Saturday, October 7, 2017

Craft As Art Mengakar pada Meet The Makers 12



Tak dapat dipungkiri, Indonesia menjadi salah satu Negara paling kaya budaya di dunia. Kekayaan budaya tanah air ini tak bisa dipandang sebelah mata oleh negara lain. Saking kayanya, sempat-sempat ada negara yang mengklaim budaya tanah air. Mulai dari lagu, alat musik, juga kuliner.

MTM 12: Mba Novi (pegang mik) Cinta Bumi; Ibu Nia (kerudung ungu), Mas Bregas MTM [Foto: DokPri]
Memang, bukan tugas generasi sebelumnya saja yang menjaga budaya negeri ini, tetapi peran generasi muda sebagai generasi penerus sekaligus penyelamat bangsa punya arti penting. Emban tugas perlahan-lahan beralih ke generasi millenials biasa kita sebut. 

Mungkin sedikit dari mereka entah tahu, mengerti, atau tidak kalau ditanya kain Savu dari mana asalnya. Lantas, ada apa saja cerita di dalam kain Savu tersebut? Atau juga ditanya nama salah satu daerah di Yogyakarta yang terkenal dengan kerajinan tanah liat atau gerabahnya.

Pengenalan budaya sejak dini sangat penting untuk generasi penerus cita-cita tanah air. Hal itu agar mereka tak lupa akan sejarah dan tempat asal usul mereka. Akar budaya perlulah mereka kenal dan tahu agar mereka tak gagu ditanya para guru.

Budaya, sebagai bentuk perilaku sosial dan norma yang ada dalam masyarakat. Budaya juga dianggap sebagai konsep sentral dalam antropologi, meliputi interval fenomena yang dipancarkan melalui pembelajaran sosial di masyarakat.

Aspek seperti perilaku, praktik sosial seperti budaya, bentuk ekspresif seperti seni, musik, tari, ritual, agama, dan teknologi (penggunaan alat, memasak, tempat berlindung, dan pakaian) dapat dibilang sebagai budaya universal. Hal itu ditemukan di semua lapisan masyarakat . Konsep budaya material mencakup ekspresi budaya, seperti teknologi, arsitektur, dan seni. Sementara itu, aspek material budaya seperti prinsip organisasi sosial.

Kriya (kerajinan) pun masuk dalam budaya tanah air. Di dalam kriya ini pun penuh dengan simbolisasi dan filosofi sarat makna. Oleh karenanya, kalau kita perhatikan, setiap goresan cat atau pewarna di dalam satu hiasan, mengandung makna yang tak bisa dipisahkan dari baik itu leluhur atau yang berkaitan dengan saji. 

Ya, cerita-cerita di balik kriya terdapat cerita yang sudah berurat berakar dari zaman dahulu. Ada pesan-pesan yang mesti disampaikan untuk generasi penerus mereka agar akar budaya asal tak mati jika di bawa keluar.

Seperti sedikit saya singgung tentang kain Savu tadi. Kain Savu sebagai kain tenun menjadi barang wajib setiap orang yang akan menikah untuk menggunakan kain itu di wilayah Nusa Tenggara Timur. Hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi pernikahan dengan saudara dari pihak ibu.

Savu juga tak jauh beda dengan batik yang berada di Jawa. Di Yogya dan Solo masa dulu, tak semua motif bisa dipakai orang. Karena motif-motif tertentu menjadi pembeda seseorang, apakah bangsawan atau rakyat biasa. Hal itu dapat dilihat dari motif yang dipakai raja. Kini, Sultan HB IX telah membebaskan motif-motif tersebut dipakai orang banyak. Motif batik juga tak lepas dari upacara dan kehidupan orang-orang Jawa.

LAWE dengan kain luriknya [Foto: DokPri]
Menjadi satu keniscayaan bahwa benar adanya, masyarakat sebagian sudah tidak tahu lagi tentang wastra tanah air. Terutama anak-anak muda sekarang. Gadget lebih mereka kuasai. Kain yang kalau mereka lihat mungkin hanya bergumam dalam hati, “Aah, kenapa juga kain kok dibela-belain?”

Bisa jadi juga, mereka hanya melihat kain saat upacara adat digelar atau saat ada acara perkawinan. Sangat disayangkan memang, Indonesia belum sepenuhnya membuat dokumentasi kain-kain nusantara. 

