah dimasukkan, alhasil itu ikan garing ga, bonyok iya.

Sambal ikan kembung
Foto: Dok. http://kulinesia.web.id/
Terpenting, “siksaan” guru kelar hari itu untuk disajikan  pas jam makan siang pelajaran PKK. Denger pelajarannya juga ngakak-ngakak sendiri. PKK? Halah! Itu kepanjangannya Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Baru tahu kan kepanjangannnya PKK waktu zaman saya sekolah itu sekarang? Hahah… Pelajaran tua banget menurut saya.

Kelarlah masak pada hari itu. Ga tau dari soal rasa. Terpenting ada rasa asin, santap saja. Masakan ala-ala anak SD zaman dulu ya apa aja dimasukin. Nangka dipotong pun kadang ga ada seni-seninya motong sayuran. Suka-suka. Ada yang besar, ada yang kecil, bentuk ga beraturan. Eeh… guru-guru yang icip-icip ternyata pada nambah. Hahaha…

Masak udah selesai, selang dua minggu kemudian guru PKK-nya minta murid-murid untuk buat apa saja yang berbau tanah liat. Secara saya tinggal di kampung, ya cari tanah liat ga begitu sulit. Yang sulit ketika tanah liat banyak  campuran pasirnya. Pas ngolahnya tangan berasa perih.

Kalau ini saya suka buat yang simpel tapi dipakai banyak orang. Ya kepikiran asbak rokok. Padahal sebelumnya mau buat vas bunga, lah kok jadi asbak. Asbak rokok dulu kan ada yang terbuat dari kaleng, bentuknya segitiga dan dibuat beragam warna. Ada merah, biru, kuning, juga ungu.

Sudah saja, dianggap asbak dari kaleng aluminium itu cetakan, maunya yang simpel dan mudah, tanah liat yang sudah diolah tadi dimasukkan ke dalam asbak rokok itu. Tunggu sampai kering, baru dikeluarkan. Tapiiiii… apa yang terjadi? Hahahaha… asbak rokok dari tanah litany tidak mau lepas alias lengket. Sudah ngolah capek-capek, untuk dapetin tanah liatnya memang tidak sulit, tapi gali ke dalam lapisan tanah yang lumayan dalam sekitar dua meter itu butuh tenaga. Nyangkul lagi!

Asbak tanah liat
Foto: Dok. https://lh4.googleusercontent.com
Muter otak juga akhirnya untuk bagaimana mengeluarkan itu asbak biar tidak pecah. Masa iya, asbak cetakannya digunting?! Kan ga lucu, mana itu asbak boleh minjem sama tetangga. Alhasil, siram air. Agak silly juga sih pikiran saya saat itu. Sudah ga mau mikir terserah saja apa yang terjadi saat disiram air. Yaaaah… itu tanah liat retak-retak karena kering dan berasa panas, tiba-tiba disiram air.

Ya sudah, berantakin saja sekalian alias gagal total. Yah, akhirnya minta Koran bekas sama tetangga. Kertas Koran yang sudah tidak dipakai direndam semalaman, sebelumnya dirobek-robek dulu. Terus dikasih sedikit garam biar cepat hancur. Nah, jadi deh bubur kertas. Diperas airnya, lantas dimasak sama kanji.

Peta timbul bubur kertas
Foto: Dok. https://lh4.googleusercontent.com
Saya buat peta Sumatera yang sudah digambar di atas tripleks. Bubur kertas yang sudah dimasak tadi ditempelin ke tripleks sesuai bentuk peta yang digambar. Kemudian dijemur, setelah kering dicat. Catnya bisa pakai cat air atau cat minyak untuk menyesuaikan gambar peta tersebut.

Yaaa… jadi deh hasil kerja kreatif muter otak sehari.

#ODOP 5