Batu Ike, alat pemukul kain kulit kayu [Foto: DokPri]

Booth Cinta Bumi [Foto: DokPri]

Tas dari kain kulit kayu produk Cinta Bumi [Foto: DokPri]
Sejalan dengan itu, perhelatan Meet The Makers 12 “Craft As Art” kali ini mengusung tema MENGAKAR. Di sini, dipertunjukkan kerajinan yang tersebar di tanah air yang masing-masing benar-benar mengakar pada nilai seni, sejarah, kebudayaan, dan fungsi yang tinggi. 

Kita juga perlu ketahui, mengakar di sini dimaknai sebagai merasuknya pengetahuan, keterampilan, dan berkelanjutan untuk generasi muda yang memiliki jiwa sebagai penerus seni, sejarah, dan kebudayaan Indonesia. Di tangan-tangan generasi mudalah tongkat estafet seni ini akan diserahkan kelak. 


Peserta Diskusi MTM 12 [Foto: Dok.MTM Salma Indria Rahman]
Besyukur, saya masih bisa ikut menyaksikan kembali untuk yang kedua kalinya di Meet The Makers ini. Sementara Meet The Makers telah melakukan helatan untuk yang ke-12 kalinya saat ini. Helatan Meet The Makers 12 kali ini bertempat di Nusa Gastronomy. Tepatnya di Jalan Kemang Raya 81. Berlangsung mulai 5-7 Oktober 2017 yang diikuti 14 artisan, yaitu Pekunden Pottery (Jakarta), Gerai Nusantara AMAN (Jakarta), Kanawida (Tangerang), Batik Rifaiyah (Batang), Brahma Tirta Sari (Yogyakarta), Marenggo Natural Dyes (Yogyakarta), Wiru (Yogyakarta), LAWE (Yogyakarta), Omah Batik Sekar Turi (Sleman), Borneo Chic (Kalimantan), Cinta Bumi (Bali-Sulawesi), Tafean Pah (NTT), Tenun Molo Bife (NTT) dan Savu (NTT).

Hasil karya mereka punya nilai seni masing-masing dan tak bisa disamakan. Begitu pun cerita di baliknya. Ada proses panjang yang mereka lalui untuk sampai pada tahap seperti sekarang ini. Ketekunan, kesabaran, dan keterampilan khusus menjadikan mereka terampil di bidangnya. Kearifan penggunaan bahan mereka junjung tinggi.  Tak hanya mencipta, tetapi bahan-bahan ramah lingkungan dan berkelanjutan yang dapat memberikan nilai ekonomi tersendiri juga kepada khalayak. 

Di tengah-tengah MTM ini pun hadir Red Lotus. RL menjadi komunitas aktif tempat berkumpul artisan, pengrajin, & desainer yang didedikasikan untuk menciptakan kerajinan sebagai benda seni handmade dalam paduan estetika dan fungsi. RL sangat mendukung kegiatan MTM ini juga mendorong dan menampilkan kerajinan seni yang menghubungkan langsung ke publik. RL inilah yang menjadi penggerak untuk MTM. 

Seperti yang sebelumnya saya lihat, MTM selalu menghadirkan pengrajin dan seniman yang menjaga tradisi kearifan lokal beragam karya, seperti kain tenun, tas anyaman, batik, syal, selendang, dan beragam interior. Ya, pameran ini tak sebatas pameran, tetapi sebagai pemahaman secara utuh dan mendalam untuk kerajinan seni nusantara dalam menumbuhkan kecintaan terhadap produk lokal. Keberlanjutan MTM berkat kerja keras dan kerja sama individu juga organisasi, seperti Brahma Tirta Sari, Pekunden Keramik, dan Borneo Chic.


Bapak Ellias Yesaya (Berpakaian khas) Bamboo Music Maker (Foto: DokMTM Salma Indria Rahman]
Oya, ketika saya berkunjung ke sana, saya melihat beragam alat musik dari bambu yang dibuat secara cerdas oleh Pak Ellias Yesaya. Pak Ellias Yesaya sebagai music maker berasal dari Krayan, Kalimantan Utara. Beliau juga mengajarkan kepada orang-orang bagaimana membuat alat musik dari bamboo sebagai instrument Dayak Lundayeh.

Nah, alat musik bambu itu pun bisa dikolaborasi dengan alat musik lainnya. Ketika kunjungan itu pula, saya menyaksikan musik bambu, dan suling yang dikolaborasi dengan gitar. 

Para peserta mencoba alat musik bambu [Foto: DokPri]

Pak Ellias dengan Musik Bambunya [Foto: DokPri]
Mengalun nada dari buluh perindu Pak Ellias Yesaya. Aah sungguh syahdu. Sukses untuk Meet The Makers, sukses untuk seluruh artisan. Nah, untuk yang  ingin berkunjung, masih ada kesempatan lho teman-teman hingga hari ini. Siapa lagi yang mencintai budaya tanah air ini kalau bukan kita.


Friday, October 6, 2017

Moonella, Popularitasnya Mengalahkan Selebritis Tanah Air


Orang tua mana yang tak sayang sama anak. Apalagi, anak yang diperoleh penuh perjuangan untuk hadir di hiruk pikuk dunia. Ditambah lagi, setelah lahir, talenta si anak semakin terlihat. Tentunya, makin cinta dan tambah sayang.
Ya, anak yang terlahir di tengah-tengah kita menjadi satu anugerah tersendiri. 

Launching Buku Moonella, Halequin Bistro Kemang [Foto: DokPri]
Ada banyak hal tak terduga ketika si buah hati yang idam-idamkan itu lahir ke dunia. Dulu, rumah yang sepi kini kembali ramai dan ceria dengan penuh tangisan dan canda tawa kedua orang tua.

Saat tumbuh kembangnya dalam penuh perhatian kedua orang tuanya, itu saat-saat paling indah. Apalagai mendengar celoteh pertamanya keluar dari mulut. Saat itu bahagia yang muncul. Artinya, si buah hati bisa berkata-kata.
Nah, apalagi yang terlahir dengan anugerah penuh bakat. Ini menjadi semacam vitamin baru bagi kedua orang tua. Vitamin baru penyemangat dan penghibur dalam kehidupan.

Contoh nyata adalah salah satu balita selebgram Moonella Sunshine Jo atau lebih dikenal dengan @babymoonella. Terlahir dengan wajah imut pipi mirip bakpao yang bikin orang gemas melihatnya. 


 
Moonella dan Adik [Foto: Dok IG @babymoonella]
Terlahir bukan dari keluarga artis atau sejenisnya, tapi nama Munel, biasa Moonella disapa, menjadi buah bibir di jagad maya Indonesia. Bagaimana tidak, kedua orang tua Munel, begitu perhatian dengan putrinya tersebut.
Apapun bentuk aktivitas Munnel, diunggah ke Instagram, tentunya yang lucu dan menggemaskan. Hal ini semakin membuat netizen penasaran, bagaimana aslinya Munel yang sebenarnya.

Buku Moonella [Foto: DokPri]
Nah, Kamis (5/10/2017) kita BloggerCrony ada Kak Kania, Ka Reni, Kak Ana, dan Kak Mira, gembira bersama launching bukunya Moonella di Harleuqin Bistro. Diundang untuk bertemu langsung sama selebgram cilik Munel di itu rasanya sesuatu banget. Bisa melihat aksi Munel dan teman-teman Instagram Fans-nya langsung dan bahagia bersama.

BCC KiKa: Kak Mira, Kak Reni, Kak Ana, dan Kak Kania bersama anak-anak tercinta [Foto: DokPri]


Di kesempatan itu, ternyata Munel, melalui orang tuanya buat buku dan sekaligus launching bukunya Munel, judulnya “Hello! Moonella”.
Jadi, buku yang dibuat itu semuanya bahan-bahannya diambil dari digitalnya Moonella alias IG @babymoonella. Isinya tentang kegiatan Moonella juga ada aktivitas di bukunya.

Bukunya lucu dan penuh warna. Aktivitasnya yang ada di buku Moonella seperti mewarnai, bisa untuk ditempel foto, belajar menulis, catatan untuk orang tua, pelan-pelan belajar membaca, potty  training, waktu tidur, dan masih banyak lagi permainan dan penjelasan di buku Munel itu. 

Buku Munel intinya menarik. Anak-anak seusia Munel tentu senang melihat buku yang banyak warna juga disertai permainan. Hadirnya buku Moonella itu juga tak lepas dari dukungan follower Munel.

Ibunda Munel menjelaskan, bahwa awalnya hanya sebatas diary digital saja. Tapi, lama kelamaan, banyak permintaan untuk dibuatkan cerita dalam bentuk buku tentang aktivitas Moonella, jadilah buku “Hello! Moonella ini.”

Nah, akun instagram @babymoonella itu dibuat, ketika Moonella masih berusia sekitar 10 bulan. Followernya pun masih sedikit. Tetapi, perlahan-lahan, follower Munel bertambah saat menginjak usia satu tahun. Dari situlah, orang tuanya mulai banyak mendapat tawaran untuk endorse. Bermula dari perlengkapan bayi juga aksesori. Ke depan-depannya, ternyata ada juga produk orang dewasa yang ingin di-endorse oleh kedua orang tuanya. 

Alhasil, ini menurut saya “Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”. Ya, anaknya diendorse, ternyata ada peluang juga untuk kedua orang tuanya mendapat endorse. Tentunya dengan produk yang disesuaikan.

Kini, followers @babymoonella mencapai 862K. Itu merupakan pencapaian followers yang sangat fantastis dari seorang Munel di usia yang masih batita. Padahal, akun itu hanya sebagai akun IG murni tentang Moonella dan tak sama sekali diperuntukkan sebagai akun “komersil”.

 
Instagram @babymoonella [Foto: Dok IG @babymoonella]
Tetapi, rezeki memang dapat datang kapan dan di mana saja. Kita tidak tahu. Moonella tumbuh menjadi gadis cantik dan menggemaskan. Saat saya melihatnya, dia begitu lincah, berani bicara di hadapan puluhan penggemarnya saat launching bukunya. Munel juga pernah diundang di beberapa acara TV swasta nasional.

Peluncuran buku Hello! Moonella [Foto: DokPri]
Oya, saat launching bukunya itu, teman-temannya diajak untuk mewarnai lho. Nah, Monella akan memilih warna yang menurutnya paling bagus. Asyik nih ternyata, diundang launching buku Moonella, bisa ikut mewarnai, dan juga foto-foto sama Munel. Tetapi, Munel hanyalah seorang gadis kecil yang tak paham bahwa dirinya kini menjadi tenar. Dia seperti anak-anak kecil kebanyakan, manja, suka berceloteh, dan terkadang rewel. 

Selamat ya Moonella untuk bukunya yang sudah terbit. Selamat juga Ayah dan Bunda dengan Moonella cantik, pintar, dan enerjiknya. Ya, Moonella menjadi aset kedua orang tuanya yang bakal mengharumkan nama keluarga. Popularitasnyanya mengalahkan seleb tanah air. Selamat!





Thursday, October 5, 2017

Aman Berkendara Bersama Michelin Safety (Driving) Academy



Perjalanan akan terasa menyenangkan apabila segala sesuatunya sudah dipersiapkan. Keadaan aman pun akan senantiasa menghampiri kita. Jika kondisi kendaraan sudah diperiksa dan dibawa ke ahlinya, tentunya menempuh jarak jauh dan berkendara tidak perlu waswas.

Michelin sebagai produsen ban [Foto: Dok http://www.bojanglesmuseum.com/]
Selain itu, pengetahuan pengemudi terhadap seluk beluk jalan sudah sangat dikuasai. Terutama tanda-tanda dan marka jalan. Tahun, kapan harus belok kanan maupun kiri, memberi lampu sein, memberi lampu dim, juga tahu kapan harus membunyikan klakson pendek dan klakson panjang.

Berkendara di malam dan siang hari pun terama aman. Semua ditunjang oleh pengetahuan, keahlian, dan siap siaganya seorang pengemudi. Pengemudii yang baik adalah orang  yang mengerti tata tertib lalu lintas di jalan raya. Dalam keadaan bagaimana seorang pengemudi harus menggunakan refleksnya, dia mesti paham benar.

Jika seorang pengemudi sudah tertib berlalu lintas, tentunya itu menjadi cerminan seorang yang punya budaya di jalan raya. Negara tempat dia tinggal pun tentunya Negara yang tertib dengan peraturan, patuh, taat, dan disiplin dengan segala macam bentuk peraturan di jalan. Peraturan ada bukan untuk dilanggar, tetapi untuk dijalankan agar tidak melanggar.

Banyak kejadian kecelakaan di jalan raya akibat ketidaktahuan dan ketidakmengertian seorang pengemudi dengan tata tertib di jalan raya. Akibat ugal-ugalan mengendarai kendaraan pun menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Intinya, jika mau aman dan nyaman berkendara di jalan raya, patuhi, terapkan, disiplin berkendara, kunci aman sampai di tujuan. Berharap, kita semua berlaku disiplin dan tertib berlalu lintas.

Sebagaimana kita ketahui, di Indonesia kecelakaan yang terjadi di jalan raya rata-rata dialami anak-anak remaja usia 15-24 tahun. Kejadian yang sama pun dialami oleh orang-orang yang berkendara di jalan raya tanpa Surat Izin Mengemudi dengan sekitar 8.700 kejadian. 

Berdasarkan hal itulah, pada hari ini, Rabu(4/10/2017) Michelin, IMI, Korlantas RI, dan Kementerian Perhubungan memberikan pembelajaran kesadaran dan keamanan berkendara di kalangan pelajar SMA yang sudah cukup umur untuk memperoleh SIM. 

Kalau kita lihat, 1,25 juta orang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Korban yang meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut berada di kisaran umur 15-29 tahun.  Dan tiga dari empat orang yang mengalami kecelakaan tersebut meninggal dunia.

Disayangkan pula, 60% kematian  karena kecelakaan lalu lintas itu tadi terjadi di negara-negara dengan tingkat penghasilan rendah dan menengah.
Data kecelakaan yang terajadi selama tahun 2016 menurut Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI, bahwa jumlah kecelakaan sebanyak 108.374, meninggal dunia berjumlah 25.495, dan luka-luka sebesar 143. 852. 

Setiap harinya, di Indonesia, 70-71 orang atau 2-3 orang setiap jam tidak pulang ke rumah karena meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas.
Jika kita lihat data dan fakta di Indonesia, jumlah kecelakaan lalu lintas berdasarkan usia korban tertinggi di usia produktif, 16-30 tahun. Sedangkan kalau dilihat dari tingkat pendidikan, korban tertinggi ada di SMA & SMP. 

Ki-Ka: Frederick Mueller III; Hindro Surahmat; Aldo Siahaan, dan Dodi Irawan [Foto: DokPri]
Seperti yang dikatakan Bapak AKBP Aldo Siahaan, S.IK., Kepala Kasi  Kemitraan Subdit Dikmas Ditkamsel Korlantas RI, “Pengendara pemula rentan terhadap pelanggaran lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas kalau mereka tidak dikenalkan bagaimana etika berkendara yang baik dan benar. Atau mereka tidak memahami peraturan lalu lintas.

Dalam hal ini, Korlantas RI sangat mendukung program kemitraan  yang dijalin antara Korlantas RI dan Michelin. Hal ini sebagai upaya dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya, utamanya pelajar SMA. 

“Banyak kasus kecelakaan bermula dari pelanggaran lalu lintas. Michelin Safety Academy menjadi pintu gerbang yang sangat cocok dengan program Korlantas yang punya tujuan menanamkan nilai-nilai budaya keutamaan keamanan, keselamatan, dan ketertiban berkendara di jalan raya untuk generasi muda  Indonesia,” lanjut AKBP Aldo.

Program ini juga mendapat dukungan dari Federasi Otomotif Internasional (FIA). FIA sebagai organisasi otomotif global yang mendukung mobilitas orang dan barang. Tentunya secara aman dan berkelanjutan. FIA, di Indonesia diwakili oleh IMI (Ikatan Motor Indonesia).

Di MSA ini juga peserta juga akan mendapat informasi seputar persiapan dasar rutin yang dilakukan sebelum berkendara. Contoh cek tekanan angina ban dan kelengkapan kendaraan lainnya. Program edukasi MSA ini akan dilangsungkan di Pusdik Lantas Polri Serpong, Tangerang pada 7 dan 14 Oktober 2017. Instruktur dari IMI Jakarta akan melatih murid dan demo teknik mengerem , cara belok di tikungan tajam benar dan aman.

Presdir Michelin Indonesia, Fredrick Mueller III [Foto: DokPri]
“Satu kebanggaan dapat berpartisipasi mendukung penanaman budaya berkendara aman untuk generasi muda . MSA sebagai perwujudan fokus perusahaan di Indonesia, Perfection in Safety berdasarkan tiga pilar, keamanan melalui edukasi berkelanjutan untuk berkendara aman, inovasi  produk dan pelayanan, juga dukunga purna jual”, ucap Frederick Mueller III, selaku Presdir Michelin Indonesia. 

Frederick menambahkan, “Komitmen Michelin  mendukung pergerakan manusia dan barang  secara lebih mudah dan keamanan di jalan raya  sebagai hal penting strategi perusahaan. Juga sebagai usaha untuk menciptakan ban aman dengan program edukasi ini. Michelin berusaha mencetak  pengendara muda agar menjadi pengendara bertanggung jawab.”

Ki-Ka: MotoMobi; Diandra Gautama; & Fitra Eri [Foto: DokPri]
Dalam kesempatan itu pula hadir pembalap muda Fitra Eri sebagai pembalap rofesional dan jurnalis otomotif, Diandra Gautama pembalap wanita untuk lokal, dan MotoMobi, pengulas otomotif yang jadi seleb via medsos. Ketiga akan menjadi pelatih pula.

Sementara itu, IMI dalam hal ini diwakili Sekjen IMI Pusat, Bapak Dodi Irawan, menyampaikan bahwa  jalan di kota besar yang banyak dipadati  jutaan kendaraan setiap hari, kalau anak pengemudi muda tidak dibekali dengan pengetahuan yang memadai akan menyulitkan mereka. Adanya pelatih dapat memberi inspirasi ke murid dengan cara profesional.

Dalam sesi tanya jawab [Foto: DokPri]

Sejalan dengan itu, Dirjen Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan, Bapak Hindro Surahmat, ATD, MSi, (Plt), berucap, “Pengguna jalan punya hak dan kewajiban. Murid-murid sangat penting menyadarinya. Michelin sudah membantu pemerintah melalui MSA (Michelin Safety Academy) untuk mempromosikan budaya berkendara yang aman dan berharap ada program ini di tahun berikutnya.”

Output program yang dibuat Michelin ini adalah bagaimana nantinya para generasi muda dilatih berkendara yang baik dan benar dengan memperhatikan faktor keselamatan, selanjutnya akan dilakukan ujian untuk mendapatkan SIM A dan C secara resmi pada 14 Oktober 2017 di Satpas CIM, Daan Mogot, Jakarta Barat. 

Michelin, ini merupakan gelaran keempat dengan menambah jumlah siswa yang ikut dan memperluas area. Michelin ini tak berhenti berinovasi menciptakan ban. Berkendara aman semua dimulai dari ban. Oleh karenanya, Michelin memberikan ban-ban dengan kualitas terbaik di kelasnya untuk keselamatan dan keamanan berkendara. Jadi, selalu mawas diri dan waspada saat berkendara, menjadi faktor utama keselamatan. Selamat berkendara!



Wednesday, October 4, 2017

Philips Lighting & UNICEF Berbagi untuk Anak Negeri




Generasi penerus bangsa ini sudah semestinya memperoleh  pendidikan yang layak. Tak hanya dimonopoli sekelompok orang. Ke mana arah dan tujuan pendidikan nasional yang sudah dicanang bertahun-tahun lalu?  Apakah hanya sebatas simbolisasi agar terlihat “ada” saja?

Lihatlah semangat mereka [Foto: Dok http://www.fuelrunning.com]
Seperti laporan Education Public Expenditure Review, dalam rilis Bank Dunia di 2013 mengatakan, bahwa anggaran fungsi pendidikan Indonesia sebesar 20% dari APBN belum efektif meningkatakan kualitas pendidikan tanah air. 

Akan tetapi, ada hal baik terjadi peningkatan belanja publik untuk bidang pendidikan yang sudah memperluas akses pendidikan dan meningkatkan angka partisipasi sekolah di kalangan siswa miskin, meski hal itu hanya berlansung di pendidikan dasar, seperti SD dan SMP.

Pada amandemen Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 , ada muncul amandemen ke-4, yaitu:
(4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Bagaimana anggaran pendidikan dapat mengkover semua anak-anak di Indonesia? Sementara, banyak dari mereka putus sekolah dan keberlanjutan mereka untuk mengenyam pendidikan mesti berjalan.

Ya, benturan ekonomi menjadi salah satu pemicu banyaknya anak-anak Indonesia yang putus sekolah. Orang tua yang tak mampu menyekolahkan  anak-anaknya minimal batas sekolah menengah atas. Ekonomi keluarga yang tak menentu itu tadi menjadi “penghambat” jalannya anak-anak Indonesia yang ingin maju.

Tingkat pendapatan rendah sebagai momok orang tua yang akhirnya mengharuskan anak-anak mereka putus sekolah. Lantas bekerja membantu orang tuanya, baik di sawah, kebun, menjadi buruh pabrik, bahkan semir  sepatu, dan ngamen di jalan.

Miris memang, anak-anak di usianya yang mestinya sekolah, mengenyam pendidikan, bermain, dan bersenda gurau. Justru terpaksa bekerja sedari muda, membanting tulang, demi keluarga, hingga harus putus sekolah.
Upaya-upaya yang dilakukan beragam pihak pun telah dilakukan untuk mengurangi beban biaya pendidikan yang makin membludak. Tetapi, memang sedikit yang masih berhasil untuk dientaskan.

Anak-anak yang putus sekolah masih banyak di beberapa daerah, sebut saja Brebes, Mamuju, dan Bondowoso. Peran pemerintah daerah mungkin juga tak bisa diabaikan begitu saja. Bisa jadi, telah berusaha semaksimal mungkin membantu biaya anak-anak yang putus sekolah, tetapi belum tercapai kata maksimal.

Melalui Philips LightingLighting, Philip mengajak seluruh konsumennya mendukung program UNICEF “Kembali ke Sekolah” Melalui Kampanye Terangi Masa Depan. Bertempat di Avec Moi, Jalan Teluk Betung, pada Selasa (2/10/2017) Philips Lightingdan Unicef berbagi untuk anak-anak negeri putus sekolah untuk kembali ke sekolah.

Penandatanganan Kerjasama Philips Lighting & UNICEF [Foto: DokPri]
Ini menjadi satu terobosan lagi untuk Philips Lightingdalam mendukung program yang dibuat UNICEF untuk anak-anak bangsa di daerah yang putus sekolah. Sudah selayaknya, anak-anak Indonesia yang putus sekolah kembali dapat bersekolah.

Pendidikan itu menjadi investasi masa depan yang tak akan pernah habis dan lekang di makan zaman. Kecuali jika kita sudah meninggalkan dunia. Selesai tugas kita sampai di sini. Pendidikan menjadi motor penggerak kemajuan bangsa. 
Terbangunnya jalinan kerjasama Philips Lighting & UNICEF [Foto: DokPri]
Saya meyakini, bahwa anak-anak Indonesia sebagai anak-anak yang cerdas dan bertalenta. Hanya saja, kendala keuangan keluarga menjadi penghalang mereka mengenyam pendidikan lebih tinggi dan jauh ke depan menggapai harapan.

Tak bisa dipungkiri, dana-dana pendidikan di Indonesia terkadang tak tersalurkan  secara merata hingga pelosok nusantara. Di satu sisi, pemerintah menganggarkan 20% dibilang cukup, mesti dicukup-cukupkan. Jadi, terkadang timbul dalam pikiran saya, apakah hanya orang-orang kaya yang bisa bersekolah tinggi?

Bagaimana dengan nasib anak-anak yang orang tua mereka masuk dalam kelas bawah? Jangankan untuk sekolah, untuk kebutuhan sehari-hari masih harus banting tulang dari pagi hingga petang. Di sinilah dapat terlihat. Mereka yang putus sekolah sebenarnya anak-anak cerdas dan pintar. Karena kebutuhan primer keluarga yang tak mencukupi, maka salah satu ada  yang dikorbankan.

Menilik hal inilah, Philips LightingLighting  dan UNICEF maju untuk menghalau anak-anak negeri yang putus sekolah untuk dapat kembali ke sekolah. Philips LightingLighting berusaha mengumpulkan dana dari hasil penjualan paket Philips LightingLED khusus dengan logo UNICEF mulai Oktober 2017 hingga Maret 2018.

Beli 3 gratis 1 membantu untuk membantu anak negeri [Foto: DokPri]
Target yang ingin dicapai sekitar dua miliar rupiah dana dapat dikumpulkan. Uang tersebut nantinya akan digunakan untuk meneruskan pendanaan program UNICEF “Kembali ke Sekolah” yang berada di Kabupaten Brebes (Jawa Tengah), Mamuju (Sulawesi Barat), dan diperluas ke Bone dan Takalar (Sulawesi Selatan). Hal ini untuk membantu lebih kurang lima ribu anak usia sekolah mendaftar ulang atau mendaftar pertama kalinya untuk tetap dapat bersekolah.

Dipilihnya kabupaten Brebes dan Mamuju bukan tanpa alasan. Di Brebes, angka anak putus sekolah sangat tinggi. Rata-rata, anak-anak yang putus sekolah tersebut membantu orang tuanya bekerja. Dari mereka ada yang menjadi petani, berkebun, penarik becak, bahkan nelayan. Pun di Mamuju. 

Lauren Rumble, Deputy Representative UNICEF Indonesia [Foto: DokPri]
“Ternyata, ada sekitar 4,6 juta lebih anak Indonesia tidak punya kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Philips LightingLighting program “Kembali ke Sekolah” akan membantu UNICEF untuk menyediakan akses pendidikan berkualitas kepada anak-anak, nantinya akan meningkatkan peluang mereka terbebas dari kemiskinan, mendapat pekerjaan, sehat, dan berpartisipasi penuh kepada masyarakat untuk masa depan. Sektor swasta dapat membuat  perubahan nyata dalam kehidupan anak-anak” ucap Lauren Rumble, selaku Deputy Representatitve UNICEF Indonesia.

Memasuki millennium ketiga, sudah seharusnya pendidikan di Negara ini menjadi semakin baik, bukannya mundur. Dengan banyaknya anak-anak putus sekolah, justru dapat menjadi indikasi adanya kemunduran pendidikan di tanah air. 

Indonesia mesti mampu bersaing dengan negara-negara lain. Indonesia tidak berdiri sendiri, tetapi ada di tengah-tengah Negara lain yang siap menerkam jika tidak waspada terhadap sumber daya manusianya. 

Ya, tantangan dalam dunia pendidikan bukan tantangan satu dua pihak saja, tetapi banyak pihak. Dengan melakukan kerjasama, justru akan dapat menjembatani perbedaan yang terjadi. Kolaborasi lintas sector antara Philips Lighting dan UNICEF menjadi bukti nyata komitmen Philips Lighting untuk mendukung pendidikan di Indonesia.

Komitmen Philips Lighting untuk mengumpulkan dana dua miliar, dua kali lipat komitmennya pada tahun sebelumnya, dengan menyisihkan dua ribu rupiah dari penjualan setiap paket khusus lampu LED, “Beli 3 gratis 1” dengan tanda UNICEF.

Kontribusi besar Philips Lighting dalam program UNICEF untuk membantu anak-anak usia sekolah yang belum atau putus sekolah dapat kembali menikmati sekolah. Bermitra dengan UNICEF menjadi satu bagian penting dalam memajukan pendidikan anak-anak tersebut.

Rami Hajjar, Country Leader Philips Lighting Indonesia [Foto: DokPri]
Rami Hajjar selaku Country Leader Philips Lighting Indonesia pun menuturkan, “Di Philips Lighting, kami percaya dapat meningkatkan  kesejahteraan masyarakat  melalui inovasi dan kontribusi sosial kami kepada masyarakat. Tantangan pendidikan yang dihadapi anak-anak Indonesia menjadi tanggung jawab semua. Kerjasama lintas sektoral, seperti kemitraan kami dengan UNICEF, akan memastikan bahwa Philips Lighting Indonesia tetap berkomitmen untuk mendukung pendidikan di Indonesia.”

Ya, siapapun itu, tentunya punya harapan besar untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Philips pun berharap, dengan kemitraan bersama UNICEF dapat menjadi inspirasi untuk konsumennya, tidak hanya melalui produk-produk Philips LED saja, tetapi dapat mendorong konsumen untuk berbagi demi kehidupan yang lebih cerah dan dunia yang lebih baik.

Mau dibawa ke mana pendidikan Negara ini? Tak dapat dipungkiri, bahwa pendidikan menjadi tiang utama  untuk menghasilkan sumber daya manusia yang utuh dan menyeluruh. Itu utamanya untuk pembangunan bangsa ini.

Teman-teman, ayo kita sekolah. Semngaaat!!! [Foto: Dok https://image1.masterfile.com]